Terikat Janji dengan Ibu Mertua Sebelum Menikah Membuatku Serba Salah

Fimela diperbarui 18 Sep 2018, 11:15 WIB

Aku seorang ibu rumah tangga dan bekerja sebagai abdi negara, yaitu guru PNS di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Pati. Ceritaku bermula ketika aku hendak dipersunting oleh suamiku. Sebelum menikah, aku sudah diangkat sebagai PNS sedangkan suamiku bekerja di bidang pemberdayaan masyarakat. Ibu mertuaku dulu mensyaratkan sesuatu sebelum kami menikah. Beliau menginginkan aku untuk membangun rumah di Kudus, yang notabene adalah kota kelahiran suamiku. Hal tersebut memang kusetujui. Namun, kontrak awal pegawai baru bisa mengajukan mutasi jika masa kerja minimal 8 tahun. Ibu mertua pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, apalagi suamiku.

Waktu pun terus berjalan. Kami menikah dengan menjalani LDR. Aku masih ikut orangtuaku karena penempatanku memang di Pati. Suamiku berpindah-pindah penempatan kerja dari Kudus ke Rembang. Ketika suamiku mutasi ke Rembang, kami sudah dikaruniai seorang putra yang ganteng. Jalan pikiran kami berdua pun berubah. Kami memutuskan untuk membeli rumah di tengah-tengah antara Pati, Kudus, dan Rembang. Sebuah rumah kecil di perumahan pun kami beli pada tahun 2013. Keinginan untuk mutasi sedikit sirna, dan kebetulan ibu mertua pun tak pernah menanyakan. Mungkin beliau berpikir kalau sekarang suamiku bekerja di Rembang.



Aku dan suamiku pergi bekerja nglajo. Aku ke arah Tayu bersama anakku, sedangkan suami ke arah Rembang. Keadaan tersebut kulalui hampir setahun yang sebelumnya kami lalui dengan LDR. Keadaan mulai berubah ketika aku hamil anak kedua. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya suami menitipkanku ke orangtuaku lagi.

Suamiku merasa kasihan jika aku menempuh perjalanan hampir satu jam dengan kondisi hamil. Akhirnya, putri kami lahir. Rumah kami pun jarang kutempati karena kesulitan mencari pengasuh anak-anak. Anak sulungku sekarang sudah SD dan putri kecilku diasuh di rumah ibuku. Kebetulan pengasuhnya tidak mau kuajak ke Pati. Jadi, kembali kami memutuskan untuk tinggal bersama orang tuaku. Suamiku pun pulang seminggu sekali. Rumah kami tempati di hari Sabtu dan Minggu.



Melihat kondisi yang kembali LDR, akhirnya ibu mertuaku kerap menanyakan kapan aku mutasi. Tiap main ke Kudus, beliau selalu bertanya kapan membangun rumah di Kudus dan pindah kerja di sana. Keadaan tersebut membuatku dan suami galau. Posisiku di sekolah sekarang adalah wakil kepala sekolah. Kepala sekolahku tidak mengizinkanku untuk mutasi. Suamiku sebetulnya menyerahkan semua keputusan di tanganku. Karena terikat janji dengan ibu mertua sebelum menikahlah yang membuatku serba salah.



Akhirnya, kuputuskan untuk mutasi. Namun, kapan waktu yang tepat untuk mutasi belum bisa aku jawab. Toh, memang suamiku sekarang belum bisa mutasi kembali ke Kudus. Namun, kami tetap berjanji untuk mutasi. Jadi, agar kami tak terlalu merasa bersalah, tolong stop tanya kapan mutasi.







(vem/nda)