Menikah dengan Pria yang Lebih Muda, kalau Sudah Jodoh Pasti Dipermudah

Endah Wijayanti diperbarui 21 Jul 2019, 13:18 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Desi Wulandari - Sidoarjo

Waktu aku masih SD, aku punya dua teman. Dia antara kami bertiga, hanya aku yang usianya lebih tua. Kata-kata yang aku ingat sampai sekarang yaitu, "Hei. Besok kalau sudah besar, kamu duluan yang nikah." Satunya lagi bilang, "Kamu juga yang buat KTP duluan." Aku nggak pernah balas mereka. Aku cuma diam, dan sedih, kenapa mereka berbicara tanpa dipikir dulu? SMP kami beda sekolah, lalu waktu SMK, sahabatku Tri minta satu sekolah sama aku, bedanya kami beda jurusan, aku Pariwisata dan dia Perhotelan.

Sampai akhirnya waktu lulusan tiba. Lama tak ada kabar dari mereka, eh temanku Anti memberi undangan ke rumah. Aku pun datang ke pernikahan dia, dalam hatiku berkata, "Akhirnya dia dulu yang mengurus KTP dan menikah." Beberapa tahun kemudian, sahabatku Tri menikah juga, dan lagi-lagi dalam hatiku berkata, "Mereka yang telah berkata aku lebih tua, ternyata mereka dulu yang mengurus KTP dan menikah." Ingin rasanya aku balikkan kata-kata itu, tapi ya buat apa aku menurutinya, pasti mereka lupa dengan perkataannya.

Aku pun masih sendiri dan bekerja kesana kemari. Banyak hati yang mampir dan pergi, dan para kaum Adam itu usianya di bawahku semua, mungkin karena aku mungil dan imut jadi aku selalu dapat pasangan yang lebih muda. Sampai akhirnya aku pernah dengan orang yang usianya lebih tua dari aku. Aku kira akan benar serius, tapi ternyata dia juga sama saja dengan yang usianya lebih muda, cukuplah bagiku untuk urusan cinta, karena aku merasa aku gagal urusan cinta. Sempat aku tidak mau pacaran lagi, karena aku takut kecewa lagi.

Sampai waktu berlalu, banyak teman yang sudah mulai menikah, bahkan yang usianya lebih muda dariku sudah menikah. Ibuku pun selalu untuk menyuruhku lekas menikah karena faktor usia. Ada seseorang yang suka sama aku, tapi aku tak seberapa suka sama dia, pasti dia sangat membenci aku.

Selang waktu berlalu, aku dapat undangan nikah dari teman sekolah. Karena aku tak punya pacar, aku sama sahabatku ke sana. Dan, di sana mereka tanya, "Kamu nikah inginnya konsep kayak gimana?" Aku pun hanya tersenyum. Padahal dalam anganku, aku sudah memikirkan konsep pernikahan yang aku mau.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mewujudkan Pernikahan Impian

ilustrasi./copyright Shutterstock

Aku punya impian saat aku menikah, aku ingin pakai baju ala Persia/Maroko, modern pokoknya, karena tahun itu yang menikah masih banyak yang tradisional, sedangkan kalau aku menikah dengan tradisional, waduh bisa bikin kantong jebol hehe, iya karena ibuku orang Jawa yang sangat pakai adat. Singkatnya lebih ringkas saja, iya dana dan semuanya.

Aku ingin nikah dengan konsep modern tapi tidak meninggalkan kesakralan pernikahan tersebut. Anganku masih terlalu jauh karena aku belum punya pasangan, aku juga tak pernah punya target nikah umur sekian, aku biarkan saja berjalan apa adanya. Sampai akhirnya jodoh itu datang, pertemuan kami pun tanpa disengaja, teman satu kerjaku mengembalikan kunci ke rumahku dan mengajak saudaranya (sepupu), dan aku pun terkejut karena sepupunya itu adik temanku waktu SD. Aku pun berkata, "Wah sudah gede ya kamu adiknya Andri," terus dia jawab, "Iya Mbak kan dikasih makan tiap hari." Selang waktu, dia sering main ke tempat kerjaku, dan dia itu tak percaya kalau aku teman SD kakaknya, karena aku mungil dan imut, sedangkan kakaknya sudah punya anak dua.

Ternyata dia ada rasa sama aku, tapi aku hanya merasa itu pasti seperti lainnya yang tak serius. Aku sempat menghilang dan dia mencariku lagi. Aku pun mulai berpikir ini beda, tapi apa iya aku akan menikah dengannya, usia kami beda jauh, kami terpaut 8 tahun, lebih muda dia. Rasanya ya sedih ya senang.

Aku dan suami yang menyiapkan semuanya sendiri, mulai dari undangan kami memilih sendiri. Aku pilih yang bentuk totebag karena apa, karena kalau kertas sudah biasa dan ujungnya langsung dibuang, kalau tas kan masih bisa dipakai.

Kami pun juga membuat mahar sendiri, karena aku ingin mahar yang scrapbook. Akhirnya kamipun buat sendiri, kami pun pergi cari perniknya dari satu toko ke toko lainnya karena tak semua toko pernik jual. Cari uang kuno Rp 2,- Rp 5,- dan Rp 10,- karena musim nikah jadi semua yang jual kebanyakan sold out.

Kami pun cari di olshop, akhirnya kami menemukannya di Tangerang, sedangkan rumah kami Surabaya. Baiklah, satu uang dihargai Rp35 ribu, karena kami butuh, kami pun mau. Aku dan calonku selalu mengerjakan mahar 3D itu setelah pulang kerja, atau kalau sedang libur.

3 dari 3 halaman

Bahagia

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@dariaobymaha

Setelah urusan mahar selesai, kami pun berburu barang untuk peningset (hantaran) yang terdiri dari jarik batik, kain kebaya, sepatu, dan kosmetik. Perjuangan sekali waktu itu bulan puasa, kami cari kain kebaya saat libur kerja, dan juga kami beli kain jarik di pasar tradisional yang lagi-lagi kalau kami libur kerja. Cari perias pun kami juga cari sendiri, aku cari yang sesuai dengan impianku.

Karena konsep nikahku itu modern. Aku inginnya suamiku pakai jas saja, bukan baju tradisional. Benar saja, aku merasa doaku terkabul, karena tak ada baju tradisional yang muat dengannya dari perias yang aku pilih hehe, dan untungnya juga waktu aku nikah mulai banyak konsep pernikahan modern, dengan makeup yang modern, wah aku senang sekali, impianku menjadi nyata.

Aku pun menikah dengan konsep modern, baju modern dengan warna di film Frozen yaitu pink biru. Aku rasanya puas dengan kami berusaha sendiri, orangtua kami hanya tinggal tahu sudah beres. Aku bangga aku bisa membuat hantaran sendiri dan mahar membuat sendiri. Thanks God.

#GrowFearless with FIMELA