Terkadang, Watak Anak Perempuan Sulung Sangat Mirip dengan Ayahnya

Fimela diperbarui 01 Okt 2018, 11:30 WIB

Ayahku bukan tipe orang yang bisa jadi tempat curhatku semua permasalahanku dari a – z. Aku tidak biasa bermanja-manjaan pada beliau. Aku tidak biasa mengolah suatu topik menjadi suatu obrolan yang sangat renyah saat kami dan keluarga kumpul di ruang tamu. Benar, kami hanya berbicara secukupnya saja. Intinya saja. Bahkan untuk urusan meminta biaya untuk SPP dan lainnya aku biasa minta ke ibuku, yang jika kalian ingin tahu uang itu diolah bersama oleh orangtuaku. Aku memang sedikit mengerti perekonomian keluargaku.

Pada awalnya aku merasa aneh, mengapa bisa seorang ayah dan anak sekaku ini. Padahal hubungan komunikasi yang intens sangatlah penting di kehidupan sehari-hari. Aku bicara jujur di sini, keluarga kami baik-baik saja, antar anggota keluarga sangat jarang bertengkar, saling menasihati juga tetap jalan walau itu sangat singkat dan padat. Dugaanku, mungkin karena watak alami ayahku, dia tipe orang yang cuek sekaligus perhatian secara bersamaan. Perhatian dengan cara yang cuek, perhatiannya diam-diam. Ya, seperti itulah kira-kira. Mungkin juga karena aku adalah anak perempuan pertamanya, setahuku, watak anak perempuan pertama mirip dengan watak ayahnya. Alhasil begini, tipe cuek perhatian dibalas degan tipe cuek perhatian. He he he.



Perihal agama, bersyukurnya aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sadar akan pentingnya agama. Saling menjaga salat lima waku. Mengaji selepas maghrib, hingga aku duduk di SMK-pun aku rutin mengaji di rumah, yang notabene anak-anak yang kulihat zaman sekarang ogah-ogahan dalam mengaji. Kupikir ini adalah salah satu bentuk sayangnya orangtuaku, terutama ayahku yang berandil besar dalam menumbuhkan atmosfer damai ini.

Sewaktu aku kecil kata ibu, ayahku sangat bahagia sekali saat aku sudah fasih menghafalkan surat-surat pendek Al-Quran dan Rukun Islam. Kebiasaan itu memang tumbuh dari kecil, bahkan televisi yang kami lihat saat azan berkumandang harus dimatikan segera, saat aku masih kecil alasannya, “Awas nanti ada setan ke sini” setelah aku tumbuh dewasa aku mengerti maksudnya, mematikan TV untuk segera melaksanakan salat berjamaah.



Sekarang untuk sementara waktu aku di Solo. Menuntut ilmu di sebuah universitas di Solo. Kurang lebih 148 km jarak antara Solo dan tempat lahirku, Kebumen. Dengan jarak yang sejauh itu pula aku berpisah dengan orangtuaku. Hal ini menyadarkanku bahwa rasa sayang dari ayah bisa menembus jarak berapapun. Atmosfer yang ayah bangun pada diriku, tetap aku terapkan di kehidupanku. Bagiku itu adalah hal teromantis pemeberian ayah.

Suara kumandang azan di Solo terkadang membuatku ingat betapa hangatnya salat berjamaah bersama ayah. Jauh membuat aku rindu, walau jumpa terkadang rancu.




(vem/nda)
What's On Fimela