Prioritas Berubah, Kulepas Karier Bergengsi demi Fokus Rawat Anak

Fimela diperbarui 23 Apr 2018, 11:30 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***
Ketika kecil, aku memiliki sebuah serial kartun favorit yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta setiap hari Minggu pagi. Bahkan karena aku sangat menyukai serial tersebut, aku sampai hafal lirik dari soundtrack-nya. Salah satu bait yang sangat membekas dalam ingatanku adalah kalimat, “Hidup ini adalah perjuangan." Dan mozaik perjalanan kehidupanku memang selalu dipenuhi oleh perjuangan.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga aku mendapatkan pekerjaan setamat kuliah, aku harus selalu berjuang karena kedua orangtuaku bukanlah tipe orangtua yang mau membantu anaknya ketika akan masuk ke sebuah institusi. Mereka selalu menanamkan bahwa kejujuran dan perjuangan adalah hal yang utama dan penolong terbaik kita bukanlah koneksi dengan manusia tetapi koneksi dengan Sang Pencipta.

Setamat kuliah, aku melamar ke sebuah perusahaan. Dari 2.000 pelamar, aku diterima sebagai satu-satunya perempuan di perusahaan pengelola karet alam tersebut. Setelah 1,5 tahun bekerja di sana, aku mengikuti tes di perusahaan lain yang kantor pusatnya berada di Jakarta. Setelah berbulan-bulan mengikuti tes, melalui tujuh tahapan tes, dari 10.000 lebih pelamar, aku pun diterima sebagai satu-satunya perempuan dari Pulau Sumatera di perusahaan pembangkit tenaga listrik dan merupakan salah satu anak perusahaan BUMN di Indonesia. Jika ada teman-temanku yang mengatakan bahwa mereka tak terlalu memikirkan pekerjaan ini, beda halnya denganku.


Aku benar-benar berjuang untuk mendapatkannya. Aku belajar dan berlatih hampir setiap hari. Dan sesuai sebuah kalimat bijak, bahwa hasil tak pernah mengkhianati proses, aku pun memetik hasil dari perjuanganku tersebut. Bukannya tanpa alasan aku harus berjuang keras. Sebagai anak dari daerah, mental yang kumiliki tentu berbeda dengan mereka yang berasal dari kota besar. Sehingga mau tak mau, aku harus berjuang jauh lebih keras dari mereka.

Memasuki tahun keempat di perusahaan tersebut, aku dikaruniai kehamilan setelah satu setengah tahun pernikahanku. Di sini, dilema mulai muncul. Naluri keibuanku mengambil alih semua rencana-rencana karirku. Jika aku meneruskan pekerjaanku, maka aku harus rela menitipkan anakku di tangan seorang pengasuh karena kami tidak memiliki saudara dekat di kota tersebut. Ditambah lagi pekerjaan suamiku yang belum jelas sehingga penghasilan kami jauh dari memadai untuk mencukupi kebutuhan hidup yang besar. Di titik ini, aku pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku dan mengajak suamiku pulang kembali ke kota kelahiran kami. Kutinggalkan semua impian yang pernah kubangun dan semua kerja keras berbalut perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut dan menyambut sebuah kehidupan baru sebagai full time mother.


Di kota kelahiran kami, suamiku akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap. Sementara aku fokus mengurusi buah hati kami. Beberapa tahun kehidupanku sebagai ibu rumah tangga, hatiku menjerit mengingat keputusan yang telah kuambil. Sementara teman-temanku meneruskan karier mereka, aku harus berkutat dengan pilihan yang telah kuambil. Aku sempat merasa terpuruk dan menyesali keputusanku, tetapi setiap kali aku melihat senyum dan tawa buah hatiku, aku kembali terhibur. Saat itu, aku sempat tak ingin menghubungi teman-temanku yang tetap berkarier, malas melihat media sosial karena akan merasa cemburu sambil terus berusaha sekuat tenaga melebur lara yang kurasakan.

Seiring waktu, sebagian diriku memang masih mencintai kehidupanku yang lama sebagai seorang wanita karier di sebuah kantor elit, sedangkan sedikit demi sedikit bagian diriku yang lain akhirnya mulai terbiasa dengan kehidupanku yang sekarang. Kini, setelah anakku berada di sekolah dasar, aku akhirnya menemui pelajaran dari keputusan yang dulu kuambil. Seandainya aku tetap berada di kota tersebut, aku tentu tak bisa melihat tumbuh kembang anakku secara langsung dan menjadi cinta pertama anakku. Bisa jadi aku memiliki kecukupan materi, tetapi aku akan kehilangan hal yang lebih besar yaitu kebersamaan bersama buah hatiku dalam masa-masa emasnya.


Lalu saat aku mulai mengalihkan energiku yang sempat terkuras untuk memikirkan masa laluku dan berusaha menerima hidupku, aku pun melihat sekelilingku, aku kemudian tersadar, ternyata aku mendapatkan lebih banyak nikmat dan karunia dari Sang Pencipta. Anakku kini bertambah menjadi dua orang, kami juga sudah memiliki rumah sendiri dan yang paling utama, aku mendapatkan diriku kembali, diriku yang selalu berjuang untuk impianku. Dan kini aku tahu bahwa impianku sekarang adalah mengasuh anak-anakku agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia berakhlak baik yang kelak akan membanggakan kami sebagai orangtuanya. Aku kembali mengalirkan energi yang pernah kupakai untuk perjuanganku dulu untuk pilihan yang telah kuambil. Ini pilihanku dan ini hidupku. Ternyata dengan melepaskan, aku mendapatkan jauh lebih banyak.
(vem/nda)