Risiko Jatuh Cinta adalah Putus Cinta, Benarkah Begitu?

Fimela diperbarui 03 Okt 2018, 13:45 WIB

Merasakan putus cinta memang risiko dalam bercinta. Harus membiasakan sendiri (lagi) dalam keseharian. Sebagian orang ada yang mudah untuk membuka hatinya kembali dengan cepat untuk orang yang baru. Berbeda dengan aku, bagaimana bisa setelah menjalin hubungan lebih kurang 6 tahun lalu dengan mudahnya membuka hati untuk orang lain? Pikirku saat itu tak lagi percaya pada lelaki.

Sudah aku bulatkan tekad untuk fokus dengan karier lebih dulu, tak terpikirkan untuk menjalin hubungan kembali dengan lelaki, tak siap untuk merasakan sakit yang bertubi-tubi. Aku sebut bertubi-tubi karenanya ialah kami sudah memiliki rencana untuk masa depan, dan dalam tahun dekat ini dia akan memintaku kepada si Mama dan Papa. Hubungan kandas di tengah jalan, seketika aku kehilangan kesadaranku, aku terus melamun, diajak bicara tidak nyambung. Aku hapus semua yang berhubungan tentang dia.

Saat kejadian itu, aku sudah memilki teman chatting di Facebook. Bermula dari si dia yang tiba-tiba masuk dalam deretan messenger teratas. Paling orang iseng, pikirku. Karena penasaran, kali aja penting. Aku buka pesannya. Sementara pesan yang ingin aku buka masih memproses, muncul pemberitahuan di ponselku, undangan pertemanan dari BBM, namanya Muhammad Labib.



Aku tidak asing dengan namanya, seperti pernah melihat, tapi di mana ya, aku lupa. Aku tutup aplikasi BBM, belum aku acc. Kembali ke aplikasi messenger, sudah terbuka pesannya, isinya hanya minta pin BBM. Ah biasa. Aku tutup aplikasi tersebut, eh tapi kok ada yang ganjil ya, sebentar sebentar. Aku buka lagi messenger, dan ya! Nama yang sama dengan undangan pertemanan yang baru masuk di BBM-ku. Sekali lagi, Muhammad Labib. Aneh nggak sih, dia sudah kirim undangan pertemanan padahal messenger dia belum aku balas? Aku berbalas pesan, alasannya adalah dia dapat pin aku dari kolom komentar. Aku sangat berterimakasih dengan si pencuri pin itu, berkatnya aku tidak tledor membiarkan pinku menjadi bahan iseng orang di luar sana. Tapi sebal juga, kenapa dia harus curi pinku dari kolom komentar, harusnya kan minta dulu. Nggak sopan.

Kegiatan berbalas pesan semakin intens, semakin merajalela ke semua media sosialku. Dulu, aku balasnya hanya semauku. Tapi dia sudah pajang-pajang fotoku. Lelaki pada umumya menarik hati perempuan memang seperti itu, agar si target senang. Maaf ya, tidak denganku.

Memiliki perbedaan umur yang terpaut hanya dua tahun, tentu aku lebih muda. Dia sedang menjalan S1 dan menginjak semester 5. Sudah berjalan setahun tapi belum juga bertemu. Saat itu libur semester, belum juga ada rencana untuk menemuiku, padahal aku selalu kasih kode. Sempat ingin bertemu di awal perkenalan, tapi aku tolak. Kok cepet banget pikirku, ah takut diculik, kan lagi zaman.



Sempat lagi, dia menjanjikan untuk bertemu di Kota Tua, aku iyakan. Kebiasaanku adalah tidur siang, dan kebetulan kami janjian siang hari, kasihan kalau aku tolak lagi. Katanya, sedang ada job untuk pemotretan, dia sambilan sebagai tukang foto untuk pernikahan hehe. Jadi, pulangnya ngajak ketemuan. Aku yakin, aku pasti bisa tidak tidur siang untuk hari ini. Ponsel di tangan, nada pemberitahuan dinyalakan, alarm sudah disetel, sayang sangat sayang aku tetap tertidur pulas sampai bangun sangat sore. Aku cek ponsel, deretan pesan sudah memenuhi layar, isi yang sama dengan pertanyaan ‘km dmn?, aku di Kotu’ dan berakhir ‘yaudah deh aku pulang ya’. Kasihan.

Keinginan kami terkabul. Bulan Ramadan tahun 2017, resmi buka puasa bersama di sebuah tempat makan. Oh ya, dia tinggal di Rangkasbitung, kebetulan memang, berasal dari wilayah yang sama dengan yang sebelumnya. Saat itu, aku grogi, pokoknya harus cantik.

Kesan pertama adalah senang. Selanjutnya aku bahagia bersamanya. Aku rasa, kami adalah orang yang sangat cocok. Aku yang kalu bicara tidak bisa pelan, yang kasar dan dipertemukan dengannya yang lembut, kalau aku bicara keras ataupun kasar dia tempelkan jari telunjuknya ke bibir sebagai tanda, "Sayang, pelanin suaranya," atau, "Udah ya, sayang." Dia yang serba hati-hati bertemu aku yang serba sembarangan. Dia yang saat kumpul dengan keluarga atau teman-temanku selalu nyambung. Yang menurutnya adalah kebahagiaanku adalah segalanya.



Begitu dengan ucapannya yang selalu aku anggap omong kosong adalah dia yang selalu membuktikan dengan menjemputku ke kampus saat aku sedang sakit, dia yang maksa bantu ngerjain tugas walau aku sudah teriak marah untuk bilang jangan, dia yang selalu membuatku bahagia hanya dengan meladeniku berbicara dan tiba-tiba sudah jauh di ujung dunia, pembicaraannya. Dia yang siap kapanpun aku butuh.

Kami bukan budak cinta, tujuan menjalin hubungan ialah saling membahagiakan dan saling melengkapi, maka itu bahagiakan dan lengkapilah hubungannya. Kepada kamu, si pencuri hati yang saat ini berhasil membuatku jatuh cinta, rela jatuh setiap hari dan setiap waktu, semoga apa yang telah kita rencanakan segera terwujud. Amin. Tak aku pungkiri hal yang sama terjadi lagi, risiko jatuh cinta adalah putus cinta, tapi untuk ini biarkan aku jatuh cinta selamanya dengan dia, Muhammad Labib.

(vem/nda)