Label Tanggapi Curhatan Melankolis Taylor Swift di Medsos

Nizar Zulmi diperbarui 01 Jul 2019, 17:08 WIB

Fimela.com, Jakarta Sebuah curhatan panjang dituliskan Taylor Swift dalam postingannya di Tumblr. Penyanyi dan penulis lagu berbakat ini kecewa lantaran kesulitan membeli master lagu-lagu yang ia ciptakan selama ini.

Total sudah tujuh album studio yang dibukukan Taylor sejak tahun 2006 silam. Dimulai dari album debut self-titled tanjakan kariernya ditandai dengan sukses album Fearless (2008), Speak Now (2010), Red (2012), 1989 (2014) dan Reputation (2017). Terakhir ia baru saja merilis Lover (2019) di bawah label baru, Universal Music Group setelah bermasalah dengan Big Machine.

Taylor Swift (Istimewa)

Dari mantan labelnya itu Taylor mengaku akan kehilangan hak lagu-lagunya sendiri. Big Machine diketahui telah dibeli oleh Scott Braun, pemilik Ithaca Holdings yang juga manager Justin Bieber.

Taylor merasa dicurangi karena tak bisa memiliki karyanya sendiri. Ia mengatakan jika ia jsutru mendapat tawaran untuk kembali ke label dan mendapat hak milik albumnya satu per satu, yang diganti untuk setiap album baru.

"Beberapa fakta seru yang kulihat hari ini: Aku baru tahu bahwa Scooter Braun membeli master lagu-laguku dan telah diumumkan ke seluruh dunia. Aku merasa ini adalah sebuah bullying yang konstan dan manipulaitf yang kurasakan selama bertahun-tahun," kata Taylor Swift dalam postingannya.

2 dari 3 halaman

Tanggapan Label

Taylor Swift (Evan Agostini/Invision/AP)

Curhatan melankolis Taylor Swift sampai juga kepada Scott Borchetta. Founder Big Machine tersebut membantah jika ia mempersulit Taylor untuk memiliki hak lagu-lagu yang sudah ia ciptakan.

"100 persen aset Taylor Swift akan diberikan kepadanya jika ia menyepakati kontrak baru yang kami tawarkan. Kami sedang membahas penawaran baru untuk platform streaming yang lebih fokus kepada jangka panjang sebuah karya," tulis Scott di laman web resmi Big Machine (1/7).

Namun Taylor Swift telah memutuskan untuk merapat ke label lain dan menyadari konsekuensinya. Karena term yang gagal disepakati, Taylor lebih ingin fokus ke masa depan ketimbang menyesali masa lalu.

"Taylor punya kesempatan penuh untuk memiliki bukan hanya master rekaman, tapi juga setiap video, foto dan segala hal yang menyangkut kariernya. Namun dia memilih pergi," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini: