Kerja Sambil Kuliah adalah Resolusi Terbesarku Tahun Ini

Endah Wijayanti diperbarui 28 Jan 2019, 10:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Rahadian Ika Syafitri - Surabaya

Batal Kuliah Bukan Berarti Masa Depan Suram, Restu Orangtua Menjadikanku Pribadi yang Lebih Baik

Tahun 2015 adalah tahun di mana aku sedang berada dalam kondisi dilema yang besar. Karena saat itu tahun di mana setelah kuhadapi ujian nasional, aku masih harus menentukan satu pilihan besar yang tentunya akan memberi pengaruh besar pada kehidupanku kedepannya. Aku harus memilih antara melanjutkan studi atau memilih langsung bekerja.

Saat teman sebayaku sudah berlomba-lomba untuk memilih tempat melanjutkan studinya, sedangkan aku masih bergelut dengan kebimbangan yang ada di benakku. Ada satu hal yang seakan terus menghantuiku saat aku sudah dinyatakan diterima di salah satu politeknik negeri di kotaku. Ketakutanku jika bidikmisiku tidak diterima. Dalam hati aku berkata jika bidikmisiku tidak diterima, lalu apa yang akan kulakukan? Akankah aku kembali merepotkan kedua orangtuaku dengan biaya kuliahku sedangkan aku masih memiliki kedua orang adik yang juga masih butuh biaya untuk sekolah. Galau? Hampir setiap hari kurasakan. Aku tak tahu harus bagaimana.

Hingga pada akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu pun tiba. Aku menanti pengumuman penerima bidikmisi dengan penuh rasa gundah. Kudengar satu per satu nama penerima dan asal sekolah, sampai pada panggilan nama terakhir dan namaku sama sekali tidak dipanggil. Pihak politeknik mengatakan kepada yang belum diterima untuk tidak putus asa, karena masiih ada tingkatan UKT yang akan dibacakan. Aku tak tenang menanti namaku dipanggil dalam kategori UKT itu. Dan ternyata yang kuperoleh adalah UKT tingkat 3. Harusnya aku bersyukur karena mendapatkan tingkatan UKT yang bisa dibilang masih ringan. Namun saat aku mengetahui jumlah yang harus dibayar sontak aku terkejut, bingung dan bahkan putus asa.

Sesampainya di rumah kuutarakan pada orangtua jumlah yang harus dibayarkan, Ayah keberatan dengan jumlahnya, sedangkan ibu dengan raut wajah risaunya memandangku. Akhirnya dengan berat hati ku putuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Keesokan harinya kudapati ibu sedang menerima telepon dari kakak laki lakinya yang ada di Malaysia dan ternyata beliau mengajakku untuk membantunya bekerja di toko HP miliknya di sana.

Saat ibu menanyakannya padaku, aku tak memiliki alasan untuk menolaknya. Ayah dan ibu menyerahkan keputusannya padaku. Akhirnya aku yang saat itu masih berusia 17 tahun memilih untuk mencoba mengadu nasib di Negeri Jiran tersebut dengan harapan aku bisa melupakan keinginan kuliahku untuk sementara dan mencari uang yang banyak untuk biayanya. Setelah dua tahun di sana, aku merasa sudah cukup lama jauh dari orangtua dan aku mulai berpikir bahwa harta bukanlah segalanya. Aku beranikan diri untuk meminta pulang pada kakak ibu dan alhamdulillah beliau memperbolehkan. Alasanku untuk pulang? Aku merasa keluarga lebih berharga daripada harta.

 

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Kupikir dengan bekerja di luar negeri aku bisa mendapat uang yang akhirnya akan membawa kebahagiaan. Ternyata aku salah karena kebahagiaan yang sebenarnya itu bukan terletak pada banyaknya harta, namun kebersamaan dan keharmonisan yang dirasakan dalam keluarga. Setelah kembali ke rumah, dengan tegas aku berjanji pada kedua orangtuaku untuk tak berada terlalu jauh lagi dari keluarga. Aku akan berusaha dan bekerja apapun itu asalkan halal dan dekat dengan keluarga.

Tidak sampai sebulan aku kembali ke tanah air, alhamdulillah rezeki berpihak kepadaku. Aku mendapatkan pekerjaan di salah satu minimarket yang ada di kota Banyuwangi. Kota di mana aku dibesarkan dan kota tempatku menempuh bangku pendidikan. Ya meskipun orangtua dan adikku berada di Gresik dikarenakan suatu hal dan rumahku di Banyuwangi dikontrakkan, setidaknya aku masih punya kakek disini. Aku tahu mungkin gajinya tidak seberapa tapi aku yakin meskipun dengan gaji sedikit asalkan orangtua merestui pasti akan cukup untuk kebutuhanku bahkan untuk membantu biaya sekolah kedua adikku.

Setelah hampir satu tahun aku bekerja di minimarket, kembali ku dapatkan kabar bahagia lagi. Ayah memberiku kabar bahwa ada lowongan kerja di kantor milik rekan baiknya di Surabaya di bagian IT dan penulisan artikel produk. Memang kemampuanku dalam bidang IT tidak semahir para remaja di usiaku yang sudah menyandang gelar sarjana. Namun aku tidak putus asa, kuputuskan untuk mencoba setidaknya aku punya kemauan untuk terus belajar dan berusaha.

Dalam pikiranku, setidaknya jika aku bekerja di Surabaya, aku bisa lebih sering mengunjungi keluargaku di Gresik. Aku sangat bersyukur akhirnya aku diterima dengan baik di perusahaan ini. Rekan kerjaku memang sebagian besar menyandang gelar sarjana. Tapi hal ini tidak pernah mengurungkan tekadku untuk terus belajar banyak ilmu dari mereka. Hingga akhirnya aku memiliki tanggung jawab sebagai penulis artikel produk di perusahaan tersebut. Dari sini aku mulai meminati dunia tulis menulis. Dan aku menjadi banyak belajar dan banyak mengerti tentang menulis. Kemudian aku sadar, aku harus bisa kuliah dengan hasil jerih payahku sendiri. Aku kembali memiliki tekad yang sangat bulat untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang universitas dan orangtua sangat mendukung penuh niatku untuk kuliah. Kerja sambil kuliah? Resolusi terbesar yang akan segera aku wujudkan.