Ayah, Kudoakan Kau Bahagia dengan Keluarga Barumu

Fimela Editor diperbarui 13 Jul 2021, 22:09 WIB

Tinta pena yang setiap hari aku bubuhkan di secarik kertas menjadi saksi bisu betapa aku merindukan sosok lelaki perkasa yang biasa mereka panggil dengan sebutan “ayah”. Namun bagi gadis malang sepertiku, kata itu hanyalah sebuah lambang dari kata asing dan rindu. Asing karena aku tak pernah mampu merasakan hangat kasih seperti yang selalu mereka gambarkan dan rindu karena aku teramat ingin menjadi gadis beruntung seperti yang lainnya. Katanya laki-laki yang tak akan pernah menyakiti seorang anak perempuan adalah ayahnya, tapi kenapa hingga detik ini pria yang paling sering membuatku menangis adalah ayah? Menangis karena hingga detik ini aku belum mampu menemukan jawaban mengapa ayah tega meninggalkan aku.

Aku sempat berpikir mungkin 15 tahun lalu, ketika aku masih berusia 4 tahun aku pernah melukai hatinya, membuat dia kesal dengan sikap manjaku atau mungkin aku pernah mengganggunya dengan suara tangisku. Lalu apa karena hal itu ayah menghukumku dengan tak pernah lagi mau bertemu dan berbicara padaku. Ayah... aku sungguh-sungguh minta maaf, ampuni aku ayah, aku janji tidak akan bandel lagi dan tak akan ganggu ayah lagi. Aku butuh ayah untuk melindungiku, aku butuh ayah untuk membimbingku, aku butuh dekapanmu, ayah.Aku teringat di halaman ke-149 catatanku, aku menuliskan bahwa aku akan tumbuh menjadi wanita tangguh meski tanpa pengawasanmu. Di halaman itu aku juga menuliskan bahwa aku berjanji akan mengubur semua ambisiku untuk bertemu kamu. Tapi ayah harus tahu, semua itu tak akan benar-benar bisa aku lakukan. Karena aku hanyalah gadis kecilmu yang lemah yang masih sangat butuh bimbingan darimu.

Sejak kepergianmu, aku bahkan tak memiliki satu pun potret wajahmu. Lalu dengan apa aku bisa mengobati rindu yang setiap hari menyayat hatiku? Bayangan wajahmu kini semakin memudar di memori otakku, aku terkadang tak mampu mendeskripsikan bagaimana tampannya ayah ketika 15 tahun lalu terakhir aku tatap. Aku khawatir ayah, ketika suatu saat tak sengaja kita berpapasan di jalan sementara aku tak mampu mengenalimu lagi, begitu juga ayah yang mungkin sudah lupa gadisnya sudah beranjak dewasa. Kini aku benar-benar merasa menjadi gadis paling malang, di saat ayah yang seharusnya menjadi cinta pertamaku harus pergi tanpa pernah mau menengokku lagi. Ayah... kini aku tak pernah bisa percaya kalau cinta sejati itu ada saat ayah dengan kejam mengubur mimpi gadis kecil ayah 15 tahun lalu. Berbahagialah ayah dengan keluarga baru ayah, aku akan coba meredam rinduku. Namun ketika kelak ayah tak punya tempat untuk pulang, datanglah padaku karena sampai kapanpun aku adalah gadismu. Salam hangat,Gadis Perindu

(vem/nda)

What's On Fimela