Menikahlah Saat Memang Sudah Siap, Bukan karena Takut Kebalap

Fimela diperbarui 20 Apr 2018, 14:30 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Aku pernah melampauinya dan aku sedang menjalaninya. Menjalani rasa rindu akan pertanyaan-pertanyaan sederhana dari ibu, seperti “Apa kau sudah makan?” “Bagaimana pekerjaanmu?” atau “Kau sehat kan, Nak?” Itulah yang sedang aku perlukan. Ketika sepetak kamar kos dengan kawan yang tak begitu dekat karena kebanyakan dari mereka anak kuliahan yang sibuk mengerjakan tugas menjeruji kehidupanku sepulang bekerja.

Aku, seorang gadis yang memilih mencari rezeki jauh dari orang tua, mendadak begitu merindukan percakapan wajar yang jauh dari intimidasi dan segala bentuk kalimat mencecar. Sukses memperoleh gelar S2 dari perguruan tinggi swasta luar negeri dan mendapat pekerjaan dengan posisi mumpuni ternyata bukan sebuah prestasi yang bakal dibanggakan sepanjang masa oleh ibu.



Masuk pada usia dewasa nyaris 30 tahun, lajang dan belum punya rencana memperkenalkan pasangan nyatanya menjadi senjata ampuh mematikan mood harianku. Ditambah desakan menikah karena adik perempuanku telah memiliki pasangan pasti yang mapan dan dekat dengan segala kriteria ibu. 99, nilai untuk calon suami adikku. Ibu tegas menyatakan tidak ada kakak perempuan yang boleh dilangkahi menikah oleh adik perempuannya. “Ora elok,” ujar ibu yang semakin membuatku terhimpit dengan beban harus menikah sebelum adikku. Aku tak begitu peduli. Bahkan bila benar adikku ingin menikah duluan aku akan dengan senang hati mempersilakan.

Kemudian dia datang. Seorang pria yang dengan alot akhirnya mampu menyentuh egoku dan berhasil mengalihkan kegelisahanku. Pria yang belum jadi ‘seseorang’ namun semangat juangnya untuk merintis keberhasilan begitu nampak. Sayangnya ibu tak melihat dia seperti aku memandangnya. Ibu hanya tahu pria pilihanku jauh lebih muda, masih bocah dan belum mapan. Aku mulai sadar, ibu membandingkan dia dengan calon suami adikku, bahkan dengan para mantan kekasihku yang nyata lebih mapan dari pria pilihanku saat ini.



Aku senang pulang kampung selama masa perantauanku, tapi aku benci jika kepulanganku karena sesuatu yang kurang baik. Ibu sakit. Ada mium di rahimnya yang harus diangkat ditambah tumor sebesar bola pingpong yang tidak bisa terlalu lama berdiam di payudara kirinya. Aku mencoba ikut merasakan kesakitannya. Berharap keberadaanku di sampingnya akan sedikit mengalihkan rasa sakit yang teramat sangat.

Tapi entah kekuatan dan niat dari mana yang merasukinya, di tengah ketidakberdayaan ibu masih sempat menanyakan keyakinanku. Keyakinanku untuk terus berhubungan dengan pria yang lebih muda dan belum jadi siapa-siapa. Meski berkali-kali telah kuyakinkan bahwa pria dengan segala keterbatasanya itu sungguh mampu mengimbangiku. Terkejut? Tentu saja. Kepulanganku untuk membuat ibu tenang, namun ibu membuat dirinya sendiri berpikir keras. Ibu takut aku telat menikah. Ibu takut aku salah memilih pasangan, seperti yang sudah-sudah. Segala ketakutan ibu membuatku sejenak ragu akan langkah yang terlanjur kuambil. Sebesar itukah andilku sebagai penyumbang rasa sesak di dada ibu? Akankah aku jadi anak durhaka jika tetap pada pendirianku?



Hanya sedikit temaram lampu yang menemaniku berpikir malam itu. Membuat kamar kos yang tak seberapa seolah menjadi semakin menghimpit otak dan hatiku yang tengah bergumul. Aku hanya mampu berdoa, agar ibu lekas pulih dari segala sisa rasa sakit selepas operasi, agar ibu tak terus memaksaku segera menikah mengingat aku dan pasanganku juga sedang berjuang bersama.



Aku tidak akan menikah hanya semata untuk membuka jalan adikku menempuh jenjang hubungan yang serius. Aku bukan penghalang. Silakan melangkah karena jalan Tuhan bagi yang sungguh berupaya begitu lapang. Pada akhirnya, bukan aku tak peduli dengan usia yang semakin menua, bukan aku sengaja acuh dengan nasihat ibu yang penuh petuah. Tapi aku hidup untuk masa depanku. Bukan sekadar ego ibu yang mungkin malu anak gadis tertuanya dilangkahi menikah terlebih dahulu. Aku dan pasanganku akan menunjukkan bahwa kami bukan sekadar cinta sambil lalu.




(vem/nda)