Perubahan yang Lebih Baik Bisa Diawali dengan Inisiatif Sederhana

Endah Wijayanti diperbarui 04 Apr 2019, 12:44 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Annisa Nurrahmah - Cimahi

Kisah Kasih Setumpuk Buku

Baru saja saya menyelesaikan beberapa episode drama Korea berjudul Sky Castle yang bercerita mengenai orang tua yang memiliki obsesi akan kesuksesan anaknya dalam bidang akademik. Demi kesuksesan anaknya mereka menghalalkan segala cara. Bagi saya itu sangat mengerikan, karena mereka seolah lupa bahwa kesuksesan dunia tidak akan ada artinya tanpa perilaku yang baik.

Dalam sebuah scene terdapat dialog, “Untuk apa aku pedulikan anak lain?” Pernyataan ibu tersebut tidak sejalan dengan pemahaman saya. Terlahir sebagai perempuan di lingkungan pendidikan dan kini menjalani peran sebagai ibu dari tiga orang anak sekaligus sebagai guru PAUD selama 9 tahun terkahir, menjadikan saya orang yang tidak bisa cuek melihat perkembangan anak-anak di lingkungan sekitar.

Dari tahun ke tahun tampak perubahan karakter anak-anak yang semakin cuek dan kurang beradab. Gadget menjadi kambing hitam atas perilaku anak-anak yang menyimpang. Melalui benda yang menjadi teman setia itu, anak belajar kata pertamanya, mengenal perilaku memukul, menyerang, mengolok, dan meniru segala tingkah laku yang ditunjukkan tokoh idolanya. Memang gadget tidak melulu menimbulkan dampak negatif. Orang tua pun setuju jika dengan penggunaan gadget yang dibatasi dapat membawa efek positif bagi anak. Meski begitu alangkah baiknya jika anak-anak tidak terpapar gadget sejak dini, agar mereka tidak tumbuh menjadi generasi cuek yang asyik dengan dunianya sendiri.

 

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Berangkat dari beragamnya perilaku anak-anak yang meresahkan, saya membuka lebar-lebar pintu rumah. Jika anak saya ingin bermain, saya ajak teman-temannya main di dalam rumah. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saya mengawasi permainan yang mereka mainkan. Apa yang mereka obrolkan, nyanyikan, dan tirukan. Miris rasanya saat tampak sosok dewasa yang mereka tiru melalui sinetron, vlogger, atau infotainment. Sungguh mereka lebih update dari saya.

Akhirnya setiap mereka berkunjung ke rumah, saya suguhkan beberapa buku di atas meja. Saya biarkan mereka memilih sendiri buku yang ingin dibacanya. Kadang buku tersebut hanya mereka jadikan sebagai mainan. Lalu saya berinisiatif membacakan. Ketika mereka menyimak informasi yang disampaikan melalui buku, muncullah pertanyaan dan berkembang menjadi diskusi. Saya jadi tahu apa yang ada dalam benak mereka, bagaimana mereka memandang sesuatu, dan apa keinginan mereka. Buku adalah salah satu alat pendekatan yang baik, sehingga saya dapat menyelami pikiran anak-anak.

 

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Setelah diskusi berulang barulah saya mulai menyampaikan pesan. Bagaimana perilaku akhlak yang baik, bagaimana adab dalam keseharian, dan menyampaikan mana yang baik atau buruk. Memang tak saat itu mereka berubah menjadi anak yang sopan dan berperilaku manis. Namun saya yakin apa yang ditanam saat mereka kecil akan tampak saat kelak dewasa.

Ketika mereka merasa dekat, akan lebih mudah dalam menerima nasehat yang saya sampaikan. Hal paling utama ternyata menyentuh hatinya. Melalui setumpuk buku dan kisah yang tertulis di dalamnya menjadi media pengantar kasih antara orang tua dan anak.

Dalam kehidupan, kita memang orang tua dari anak-anak yang dilahirkan dan anak lainnya memiliki orang tua masing-masing. Namun setiap orang dewasa memiliki kewajiban untuk mendidik setiap anak yang mereka temui. Sungguh kita tak bisa egois untuk tidak peduli dengan krisis etika pada anak di sekitar kita. Saatnya para perempuan, para ibu menjadi agen perubahan dari lingkungan terdekatnya, untuk masa depan yang lebih beradab.