Sindrom Kawasaki Berpotensi Sebabkan Gagal Jantung Di Usia Muda

Fimela diperbarui 26 Jun 2015, 10:34 WIB

Penyakit langka, sindrom Kawasaki, menimpa batita penyanyi Budi Do Re Mi. Menurut cerita Budi Do Re Mi kepada sejumlah wartawan tabloid, awalnya si kecil hanya menunjukkan gejala demam tinggi dan bintik-bintik merah seperti gejala campak. Namun suhu badan si kecil tak kunjung turun, hingga setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Tangerang, dokter menyimpulkan bayinya terkena serangan sindrom Kawasaki.

Lalu, sebenarnya, apakah sindrom Kawasaki itu? Apakah penyakit ini berbahaya?

Mulanya, sindrom ini ditemukan menyerang anak-anak batita di Jepang dan Korea. Namun kemudian bisa menimpa pada anak-anak dari etnis lainnya, termasuk Indonesia. Penyakit ini belum diketahui pasti penyebabnya dan gejalanya hampir sama dengan penyakit lain. Umumnya, Kawasaki baru terdeteksi setelah bayi mengalami demam selama sekitar 5 hari.

Sindrom Kawasaki lebih banyak menyerang bayi laki-laki di bawah usia 5 tahun, dan bisa dialami siapa saja meskipun orang tua si bayi tidak memiliki riwayat penyakit serupa. Seperti dilansir dalam situs kidshealth.org, Kawasaki tidak bisa dicegah, namun orang tua bisa melihat gejalanya secara langsung pada bayi.

Gejala umum Kawasaki antara lain timbulnya bintik-bintik merah serupa ruam pada punggung, dada, lidah, kulit tangan, mata memerah, bengkak pada telapak tangan atau kaki, serta bibir kering dan terkelupas. Pada fase pertama, gejala ini biasanya disertai demam tinggi selama 5 sampai 10 hari.

Memasuki fase kedua, atau dalam waktu 2 minggu sejak demam muncul, kulit pada bagian ujung jari tangan dan kaki mulai mengelupas. Kemudian diikuti dengan muntah-muntah seperti diare, serta pembesaran kelenjar leher seperti pada penyakit gondongan. Selama fase kedua ini, gejala-gejalanya bisa hilang dengan sendirinya, namun bukan berarti si kecil sembuh.

Menurut dr. Najib Advani SpA(K) M.Med dari RS Omni International, Serpong, sindrom Kawasaki ini merupakan proses infeksi. Jika tidak segera ditangani dan mendapat perawatan yang tepat sampai lebih dari 8 hari, Kawasaki berpotensi menyebabkan pelebaran pembuluh darah serta merusak otot jantung. Keadaan ini beresiko pada serangan jantung mendadak.

Sindrom Kawasaki bisa kembali menyerang, atau bahkan menyebabkan kematian, setelah bayi melewati fase akut atau puncaknya, yaitu sekitar 15 sampai 45 hari setelah awal demam. Jika segera ditangani dalam fase pertama, kemungkinan gangguan jantung dan resiko kematian mendadak ini bisa dicegah.

Dalam masa perawatan, bayi akan mendapat infus imunoglobin atau gamma globulin dengan dosis tertentu (lebih banyak pada bayi yang sudah mengalami gangguan jantung). Perawatan ini diberikan unuk membantu tubuh bayi melawan infeksi.

Meski belum pasti apa yang sebenarnya memicu sindrom Kawasaki, namun Mom dianjurkan untuk selalu melindungi si kecil dan waspada terhadap gejala-gejalanya. Segera bawa si kecil ke dokter atau rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan yang lebih akurat.

Oleh : Puteri Krisnasekar

(vem/ver)