Maaf, Aku Tak Ingin Memilikimu Bila Ternyata Aku Pacar Keduamu

Fimela diperbarui 13 Okt 2018, 10:00 WIB

Ini kisahku yang begitu rumit aku jalani, tetapi di dalam suatu cerita kehidupan pasti akan selalu ada hikmahnya. Dahulu saat aku masih SMA, aku mengenal cowok yang menurut aku dia sempurna. Bagaimana tidak, dia cowok yang kalem, baik, perawakannya juga ganteng, dan perhatian. Lambat laun, aku mulai mengetahui tentang identitasnya. Mulai dari tempat tinggalnya, tempat dia sekolah, dan siapa orang tuanya. Bayangkan, betapa senangnya aku mengetahui identitasnya.

Pagi itu, saat aku mau berangkat sekolah tidak aku sangka cowok itu ada di pinggir jalan. Sepertinya dia sedang menunggu bus, biasalah pada zaman itu belum banyak yang mempunyai sepeda motor. Hatiku dag dig dug tak karuan, seperti mau copot saat melihatnya. Dia sekolah di Betal, Nguntoronadi beda jalur dengan aku, kalau aku arah Tirtomoyo.

Tetapi, tak disangka lagi, bus yang aku tumpangi berhenti di depannya untuk menunggu penumpang lain. Tidak lama kemudian ada seorang cewek naik ke bus yang aku tumpangi sekarang. Cewek itu adalah adik kelasku. Meskipun kami beda satu tingkat, tetapi kami begitu akrab berteman. Lalu aku cerita, tentang cowok yang aku suka itu, dan ternyata adik kelasku ini punya nomor HP cowok yang aku suka itu.

Melalui nomor HP yang aku minta dari adik kelasku itu, aku bisa berkomunikasi dengan cowok itu. Lama-lama aku nyaman dengan gurauan dan perhatiannya. Dan mungkin cowok itu juga penasaran dengan aku, hingga dia mencariku ke kampung tempat aku tinggal. Akhirnya kami bertemu, dan singkat cerita kita resmi pacaran waktu itu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pandangan pertama, dan baru kali ini aku merasakannya. Hubungan ini kami jalani sampai bertahun-tahun, lebih tepatnya mungkin sekitar 2 tahun.

Hari itu terdengar desas desus teman, sahabat, bahkan tetangga aku, yang menceritakan bahwa dia (pacar aku) masih mempunyai pacar sebelum berpacaran denganku. Hatiku bagaikan tersambar petir, begitu sakit bagai tersayat pisau, perih sekali rasanya mendengar itu semua. Saking penasarannya, aku berusaha mencari kebenaran itu sendiri, tapi hatiku sudah telanjur sayang dengan dia. Dan tidak akan sanggup menerima kenyataan, jika itu benar.

Akhirnya aku berpikir, apa mungkin dia memang sudah punya pacar, tapi kenapa dia tak jujur denganku waktu itu. Padahal aku tak mungkin akan mencintainya, jika dia masih pacar orang. Hatiku terasa begitu di lema.

Setiap hari Minggu, aku menyuruh dia untuk ke rumahku, tetapi pasti selalu banyak alasan. Dan dia ke rumahku dua minggu sekali. Mungkin begitu jadwalnya. Aku makin curiga. Aku terus berusaha mencari tau kebenarannya. Pada akhirnya aku mengetahui semua itu. Ternyata memang benar dia sudah  mempunyai pacar, sebelum kenal denganku. Pacarnya itu satu kampung dengannya, aku memberanikan diri untuk menemui cewek pacarnya pacarku itu dan mencari tahu yang sebenarnya terjadi.

Tidak disangka, ternyata aku nomor dua, sempat merasa disakiti, dan menyesal. Tapi di sisi lain aku kagum dengan cewek itu (pacar dia). Cewek itu rela diduakan oleh cowoknya. Aku bertanya dalam hatiku, pantaskah aku menyayangi dan mencintai pacar orang? Sedangkan pacar pertamanya saja ikhlas, asal cowoknya bahagia.

Setelah mengetahui semua itu, aku meminta pacarku untuk datang ke rumah dan menjelaskan atau memberi keputusan untukku. Ternyata dia memilih mempertahankan pacar pertamanya dan akan meninggalkanku. Dia memberi alasan mengapa dia memilih pacar pertamanya. Itu karena pacar pertamanya rela untuk diduakan asal cowoknya bahagia.

Waktu itu aku langsung menangis di depannya, sungguh air mata ini tak dapat kubendung. Orang yang aku sayang ternyata pacar orang lain, tetapi aku harus bisa melupakannya. Aku tak berhak sedikitpun memilikinya lagi. Aku tak mau merusak hubungan orang lain. Aku harus rela. Karena kalau dia bahagia, aku pasti juga bisa bahagia.

Aku termenung mengingat cewek yang menjadi pacar pertamanya, dalam hati aku bertanya,  “Mengapa cewek itu begitu rela mengorbankan perasaannya?” Begitu besar rasa cinta cewek itu sampai mau mengorbankan perasaannya, demi kebahagiaan cowoknya. Hatinya begitu besar, cintanya sungguh luar biasa. Dari cewek itu aku belajar, mungkin dengan melihatnya bahagia aku juga bisa bahagia.

Inilah kisah nyata yang aku alami, ternyata benar jika cinta tak harus memiliki. Dan kini dia telah bahagia sampai ke jenjang pernikahan dengan cewek itu. Akupun juga bahagia, dengan pilihan aku sekarang. Sakit hati u kini telah di obati oleh seseorang yang lebih baik dari dia. Cinta yang luar biasa dari cewek itu mengajarkanku untuk percaya dan setia.

Pesan dariku untuk kalian yang pernah sakit hati atau tersakiti, berusahalah untuk tenang dan sabar. Jangan langsung menyalahkan satu pihak saja. Lalu, tidak usah menyesali apa yang telah terjadi, karena memang itu bukan milikmu. Bangkit dan lihat indahnya dunia di luar sana. Aku yakin kalian pasti akan mendapatkan yang terbaik, apapun itu. Semangat!!

(vem/nda)
What's On Fimela