Perempuan Bisa Betap Berdiri Tegak Meski Dilanda Badai Prahara Kehidupan

Fimela diperbarui 24 Agu 2018, 10:15 WIB

Bercerai dengan tiga anak bukanlah hal mudah. Tapi seorang perempuan bisa memiliki kekuatan yang sangat besar untuk kembali bangkit. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Membuat sebuah pengorbanan jelas bukan hal yang mudah tapi selalu ada jalan terbaik untuk setiap pilihan.

***

Hidup ideal adalah impian semua orang. Kaya, karier cemerlang, pasangan yang baik, anak-anak yang cantik/tampan dan lucu, rumah tangga yang harmonis, orangtua yang selalu mendukung, berprestasi, dll. Namun, ternyata tak selamanya hidup sesuai dengan ekspektasi dan harapan kita.

Kadangkala keindahan-keindahan itu justru berubah menjelma menjadi kisah-kisah pedih dan pilu. Ketika takdir telah menjadi bagian dari hidup, lantas apa bisa kita mengelak? Tidak, kita hanya bisa menyikapinya dengan tegar, kuat serta senantiasa bersabar. Selalu berpikir positif dan tetap berprasangka baik pada Tuhan akan memberi energi dalam menjalani hidup. Life must go on, tak peduli seperti apa dan bagaimana keadaan kita.



Perpisahan itu tak dapat kuhindari. Aku harus menerima kenyataan, bahwa memang inilah jalan yang terbaik untuk rumah tanggaku. Sebagai manusia biasa, kesedihan dan kepedihan sempat menyelimuti hari-hariku. Aku juga pernah mengalami apa yang namanya terpuruk. Terpuruk dalam realita yang tak seindah bayangku.

Namun, satu hal yang masih kusyukuri, yaitu ketika aku merasa Tuhan begitu dekat denganku. Benar-benar kupegang erat keberadaan-Nya, kusebut tanpa henti nama-Nya, hingga aku bisa melewati masa-masa keterpurukanku tanpa tragedi yang berarti.

Aku berusaha selalu menguatkan diri, bahwa perempuan bukan makhluk yang lemah, bahwa perempuan bisa tetap berdiri tegak meski sedang dilanda badai dan prahara kehidupan. Beruntung, aku memiliki malaikat-malaikat kecil, ketiga anakku, yang begitu luar biasa memberi semangat kepadaku. Aku tahu, mereka begitu terpukul dengan perpisahan kedua orangtuanya, tapi Tuhan sudah menganugerahi hati yang hebat pada mereka, sehingga mereka begitu ikhlas menerima semua kenyataan, tanpa mengeluh, tanpa memprotes Tuhan, tanpa menyalahkan siapapun dan tanpa menghakimi diri mereka sendiri. Untuk keikhlasan ini, aku banyak belajar dan sungguh berterimakasih pada mereka.



Sekali lagi, life must go on! Aku mematutkan diri bahwa aku tak pantas untuk terus dikuasai kesedihan. Aku harus bangkit. Aku harus membungkam kepedihan dengan prestasi yang kuukir. Bagaimanapun, ada orang-orang yang masih membutuhkanku, dan aku takkan mengecewakan mereka semua.

Perlahan namun pasti, aku bangkit keluar dari prahara rumah tangga. Aku bekerja keras membanting tulang untuk menjemput rezeki demi anak-anak dan orang-orang yang aku sayangi. Aku mulai menyusun strategi untuk meraih kesuksesan karier.

Sebagai seorang abdi negara, maka kuabdikan diriku untuk berupaya menciptakan inovasi di dalam pekerjaan. Hingga akhirnya, selang tak lama, aku pun berhasil menapaki jenjang karier dan dilantik sebagai seorang pejabat dengan penuh rasa haru dan linangan air mata syukur. Semua ini karena kuasa Tuhan melalui tengadah tangan dan berdoa tanpa henti dan dukungan penuh dari lelaki baik, yang sanggup menerimaku dengan segala kekurangan dan kisah kelamku, yang kini begitu tulus menjadi suamiku.

Di sisi lain, kegemaranku menulis mengantarku pada peraihan prestasi di bidang menulis. Aku berhasil meraih juara menulis esai tingkat kabupaten dan bersalaman dengan bapak Bupati, aku juga menjadi pemenang kompetisi menulis kategori blogger dan menjadi wakil Sumatera Utara di ajang Asian Games 2018 yang diadakan oleh Kemenkominfo dan diikuti oleh para penulis se-Indonesia dan dapat bersua secara langsung dengan Menteri Komunikasi dan Informasi, Bapak Rudiantara.



Dengan berbagai aktivitasku, aku bisa membiayai sekolah ketiga anakku, aku sanggup memenuhi segala kebutuhan hidup tanpa berkekurangan, dan aku mampu mempersembahkan talenta yang kumiliki dan menorehkan prestasi yang membanggakan keluargaku.

Sungguh, jika engkau bertanya, “Tidak lelah kah?” Maka akan kujawab, “Sangat lelah.” “Tidak stres kah?” Kujawab, “Luar biasa beban pikiran.”

Tapi, inilah yang kusebut pengorbanan dan perjuangan seorang perempuan. Ketika banyak yang menganggapnya lemah, ternyata justru perempuan lah yang memiliki kekuatan besar. Ketika banyak yang underestimate, justru aku menjawabnya dengan prestasi.

Terima kasih Tuhan atas perjalanan kehidupanku. Aku percaya dengan kuasa-Mu, tidak ada satu pun pemberian-Mu yang sia-sia dan aku yakin Engkau tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Mu. Aku bersyukur atas segalanya. Aku kuat dan aku pasti bisa!





(vem/nda)