Memilih Sesuatu yang Ditentang Banyak Orang adalah Keputusan yang Berani

Fimela diperbarui 19 Apr 2018, 09:30 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Ada banyak hal yang terlintas di kepalaku jika kata “memilih” diucapkan. Memilih berarti memutuskan satu dari berbagai alternatif pilihan. Sebelum memilih kita pasti mempertimbangkan segala macam konsekuensi yang mungkin terjadi. Memilih merupakan suatu cara alami kita untuk menyelesaikan persoalan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak dituntut untuk memilih. Memilih mana baju yang akan dipakai untuk nge-date bersama pasangan di malam minggu, menentukan di mana kita akan menghabiskan waktu libur akhir tahun, atau bahkan untuk kasus yang lebih serius seperti menunjuk pria yang akan menjadi teman hidup. Begitu juga aku ketika dihadapkan pada keadaan untuk menentukan jurusan apa yang akan kujalani di bangku kuliah.



Masih jelas di ingatanku ketika guru bertanya apa cita-citaku, dengan gampang kujawab, “Mau jadi dokter, Bu." Siapa yang tidak tahu profesi dokter, pengacara, pilot, pekerjaan yang sudah punya nilai tersendiri di masyarakat? Calon-calon menantu idaman kata ibuku. Memasuki SMA, aku mulai menyadari bahwa ini bukan lagi soal gengsi belaka, jurusan yang kupilih nanti akan berpengaruh dengan kehidupanku ke depannya. Apakah jurusan bergengsi itu sesuai dengan minat dan kepribadianku? Bisakah aku memakai ilmu itu untuk kebaikan dan kesejahteraan sekitarku? Belum tentu.

Sampai pada satu titik aku memilih jurusan itu, Psikologi. Berbagai tentangan pun mulai berdatangan. “Itu belajarnya apa, Nak? Belajar Jiwa? Cari yang jelas-jelas aja lah, kamu kan anak IPA,” komentar keluargaku. Secara perlahan dan berulang kuberikan berbagai alasan hingga mereka mulai menerima. Selama menjalani pun, komentar negatif masih tetap kudengar. “Wuih jurusan paranormal, bisa baca pikiran dong.” “Wah, ngurusin orang gila yang jalan-jalan itu ya." Dan masih banyak wah-wih lainnya.



Dari Psikologi aku belajar untuk memahami. Memahami diriku sendiri sebelum menilai dan mengacak hidup orang lain. Termasuk di dalamnya untuk menahan diri agar tidak sembarang berkata-kata karena entah kenapa kata-kata dan label yang diberikan anak psikologi gampang sekali untuk dipercaya dan ditelan mentah-mentah oleh orang-orang. Dari sini juga aku belajar untuk menempatkan diriku di diri orang lain. Ada alasan kenapa orang begini, begitu, selalu ada sudut pandang lain ketika memandang suatu hal, karena semuanya kembali ke soal perspektif. Walau kadang masih susah mengontrol emosi negatif akibat celetukan sesaat, “Peluang kerjanya kecil dong," yang segera saja ingin kubalas, “Pak, Bu, selama ada manusia, di situ anak psikologi masih bisa kerja." Aku cukup menikmati perkuliahanku. IPK yang lumayan tinggi pun bisa kuperoleh.



Selama ini ilmu psikologi dan profesi psikolog masih dipandang sebelah mata. Bahkan posisinya seringkali diletakkan di bawah profesi dokter. Kesehatan mental dianggap tidak lebih penting daripada kesehatan fisik. Padahal WHO sendiri memprediksi pada tahun 2020 depresi akan menjadi penyakit kedua terbanyak di dunia. Bahkan seorang yang datang ke dokter dengan keluhan fisik belum tentu karena dia menderita penyakit, besar kemungkinan ia menderita psikosomatik (isu yang banyak dibahas si psikologi). Aku bangga menjadi seorang mahasiswa psikologi, dan aku yakin ilmu ini punya dampak besar bagi kehidupan manusia ke depannya. Besar harapanku bisa menjadi agen perubahan untuk memperbaiki kondisi dan kesejahteraan mental orang-orang di masyarakat.





(vem/nda)