Bolak-Balik Dijodohkan Tapi Kalau Belum Sreg di Hati, Mau Gimana Lagi?

Fimela diperbarui 08 Sep 2018, 10:15 WIB

Awalnya ini terjadi ketika saya lulus SMK, dia adalah anak laki-laki satu-satunya. Keluarganya termasuk keluarga yang dibilang cukup, ibunya sangat menyukai saya, hingga akhirnya selalu mencoba menjodohkan saya dengan anaknya. Saat itu situasinya sedang lebaran, dan keluarganya bersilaturahmi ke rumah saya, namun saya biasa saja. Saya benar-benar tidak mau dijodohkan dengannya, walaupun dirinya seorang polisi yang sudah mapan, padahal masih muda.

Hanya saja dia terlalu manja, apa-apa mengadu ke ibunya, anak mami sekali. Hal ini pula yang saya sampaikan kepada ibu saya yang membuat ibu saya mengerti dan tak menggubris soal perjodohan itu. Beberapa tahun kemudian dia menikah dengan seorang wanita yang cantik dan mandiri. Syukurlah, jodohnya sungguh lebih baik dariku.



Kemudian orangtua saya ingin menjodohkan saya dengan seorang lelaki yang sedang menempuh S2 di UIN Jakarta, lelaki ini asal Sulawesi Utara dan tinggal di kab. Bolaang Mongondow Utara, dia adalah keponakan dari guru mengaji ibu saya, namun tidak ada yang terjadi, tidak ada tindak lanjut. Hanya sekadar omongan saja, lagian pada saat itu dia sudah memiliki seorang kekasih (pacar). Hingga akhirnya dia lulus S2 di UIN Jakarta dan kembali ke Bolaang Mongondow, dan memutuskan menikah dengan wanita yang sudah lama dia pacari, dan itu juga alasan saya menolak untuk dijodohkan pada waktu itu, dan ibu saya mengerti.

Setelah itu ibu saya bertanya, “Sebenarnya kriteria yang kamu inginkan itu seperti apa?” Sungguh jika pertanyaan ini mampir, yang di kepala saya hanya satu. Saya hanya ingin seorang suami seorang dokter, yang baik agamanya. Namun saya tahu bahwa kriteria selalu bertolak belakang dengan apa yang Tuhan rencanakan. Tuhan lebih tahu mana yang kita butuhkan, namun ibu saya tetap berusaha mencarikan seorang dokter untuk dijodohkan dengan saya.

Dia adalah seorang anak lelaki dari teman ibu saya, dia sedang menjalani masa akhir koasnya, sebentar lagi dia akan menjadi dokter. Dia adalah lelaki yang sangat pintar, namun agamanya kurang, hobinya hanya bermain video game dari pagi hingga petang, seperti cerminan diri saya sendiri, hingga saya begitu takut jika berjodoh dengannya. Sikapnya sungguh kekanak kanakan, bahkan dia lebih pendek dari saya. Soal wajahnya jangan ditanya, dia dari gen yang bisa dibilang tampan. Entah karena apa, walaupun dia ada di dalam kriteria saya, namun saya tidak ingin menikah dengannya. Inilah yang saya maksud, “Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan," saya pun akhirnya memutuskan tak ingin menikah dengannya, saat itu ibu saya mengerti, mungkin melihat sikapnya yang seperti itu makanya ibu tak berkata apa-apa waktu saya menolak.



Butuh waktu yang cukup lama untuk ibu saya menjodohkan saya lagi, karena saya juga memberi alasan bahwa saya masih ingin menamatkan kuliah S2 saya. Hingga pada suatu hari ibu bicara lagi. Ibu mengatakan bahwa ada seorang kakek kenalannya yang anaknya sedang berkuliah di Bandung ingin menjodohkan anaknya dengan saya dan saya hanya menanggapi dengan cuek saja.

Ibu saya juga mengatakan bahwa mereka adalah orang mampu, perkebunan mereka dimana-mana, pertambangan juga ada, dan lain-lain. Namun, saya hanya mendengarkan saja, seiring berjalannya waktu ibu saya sudah tak membicarakan tentangnya lagi, dan kemudian saya baru tahu bahwa tante saya tidak setuju jika saya dijodohkan dengan lelaki itu. Walaupun dia dari keluarga yang mampu, namun masa lalunya yang pernah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang wanita membuat keluarga saya tak ingin saya dijodohkan dengannya, dan tanggapan saya? “Ah, syukurlah."

Waktu terus berjalan, ibu masih berusaha menjodohkan saya dengan sosok yang dianggap baik baginya. Namun cukup lama baginya menemukan sosok-sosok itu. Ibu menawarkan seorang guru, menawarkan staf di kantornya, menawarkan anak kader partai dan lain-lain yang aku lupa siapa saja yang ibu sebutkan itu. Ibu bahkan sering menawarkan saya di depan umum, dan itu memalukan, sungguh!

Namun di antara semua yang ditawarkan ibu, tak ada yang benar-benar ditindak lanjuti lebih oleh ibu saya, dan walau saya menolak ibu tak pernah mengatakan apa-apa. Hingga akhirnya tiba seorang teman ibu berbicara kepadanya ingin menjodohkan keponakannya dengan saya. Dia anak satu-satunya juga, agamanya baik, baik juga terhadap orangtuanya, dan dia sudah mapan, dia seorang hakim, namun... rasanya perasaan yang aneh itu datang lagi.

Rasa yang membuat saya merasa saya bukanlah sosok yang diperuntukkan untuk dirinya, apalagi saya tidak suka dengan seseorang dengan pekerjaan hakim, pengacara, polisi, dan lain-lain yang berhubungan dengan hukum, dan hal ini yang membuat ibu saya marah besar, katanya saya terlalu pemilih, sok kecantikan, jual mahal, dan lain-lain. Ibu bahkan tak mau bicara dengan saya.



Terakhir dia bicara hanya membuat dada saya sesak, ibu berkata, “Tidak ada orangtua yang ingin anaknya bertemu dengan sosok yang salah, bila kamu begini terus, maka sosok seperti apa yang kamu inginkan?” Hal ini yang membuat saya berpikir sangat jauh, menikah bukanlah sesuatu yang mudah untuk saya, hal ini mengubah segalanya di hidup saya. Saya akan hidup dengan seseorang seumur hidup saya, dan harus mengabdikan diri saya terhadapnya. Surga saya akan ada jika berbakti padanya, ini yang membuat saya selalu tidak siap dengan segala hal yang akan terjadi nantinya. Ini yang membuat saya takut untuk mengenal calon-calon yang ibu kenalkan pada saya.

Perkataan dan pertanyaan ibu inilah yang membuat saya akhirnya bicara pada ibu, “Ibu, baiklah, aku akan mencoba mengenal seseorang yang akan ibu jodohkan denganku, bila menurut ibu dia adalah lelaki yang baik, maka aku akan coba mengenalnya, siapapun itu, apapun pekerjaannya, jika sosoknya baik, aku akan mencoba." Inilah saat diri ini memberanikan diri dengan perjodohan.

(vem/nda)
What's On Fimela