Jangan Mudah Percaya dengan Kenalan di Media Sosial

Endah Wijayanti diperbarui 02 Okt 2019, 07:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Wi - Pringsewu

Aku mengenalnya dari dunia maya. Saat itu aku baru lulus kuliah, belum bekerja dan kesepian. Kami jarang berkomunikasi. Hanya sesekali ia menyapa dengan hangat. Tulisan-tulisannya begitu puitis dan bermakna. Wawasannya luas. Kadang aku menghabiskan malam hanya untuk mencari tahu apa yang sudah ia tulis atau tempat mana saja yang sudah ia singgahi. Aku sempat berpikir akan melakukan semacam ‘ziarah’ pada tempat yang pernah ia jejaki. Salah satunya adalah kota tempat ia tinggal sekarang. Rasanya pasti menyenangkan satu langit dengan orang yang dikagumi.

Suatu hari, ia punya pacar tapi kami malah makin sering mengirim pesan satu sama lain. Hal-hal kecil jadi tema menyenangkan. Namun, suatu ketika pacarnyalah yang membalas pesanku. Aku merasa tak enak atau tak nyaman lagi pada kedua orang ini. Maka, kuputuskan untuk menjauh. Aku masih menyimpan rasa kagum dan cinta padanya.

Saat mengingatnya, aku tak tahu harus berbuat apa. Tak banyak yang kuketahui. Bahkan nomor teleponnya saja tak punya. Kami benar-benar berhubungan baik hanya lewat media sosial. Apakah aku pun hanya mencintai sebuah akun atau manusia di baliknya? Apakah benar ia seorang lelaki seperti yang kulihat di unggahannya? Aku tak tahu tapi bagiku ia adalah penyemangat dan harapan. Mungkin saja dialah yang terakhir yang akan mendampingiku, mengingat aku tak pandai bergaul di dunia nyata. Harapanku tentangnya mungkin terdengar gila, namun aku rasa tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

 

 
2 dari 2 halaman

Dia Tak Seperti yang Diharapkan

Ilustrasi/copyright shutterstock

Beberapa tahun kemudian setelah usiaku mencapai dua puluh akhir, aku menemukannya di kolom pencarian. Kami bertemu lagi di dunia maya. Kali ini kami lebih dekat dan makin dekat tiap harinya. Ia menyatakan kata cinta. Aku malah tertawa saat itu. Kukira bercanda. Ia meyakinkanku bahwa rasa sayangnya tulus. Aku ingin sebuah bukti bahwa itu benar, tapi aku tak mau mengatakannya secara langsung.

Aku tanya sesuatu dan jawaban yang kudapat meruntuhkan segala harapanku. Di saat itu aku mencari tahu siapa dia sebenarnya. Informasi yang kudapat dari yang ia tulis hanya sedikit sekali. Tiap malam ‘stalking’ menjadikanku berfokus pada dunia yang semestinya kuabaikan saja. Usiaku terus bertambah. Satu per satu teman-teman menikah, memiliki karier bagus, dan memiliki anak-anak yang lucu. Sementara aku hanya berharap pada sesuatu yang tak pasti.

Fokus pada Dunia Nyata Batinku rasanya remuk redam setelah tahu kenyataan tentangnya. Yang pasti ia tidak pernah serius. Mengenal orang di dunia maya memang tidaklah salah. Namun, berfokus hanya pada hal-hal semacam itu adalah sebuah kesalahan. Tepatnya kesalahan yang kulakukan. Meskipun begitu, ia pernah jadi inspirasi beberapa tulisanku.

Kini, aku berfokus di dunia nyata. Mulai mengikuti berbagai kegiatan lain selain bekerja. Mengenal orang baru, bepergian, membaca buku-buku, dan lebih akrab lagi dengan orang sekitar. Ini tidak mudah karena aku seorang introver. Namun, aku terus berusaha dan melakukan yang terbaik.

Dunia maya bagaikan sebuah akuarium besar berisi aneka ragam hal berkumpul jadi satu. Saat mengambil suatu ‘benda’, bisa saja itu baik atau sebaliknya. Banyak sekali di balik akun-akun media sosial hanyalah semacam bayangan atau bahkan tipuan. Pandai-pandailah menyikapinya.

#GrowFearless with FIMELA