Kehilangan Memang Menyakitkan, Tetapi Kenangan Indah Akan Selalu Menguatkan

Fimela diperbarui 29 Sep 2018, 10:45 WIB

Kini baru aku tahu, kehilangan bisa semenyakitkan ini. Seakan tubuhku hampa, jiwaku kosong, seakan separuh darinya hilang. Ayah, saat menulis ini aku bertanya-tanya sedang apa ayah di sana?

Tak pernah kusangka ayah akan meninggalkan kami, meninggalkan dunia ini begitu cepat. Padahal banyak hal yang ingin kulakukan bersama ayah. Banyak mimpi yang ingin kupersembahkan untuk ayah. Sungguh, masa-masa dengan ayah mengapa cepat berlalu. Semuanya telah berbeda.

Dulu saat aku mengucapkan kata “ayah” terdapat kemanjaan di dalamnya, seolah kuperlihatkan pada semua orang bahwa aku punya ayah yang akan selalu melindungiku, menjadi pembela terbesarku, dan satu-satunya orang yang takkan pernah menyakiti hatiku. Namun waktu telah mengubahnya. Kini saat aku mengucapkan kata “ayah”, di dalam ceritaku, di dalam pembicaraan ringanku dengan teman-teman, aku merasa harus menjadi perempuan yang tangguh, karena tiada lagi pembelaku di dunia ini, tiada lagi pahlawanku yang selalu mengorbankan harta, jiwa dan raga hanya untuk hidupku.   

Tak pernah kulihat ayah selemas itu, dan sepucat itu. Aku baru saja pulang dari Bali, tempatku merantau mencari ilmu. Melihatku di ambang pintu beliau langsung memelukku, erat, semakin erat seolah ingin memelukku lama. Mungkin itulah pelukan terakhir ayah. Ya ternyata itu menjadi pelukan terakhir ayah.

Aku yang baru datang, merasa lelah dan kesal dengan sopir bus yang mengantarku segera melepas pelukan itu. Selanjutnya aku menceritakan perjalananku pulang dengan nada kesal dan menangis. Ayah langsung membelaku, nampak jelas kemarahan beliau pada sopir bus dan travel yang tak bertanggung jawab itu. Ya beliau memang pembelaku, pembela terbesar dan terhebat sepanjang hidupku. Ayahku semakin kurus karena sudah tiga bulan ini badan beliau lemas, demam tak kunjung usai, berobat kesana kemari tanpa hasil yang memuaskan, semua dokter memvonisnya tifus. Namun berapa puluh kapsul pengobat tifus tak mampu menurunkan demam yang ada di badan ayah.

Bulan puasa ini aku mendapati ayah menjadi sesorang yang sensitif, mudah tersinggung, dan menitikkan air mata. Mungkin perasaan ayah tak karuan, beliau tak tega melihat perekonomian keluarga yang sempoyongan karena beliau tidak dapat bekerja seperti biasanya, karena hanya ayahlah tumpuan hidup kami. Terkadang ayah tetap memaksakan untuk bekerja, namun tubuhnya langsung berontak. Tiba-tiba tubuh beliau menggigil, demam, dan keluar keringat dingin. Setelah sakit selama empat bulan, 13 Juli 2017 saat ulang tahun adikku, beliau meninggalkan dunia ini.

Ayah adalah segalanya bagiku. Banyak kutuliskan dalam buku impianku, cita-cita untuk memuliakan beliau, memperlakukan beliau layaknya raja. Masih kuingat dengan baik saat ayah memboncengku dengan sepeda lama keluaran tahun 90an di zaman modern ini. Malu tak lagi dihiraukan lagi, membuat kami bisa melihat gegap gempita perayaan 17 Agustus itulah yang beliau inginkan.

Ayah selalu membuat keadaan rumah stabil. Takut-takut kami menyampaikan kebutuhan sekolah, dan jumlah yang dibayarkan, tetapi jawabannya selalu sederhana, “Siap komandan, laporan selesai,” dengan nada seperti seorang tentara. Hal itu sontak membuatku kami tertawa dan merasa lega, karena ayah menganggap itu hanya masalah kecil. Ayah selalu menasihati kami secara tersirat ataupun langsung. Salah satunya beliau mengajarkan bahwa semua yang kita inginkan itu ada waktunya. Walaupun kita sudah berusaha keras, tapi masalah hasil hanya Tuhan yang tahu.

Ayah, walaupun ayah sudah tiada di hadapan kami, tapi ayah selalu hidup di hati kami. Lewat ilmu dan nasihat yang ayah berikan, kami selalu merasa tetap tumbuh bersama ayah. Terima kasih atas 19 tahun yang istimewa. Semoga ayah ditempatkan bersama orang-orang yang mulia, amin.  

 

 

 

(vem/nda)
What's On Fimela