Sekolah Pertama Anak-Anak adalah Ibunya

Endah Wijayanti diperbarui 01 Apr 2019, 14:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Nana Maulina - Aceh

Ya, setiap perempuan adalah agen perubahan. Begitu banyak alasan mengapa perempuan dikatakan sebagai agen perubahan, salah satunya adalah karena Allah telah menakdirkan perempuan untuk bisa melahirkan penerus generasi-generasi berikutnya. Bukankah dengan kelahiran generasi-generasi penerus bangsa, tentunya banyak perubahan yang akan terjadi bukan? Di sinilah letak kunci utama mengapa peran perempuan begitu penting.

Sebagai seorang perempuan yang tidak bekerja di luar melainkan bekerja sebagai ibu rumah tangga dan full-time mommy, tentunya tujuanku sebagai agen perubahan adalah di bidang bagaimana cara mendidik anak-anakku untuk menjadi generasi penerus bangsa yang bukan hanya cerdas tapi juga bermanfaat untuk negara ini. Karena ruang lingkupku hanya di rumah, mengurus anak, dan suamiku. Nah, begitu banyak cara yang dilakukan para perempuan sebagai agen perubahan, dari mereka yang menjadi wanita karier, sampai mereka yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Mereka punya cara masing-masing.

Aku sebagai wanita yang baru setahun belakangan ini menjadi ibu, atau bisa dibilang aku adalah ibu baru yang baru mengerti bagaimana rasanya menjadi ibu. Ketika pasca melahirkan, di mana banyak keluarga, kerabat dekat, dan teman-teman yang menjengukku, menanyakan, "Bagaimana rasanya menjadi ibu?" Begitu lontaran pertanyaan itu aku dengar, spontan mataku langsung berkaca-kaca dan lisanku hanya bisa menjawab, "Alhamdulillah, maasya Allah bahagia." Karena bagiku menjadi seorang perempuan yang telah menjadi seorang istri, dan sekarang menjadi ibu itu merupakan anugerah terindah yang Allah berikan, dan ini menjadi kesempatan besar bagiku untuk ikut berpartisipasi mengambil bagian untuk menjadi agen perubahan, tentunya perubahan-perubahan yang positif yang kita inginkan untuk bangsa dan negara ini, walaupun ruang lingkupku hanya di rumah. Biidznillah.

Aku memiliki banyak impian agar aku bisa menjadi salah satu perempuan yang bisa menghasilkan suatu perubahan. Jadi misiku sebagai agen perubahan adalah cara mendidik anak agar menjadi orang yang berdaya guna dan berhasil guna. Aku ingat akan pesan ustazahku, "Madrasah (sekolah) pertama anak-anak kita adalah ibunya, jadi jangan pernah bermimpi memiliki anak-anak yang cerdas dan sukses jika diri kalian sebagai ibunya tidak kalian cerdaskan juga, karena anak-anak yang cerdas itu hanya terlahir dari ibu yang cerdas. Itu pasti. Jangan hanya memerintahkan anak belajar tapi kalian sebagai ibunya malas untuk belajar, karena diri kita sebagai ibu juga perlu banyak belajar." Begitu kurang lebih pesan yang diberikan oleh ustazahku. Intinya, beliau mengingatkan para ibu agar tetap giat dalam belajar, karena itu merupakan bekal dan kiat sukses dalam menciptakan generasi yang lebih baik ke depannya. Insyaa Allah.

 

What's On Fimela
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Peran perempuan sebagai pendidik anak-anaknya merupakan peran yang amat penting. Di tulisan salah satu ustazahku yang pernah aku baca, beliau menyebutkan, "Pentingnya peran tersebut karena peran itu diarahkan kepada anak-anak, sementara mereka adalah umat masa depan. Bagaimana kondisi anak-anak tersebut dan pendidikannya pada hari ini, demikianlah gambaran umat pada masa mendatang. Apabila mereka terdidik dengan baik, berarti disiapkan sebuah umat yang baik di masa mendatang, sebaliknya apabila pendidikan mereka disia-siakan, niscaya pada masa depan nanti yang muncul adalah umat yang buruk."

Perempuan-perempuan terdekatku yang menjadi inspirasiku dalam menjadi agen perubahan adalah ummiku, nenek, dan ustadzahku. Mereka adalah wanita-wanita tangguh menurutku, selain para wanita shohabiyyah pada zaman Rasulullah shollallahu 'alahi wasallam yang pernah aku baca kisahnya.

Ummiku adalah seorang guru, aku melihat dan merasakan bagaimana beliau mendidikku dan lima orang saudaraku yang lain bersama abi, hingga kami menjadi seperti sekarang ini, tidak terbayangkan betapa lelahnya beliau selama ini membagi waktu antara mengajar murid-muridnya di sekolah dan mendidik kami di rumah, belum lagi mengurus rumah tangga yang juga dibantu abi. Rasanya tidak cukup menuliskan semua cerita tentang ummi dikertas ini.

Nenekku, beliau adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki enam orang anak. Jika kudengar cerita-cerita dari ummiku semasa beliau kecil, maasyaa Allah cara nenek mendidik dan menjaga enam orang anaknya yang sering ditinggal oleh kakekku, karena kakekku adalah seorang supir yang sering pergi keluar kota.

Ustazahku, beliau adalah guruku yang sampai sekarang aku masih belajar kepadanya ketika dalam pengajian, banyak ilmu syar'i yang aku dapatkan ketika menghadiri kajian beliau. Di sela-sela beliau mengajar murid-muridnya yang masih anak-anak, karena beliau membuka kelas PAUD dan SD, beliau juga menyempatkan waktunya untuk memberikan ilmunya kepada kami para ibu-ibu yang masih harus banyak belajar. Maasyaa Allah perjuangan tiga wanita terdekatku dalam menjadi agen perubahan, semoga Allah menjaga mereka semua.

Dari tulisan ini, bukan aku berpendapat bahwa peran seorang laki-laki atau seorang ayah tidak penting, sama sekali bukan begitu. Justru pendidikan anak itu dibebankan oleh Allah kepada seorang ayah yang paling utama dan ibu. Namun, karena dalam keseharian kita dapati waktu seorang ayah bersama anak-anaknya di rumah tidak sebanyak waktu yang dihabiskan ibu bersama anak-anaknya. Maka ibu sering dikatakan sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Sebagai catatan, aku menulis tulisan ini dalam posisi aku sebagai ibu rumah tangga. Jadi kunci impianku sebagai agen perubahan terletak di anak-anakku, pendidikan-pendidikan dariku untuk anak-anakku. Lain halnya dengan wanita-wanita yang berkarier di luar yang begitu bermacam-macam kontribusi mereka sebagai agen perubahan selain dalam mendidik anak-anaknya.

Ketika menulis ini aku juga ingat bahwa salah satu hak, dari hak-hak anak sebelum mereka dilahirkan adalah calon ayah memilihkan calon ibu yang tepat untuk anak-anaknya kelak. Betapa pentingnya peran seorang wanita bukan?

Sebagai akhir dari tulisan ini aku ingin mengatakan, janganlah berkecil hati bagi perempuan-perempuan yang tidak bekerja atau hanya sebagai pemeran ibu rumah tangga. Peran kita sangat penting di sini, untuk suami-suami kita dan untuk anak-anak kita. Tetap semangat! Jadilah wanita yang tangguh. Semoga apa-apa yang kita usahakan bisa menjadi amalan kita, dan bisa memberikan hal-hal yang positif sebagai agen perubahan untuk nusa dan bangsa. Aamiin.