Seks Dalam Kesusastraan Jawa Klasik (Bagian 2)

Fimela diperbarui 16 Jul 2014, 09:35 WIB

Dari satuan naratif di atas, telah kita ketahui bahwa percintaan adalah bagian atau unsur satuan naratif yang disajikan di dalam sebuah Kakawin. Misalnya melalui pencitraan tentang bentuk fisik tokoh-tokohnya, keindahan tubuh wanita serta deskripsi tentang adegan percintaan antara sepasang kekasih yang dijelaskan dengan rinci dan detil.

Kemudian, karya sastra Jawa Kuno tidak hanya muncul dalam bentuk puisi naratif Kakawin, tetapi juga dalam bentuk puisi lirik (Kakawin lirik) yang disebut Bhasa. Kakawin lirik tersebut diperkirakan muncul pada masa runtuhnya kerajaan Majapahit yaitu pada era yang oleh Pigeaud disebut sebagai masa Javanese-Balinese pada tahun 1500 Masehi.

Dalam karya sastra ini, unsur percintaan dan penggambaran rindu asmara berupa puisi ratapan cinta (Wilapa) merupakan hal yang esensial dalam teks Bhasa KHS yang tersebar pada semua pupuh (tembang) yang terdapat di dalam teks. Penciptaan sastra Kakawin pada pokoknya adalah ekspresi dari lubuk hati (padma-hredaya) sang penyair yang paling dalam, sehingga wacana kakawin (yang bersifat erotis) menjadi cara pemujaan kepada dewa pujaannya (Istadewata) dalam hal ini pemujaan pada Dewa Kama (Suparta, 2004: 272).

Pada masa yang hampir bersaman dengan munculnya Kakawin Lirik, yaitu pada abad ke-15 dikenal pula jenis karya sastra dalam bentuk Kidung. Sebagaimana Kakawin, latar tempat dalam Kidung juga berkisar pada lingkungan istana, tapi tokoh-tokoh yang diambil bukan dari epos India, melainkan dari lingkungan keraton di kerajaan Daha dan Kediri.

Di antara sejumlah jenis karya sastra Kidung, terdapat karya-karya yang digolongkan sebagai kelompok Cerita Panji. Kelompok cerita ini mempunyai tema cerita yang sama yaitu percintaan, serta pola cerita yang juga kurang lebih sama, yaitu pernikahan antara putra mahkota Koripan (Raden Panji atau Raden Ino) dengan putri Daha (Raden Galuh).

Dijelaskan dalam srinthil.org, unsur-unsur seperti rasa asmara, ulah cinta, dan kesedihan karena perpisahan atau penolakan digambarkan dengan penuh keindahan dan dilukiskan secara rinci. Keindahan alam, kecantikan, atau ketampanan tokoh-tokohnya senantiasa dikaitkan pada Dewa Kama sebagai Dewa Asmara.

Setelah masa ini, muncul banyak karya sastra Jawa Klasik, di antaranya adalah serat Pranacitra-Rara Mendut dengan berlatarkan kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung. Cerita dalam serat ini bertemakan percintaan, oleh karenanya banyak sekali bagian cerita yang digambarkan secara romantik sekaligus erotis. Gambaran tentang tokoh utama wanita Rara Mendut, misalnya, adalah gambaran fisik atau tubuh yang terperinci dan jelas.

Karya sastra Jawa Klasik lainnya yang juga memuat masalah asmara adalah Babad. Di samping mengandung unsur-unsur sejarah, genealogi, dan mitologi, juga mengandung unsur fiksi. Salah satu contohnya adalah Babad Prayud, di mana di dalam beberapa pada (bait) ceritanya menyisipkan kisah tentang hubungan asmara incest antara seorang ibu dengan putranya.

Selain itu, sastra Jawa Klasik juga mengenal adanya Serat Centhini yang ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwana V di Surakarta. Teks ini digubah oleh pujangga kraton Yasadipura II dalam bentuk Macapat. Secara garis besar teks ini menceritakan tentang perjalanan para santri yang berkelana.

Selama perjalanan tersebut dibahas tentang banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan agama (Islam). Hal yang menarik dalam cerita ini adalah adanya pengungkapan unsur seks, baik berupa ajaran, maupun yang disajikan sebagai bagian dari struktur naratif. Pengungkapan unsur-unsur seks tersebut disajikan di dalam teks berdampingan dengan berbagai ajaran yang berkaitan dengan agama (Islam).

Nah, Ladies, demikianlah ulasan singkat mengenai kesusastraan Jawa Klasik yang ternyata tidak terlepas dari unsur seksualitas dalam penyajiannya. Semoga menambah wawasan Anda.

 

Oleh: Rya

(vem/riz)
What's On Fimela