Indonesian Crafter, Ketika Hobi Jadi Pengisi Pundi-pundi

Febriyani Frisca diperbarui 24 Des 2018, 21:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Diberikan akal yang sempurna dari makhluk lainnya oleh Tuhan, manusia seharusnya bisa memanfaatkannya dengan baik. Salah satunya yakni dengan berkreasi. Bukan soal bakat, berkreasi hanyalah soal ketertarikan dan mau belajar untuk meningkalkan kemampuan. Syukur-syukur bisa membuka ladang rezeki. Bukan begitu, Sahabat Fimela?

Seperti yang dilakukan oleh orang-orang di Indonesian Crafter, misalnya. Diinisiasi oleh Chesiria Tattia Yuniarie, Indonesian Crafter hadir menjadi wadah bagi orang-orang yang hobi berkreasi dengan tangan sendiri. Ditemui di Erudio School of Art, Lebak Bulus, Chesiria menceritakan bagaimana terbentuknya Indonesian Crafter.

Menurut Chesiria, terbentuknya Indonesian Crafter bermula dari media sosial di 2011. "Jadi aku senang banget pergi ke bazaar craft, seperti Tobucil yang di Bandung, craft market yang di Kemang, dari sana aku banyak kenal banyak crafter, lalu aku ajak untuk kumpul dan mereka menyetujuinya lalu disarankan untuk bikin komunitas, pertama komunitasnya hanya online lewat Facebook," kenang perempuan yang akrab disapa Chesie ini.

 

Chesiria Tattia. (Fotografrer: Daniel Kampua/FIMELA.com)

"Seiring berjalannya waktu, para crafter ini membawa teman-temannya yang lain, mouth to mouth marketing gitu, sampai suatu hari aku harus lock grup Facebook karena terlalu banyak yang gabung, sampai sekarang sudah ada sekitar 2000 member dan sebagian besar aktif," imbuh guru Bahasa Inggris di Erudio School of Art ini.

Di Indonesian Crafter terdapat beragam perajin. Seperti sulam, rajut, oshibana, dan puppet show. Lebih lanjut, Chesie juga menceritakan pemilihan nama Indonesian Crafter. Konon, pemilihan nama dengan unsur Inggris dipilih karena agar lebih bersifat global ketika perajin Indonesia yang tinggal di luar negeri membuka lapak di sana.

"Kenapa kami pilih bukan nama Indonesia, karena ada teman-teman yang WNI (Warga Negara Indonesia) tapi tinggal di luar negeri, jadi ketika mereka mau buka lapak di sana, mereka bisa pakai nama Indonesian Crafter," kata Chesiria.

Indonesian Crafter. (Sumber foto: Facebook Indonesian Crafter)

Untuk menciptakan bonding yang kuat antar anggota, Indonesian Crafter membuat acara arisan. Tak hanya saling berkumpul, di dalam arisan tersebut, Chesiria juga membuat workshop dengan para anggota. "Awalnya aku dan temanku ide untuk bikin kegiatan workshop supaya ada pertemuan, tapi aku menambahkan untuk membuat arisan crafter, yang mana arisan itu diisi dengan workhshop," jelas perempuan yang gemar membuat totebag ini.

"Kalau biasanya arisan hanya datang, makan, kocok arisan, nah kami ada workshop, jadi rumah crafter yang ketempatan dijadikan workshop, dia boleh yang membuat workshop atau meminjamkan tempat dan crafter lain yang membuat workshop, ini juga yang membedakan kami dengan komunitas lain," tambah Chesiria.

Kendati begitu, Indonesian Crafter juga kerap membuat workshop di luar atas permintaan pembuat acara. "Kami biasanya kerja sama dengan beberapa perusahaan dan kampus, kami memberi workshop untuk mereka, biasanya family atau office gathering," ujar ibu rumah tangga ini.

2 dari 2 halaman

Kenapa Barang Handmade Mahal?

Indonesian Crafter. (Sumber foto: Facebook Indonesian Crafter)

Tak sekadar membuat wadah berkumpul para crafter, melalui Indonesian Crafter, perempuan lulusan The London Institute of Communication ini mengatakan jika ia juga ingin mengedukasi konsumen dan para crafter soal barang handmade.

"Kami mau mengedukasi orang-orang bahwa handmade itu harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan mass product karena effort dan idenya, setiap orang menginspirasi satu sama lain, sebab bedanya tipis antara plagiat dan terinspirasi, itu sih yang ingin kami edukasi, bahwa nggak apa-apa sama, tapi kamu harus punya identitas," jelas Chesiria.

Berkaitan dengan hal ini, Chesiria juga bercerita jika para crafter memiliki kesulitan untuk menentukan harga untuk konsumen dari setiap barang yang mereka produksi sendiri.

"Biasanya kami sukar menentukan harga, karena mereka produksi banyak dan bagus tapi menentukan harganya lebih murah, kalau begitu kami minta masukan dari pakar ekonomi, rupanya kalau produksi itu dihitung bahan baku dan jam mengerjakan, tenaganya jangan digratiskan, waktu juga harus dihitung," tegas Chesiria.

Chesiria Tattia. (Fotografrer: Daniel Kampua/FIMELA.com)

Perempuan lulusan jurusan Mass Communication ini juga ingin menumbuhkan kesadaran pada masyarakat untuk mendukung dan menghargai produk lokal dari negeri sendiri, mengingat banyak orang yang lebih kagum pada produk luar negeri di zaman ini.

"Jangan memandang sebelah mata craft Indonesia, kita tuh bisa jual local brand, jadi kami suka menggadang-gadangkan 'use local product', kadang kita meng-appreciate hal-hal berbau luar negeri, misalnya Rihanna pakai sepatu baru langsung hype, tapi di sini tuh ada yang bisa bikin sepatu rajut, nggak salah juga untuk meng-appreciate mass product, tapi kita juga perlu support yang lokal," imbuh perempuan kelahiran 11 Oktober 1980 ini.

Bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan kerajinan tangan, bergabung dengan Indonesian Crafter adalah hal yang menyenangkan. Di mana mereka bisa saling berbagi tentang hal yang sama. Namun, untuk saat ini, Indonesian Crafter sedang tidak membuka grup mereka untuk crafter bergabung secara otomatis.

"Untuk saat ini, hanya by invitation, misalnya temannya crafter A mau gabung, lalu bilang ke admin untuk dikirim undangan, soalnya kalau nggak begitu banyak yang spamming, jualan di luar konteks," jelas Chesiria.

Di akhir pembicaraan, Chesiria mengungkapkan harapannya untuk Indonesian Crafter. Perempuan yang hobi membaca ini ingin membuat acara besar untuk para crafter di Indonesia. "Aku ingin bikin satu event yang besar, annual event gitu atas nama Indonesian Crafter, kasih edukasi, workshop, bertukar ilmu, semacam Craft Fair gitu lah, misalnya pembicaranya dari Indonesian Crafter, dari crafter untuk masyarakat," pungkas perempuan berdarah Jawa ini.