Melalui Lukisan, Pemuda Ini Bangkit dari Bipolar & Terus Mencetak Prestasi

Fimela diperbarui 13 Apr 2018, 09:00 WIB

Tak mudah berjuang dan berdamai dengan gangguan bipolar. Namun, selama seseorang memiliki niat kuat untuk melawan dan terus berjuang agar bisa berdamai dengannya, tidak ada kata mustahil untuk lepas dan melawan gangguan tersebut.

Inilah kisah seorang pemuda berusia 32 tahun yang akhirnya bisa berjuang dan melawan gangguan bipolar dalam dirinya. Septa Anggitayuda (32) adalah namanya. Tepat tahun 2012, ia didiagnosa menderita gangguan bipolar. Tak hanya itu saja, dokter juga mendiagnosanya dengan beberapa penyakit lain seperti gangguan panik (panic disorder), rasa takut dan cemas berlebihan.

"Diagnosis aku sebenarnya berubah-ubah. Aku pernah didiagnosis skizoafektif, gangguan mental kombinasi dan gangguan suasana hati. Aku mengalami gejala berupa psikoasis, tidak bisa mikir realistis, berhalusinasi dan delusi. Aku bahkan pernah mengaku sebagai Tuhan," ungkap pemuda yang kerap disapa Anggit ini melansir Liputan6.com.

Akibat kondisinya, pemuda yang merupakan lulusan Fakultas Seni Institut Teknologi Bandung (FS ITB) harus menjalani serangkaian perawatan di rumah sakit jiwa. Dokter yang memeriksanya mengungkapkan bahwa bipolar yang ia idap lebih terkait ke depresi. Selama setahun Anggit menjalani serangkaian perawatan, terapi dan pengobatan intensif di rumah sakit jiwa. 2013 ia baru boleh melakukan rawat jalan dan memperbaiki segalanya.

Meski telah melakukan serangkaian perawatan, Anggit masih harus minum obat dan kontrol kesehatannya di psikiater yang selama ini membantunya. Saking lamanya menderita bipolar ini, Anggit sempat berpikiran untuk mengakhiri hidup. Namun secara perlahan tapi pasti, semangatnya untuk sembuh dari gangguan bipolar muncul.

April 2017 niat kuat untuk sembuh dari gangguan bipolar dirasakan Anggit. Ia pun terus memotivasi dirinya dan kembali menekuni seni. Ia mulai menciptakan lukisan-lukisan menawan dan mengagumkan bertajuk paradepola. Lukisan karya Anggit umumnya memiliki unsur-unsur visual yang sulit dimaknai namun begitu menarik hati.

 

Dan tahun ini, lukisan karya-karyanya yang diberi judul #duapuluhempat ditampilkan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Berbeda dengan pelukis lain, yang kemungkinan besar melukis dari ide, lukisan Anggit justru dimulai tanpa ide. Saat melukis, ia asyik melukis berbagai pola secara bebas, mengalir begitu saja.

“Aku enggak bakal tahu, lukisan aku hasilnya kayak gimana. Itu enggak pernah dipikirin. Ya, pokoknya sambil jalan saja. Aku ini tipe pelukis, yang kalau sifatnya motorik. Gerak dulu (melukis), baru muncul ide. Bukan ide dulu, baru gerak,” lanjutnya.

Saat ini sendiri, lewat lukisan-lukisan yang dihasilkannya, Anggit mulai bisa mengontrol depresinya. Walau harus tetap minum obat dan kontrol ke psikiater dalam waktu sebulan sekali, pemuda ini mengaku bahwa perasaannya kini sudah lebih tenang, nyaman dan tidak mudah tersulut emosi.

Sumber: Liputan6.com

(vem/mim)