Jika Terus Bertahan dalam Kenyamanan, Lama-Lama Jiwa Kita Akan Mati

Fimela diperbarui 30 Agu 2018, 14:30 WIB

“Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” – Imam Asy-syafi’i

Dari sinilah semua berawal, aku begitu mengagumi kata-kata mutiara dari imam Asy-syafi’i beliau adalah seorang mufti besar sunni islam dan pendiri mazhab syafi’i. Aku begitu bersemangat saat ibu dan ayahku mengizinkan untuk pergi merantau, aku memang seorang perempuan, yang katanya tak perlu bersusah-susah mencari ilmu, toh akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga saja. Benarkah? Seyakin itukah orang yang mengatakannya, tanpa tahu sampai kapan kita akan berada di bumi. Kalaupun tidak, bukankah anak-anak kita juga membutuhkan ibu yang pandai untuk mendidik mereka?

Aku memang pergi merantau bukan untuk kuliah, dengan keyakinan bahwa pelajaran tidak melulu didapat dari sekolah dan kampus. Pengalaman juga berharga untuk kehidupan kita, setidaknya kita memiliki kisah untuk dikenang, sebagai cerita untuk anak cucu. Aku ingin melakukan banyak hal baru, menemui orang-orang baru, merasakan jatuh dan terluka, mencari cara untuk bangkit kembali. Menemukan tempat baru, juga mengerti banyak hal tentang dunia. Menjejakkan kaki di tanah yang berbeda, mendengarkan cerita-cerita baru, juga menemukan hal baru yang bisa kukerjakan. Dan mengerti alasan mengapa aku hidup.

“Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)” . – Iman Asy-syafi’i

Meninggalkan semua kenyamanan yang kita miliki saat ini memanglah tidak mudah, berat, teramat berat. Namun apakah kita akan terus berdiam diri, berhenti hanya pada satu titik saja. Kau yakin tidak ingin melihat dunia luar yang begitu hebat, dan lebih mengagumkan. Apa kau rela hidupmu kau habiskan di kampung halaman saja, tanpa pernah mengerti seberapa luas dunia yang Allah ciptakan untuk kita? Pergilah merantau, carilah ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin, jika memang sudah dirasa cukup, kembalilah ke kampung halaman, bagikan ilmu dan pengalamanmu di sana, buatlah perubahan.

Sedikit cerita, aku pergi merantau untuk pertama kali di umurku yang ke-18, aku datang jauh dari kota kecil Purworejo ke Tangerang. Kau tahu berapa uang yang kubawa saat aku berangkat? Aku hanya membawa Rp250 ribu, bayangkan apa yang kalian dapat dari uang Rp250 ribu? Berapa lama kita bisa bertahan di kota besar dengan uang segitu? Tapi tak apa, bukankah semua hal yang kita inginkan harus kita perjuangkan?

Seberapa tangguh aku menghadapi semua ini, aku korbankan kenyamanan yang ibu dan ayahku tawarkan. Aku bisa saja tinggal di rumah, dan ayahku akan memberi uang untuk harianku, tapi aku tidak akan tumbuh, aku tidak akan menjadi manusia jika terus berada dalam kenyamanan.

Aku bukan orang kaya tentunya, mana ada orang kaya pergi merantau dengan uang Rp250 ribu, itu konyol sekali. Tapi aku adalah anak bungsu, dan perempuan pula, kata orang anak bungsu itu harus tinggal di rumah dan menemani orangtua. Bukan aku tak ingin menemani mereka di hari tua, hanya saja aku teramat sayang dengan kedua orangtuaku, maka dari itu aku ingin membahagiakan mereka dengan kerja kerasku, menyiapkan hari tua yang menyenangkan untuk mereka, atau membawa mereka ke tanah suci (Mekah).

Satu bulan di kota orang, belum juga ada panggilan kerja untukku. Aku mengirimkan lamaran ke beberapa PT yang berbeda, juga mengirimkan lamaran melalui email, dan pengalaman yang tak terlupakan saat aku mencari pekerjaan adalah saat aku mengikuti jobfair di Mall Metropolis Tangerang. Itu adalah kali pertama aku pergi sendiri (maksudku tanpa kerabat dekat) di tengah kota besar, aku berangkat jam 6 pagi tanpa sarapan menggunakan grab car, dengan 3 kenalan baruku.

Seharusnya jam 8 aku sudah sampai, tapi karena kemacetan aku akhirnya sampai di sana sekitar pukul 10, dan apa yang kudapati, aku harus berdiri mengantre, berdesakan untuk masuk, dengan sisa-sisa tenaga setelah kemacetan, juga lapar, haus, panas, ah... semua bercampur jadi satu, tapi aku menikmati lelah itu.

Aku bisa bertemu dengan lebih banyak orang, juga tahu bermacam tabiat manusia. Sikap, sifat, attitude, gaya, dan bahkan cara bicara mereka begitu menarik untuk diamati. Aku suka menerka dan menganalisa, lalu membuat cerita dari khayalanku, itulah mengapa hal baru begitu menarik untukku, semacam riset untuk menuangkan imajinasi. Sekitar jam 1 siang aku baru keluar, setelah merasakan sulitnya mencari pekerjaan.

Badanku memang sudah payah waktu itu, tapi  aku pulang dengan rasa bangga. Kenapa? Karena setidaknya aku sudah menyelesaikan bagianku, berjuang. Setelah itu biarkan kuasa Allah yang mengambil alih.

Itu belum ada apa-apanya, perjalananku baru saja dimulai. Aku masih harus berjuang lebih keras lagi. Aku tahu, akan ada lebih banyak hal yang akan kukorbankan nantinya. Tapi aku sudah bertekad, akan terus berjuang, walaupun nanti harus menangis, dan terseok-seok, apapun itu asal aku tidak berhenti berjuang. Aku ingin mengubah banyak hal, aku perlu ilmu dan pengalaman lebih banyak pastinya.  Hm seperti itulah.

“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.” – Imam Asy-syafi’i

Yap, begitulah perumpamannya. Jika kita terus berada dalam kenyamanan, lama-lama jiwa kita akan mati, malas melakukan banyak hal, dan tentu saja kita tidak berkembang pikiran kita hanya tentang itu-itu saja, pengalama kita? Ya hanya sekitaran saja. Merantaulah, cobalah tantangan-tantangan baru, cobalah untuk merasakan gagal, sakit, juga sedih sendiri.

Belajarlah bangkit tanpa bantuan orang lain. Lakukanlah hal-hal baru, bertemanlah dengan beragam manusia dari belahan bumi, kau akan sadar, bahwa pengetahuan yang kau miliki selama ini tidaklah ada apa-apanya. Dan kau akan tahu masih ada dunia luar yang mengasyikkan. Jangan sia-siakan hidupmu, lihatlah dunia, dan buatlah cerita yang bisa kau bagikan, dan terus abadi meski kita tak lagi di sini.

(vem/nda)