Kesempurnaan Diri Tak Perlu Diukur dari Perubahan Berat Badan

Endah Wijayanti diperbarui 24 Mar 2020, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Steffi Yuni Tania Susanto

Self-love atau mencintai diri sendiri sebetulnya bukan hal ataupun istilah baru. Sejak saat masih sekolah pun kita pasti sudah pernah mendapat pelajaran bagaimana pentingnya untuk menjadi percaya diri. Bagaimana supaya kita tidak minder atau rendah diri yang mana itu adalah salah satu bentuk dari self-love.

Sejak kecil, remaja, lalu mulai beranjak dewasa aku bisa bilang bahwa aku punya rasa percaya diri ataupun self-love yang cukup baik. Aku bangga dengan diriku sendiri karena ya secara fisik menurutku aku cukup menarik, good looking, postur tubuh juga bagus meskipun tidak terlalu tinggi. Selain itu aku juga merasa percaya diri karena secara akademis aku punya prestasi yang baik. Hampir selalu jadi juara kelas, sering jadi juara olimpiade sampai bisa masuk ke perguruan tinggi terbaik di negeri ini cukup membuatku percaya diri dengan segala potensi yang aku punya.

Aku juga tidak pernah menemui atau merasakan kondisi di mana aku tidak diterima atau dikucilkan di suatu lingkaran sosial karena bullying ataupun body shamming. Tidak juga mengalami masalah dalam mencari jodoh atau pasangan hidup juga membuatku merasa tidak sulit untuk menerapkan self-love. I do love and adore my self.

Namun ternyata, hidup memang tidak selalu mulus-mulus saja ya kan. Konsep self-love pada diriku yang sebenarnya baru mulai diuji dan dipertanyakan setelah aku menikah, hamil, dan melahirkan seorang anak. Ya, fase di mana begitu banyak perubahan terjadi pada diriku sebagai seorang wanita. Perubahan yang sungguh kentara itu sudah jelas ada pada perubahan fisik atau bentuk tubuh.

Tidak lama setelah menikah, aku sudah diberi anugerah kehamilan oleh Tuhan. Hampir tidak pernah ada masalah dalam masa kehamilanku seperti morning sickness, mual, dan muntah seperti yang dialami banyak orang. Selama hamil justru aku semakin mudah lapar dan gampang ingin makan ini dan itu. Aku juga dengar dari orang-orang di sekitarku bahwa memang ada bawaan bayi yang seperti itu.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Perubahan Berat Badan

Ilustrasi./(Foto: iStockphoto)

Dokter juga tidak menganjurkan untuk membatasi makan jadi ya sudah aku ikuti saja keinginan hati ini selama hamil. Akhirnya selama hamil sampai melahirkan anak pertama, berat badanku naik sebanyak 20 kg. Setelah melahirkan ternyata berat badan hanya turun 5 kg. Saat itu aku masih merasa tidak masalah karena aku menyusui dan orang bilang itu adalah diet alami. Kalau menyusui lama-lama nanti kurus sendiri. Tapi ternyata setelah sudah setahun lebih aku memberi ASI eksklusif tidak ada penurunan berat badan yang berarti. Justru kuantitas ASI-ku sangat bergantung dengan banyaknya makanan yang aku konsumsi.

Semakin aku makan kenyang, ASI-ku semakin melimpah. Di situlah aku mulai merasa sangat insecure dengan tubuhku. Pipiku yang memang sudah chubby jadi semakin terlihat besar. Perut, paha, pinggang, jari-jari semuanya mengembang. Belum lagi adanya stretch marks yang timbul selama kehamilan walaupun aku sudah berusaha mencegahnya dengan memakai krim dan minyak yang katanya ampuh mencegah stretch marks.

Rasa insecure itu terus bertambah saat hampir semua orang yang aku temui mengomentari perubahan bentuk badanku ini. Dari mulai yang sambil basa-basi, “Aduh tambah seger ya,” sampai yang beneran tidak enak banget didengar seperti, “Ya ampun kamu kok jadi besar banget gini badannya," “Kok subur banget," “Kok gendut banget sih, jangan gendut-gendut lho. Cepetan diet!”

Ada juga yang berupa sindirian, “Aduh kamu kok langsing banget gini sekarang,” dan masih banyak komentar-komentar sejenis yang aku terima. Ada juga tetangga sebelah rumah yang sampai berbulan-bulan tiap aku ketemu di depan rumahnya selalu komentar seperti itu. Aku sedih dan kesal sekali. Tanpa mereka harus bilang seperti itu setiap hari pun aku sudah tahu kalau aku gendut.

Aku semakin tak percaya kediri ketika menyadari bahwa baju-bajuku sebelum hamil dulu semuanya kekecilan. Hampir tidak ada yang cukup kecuali baju rumah seperti daster atau baju-baju yang modelnya longgar. Saat akhirnya aku beli baju online dan memilih ukuran yang aku rasa akan cukup, setelah datang dan aku coba ada lebih dari satu-dua kali ternyata baju atau celana itu nggak muat di aku. Itu bikin aku mulai sangat sedih, frustasi, marah sama diriku sendiri.

Di foto bahkan aku bisa terlihat jauh lebih gendut daripada kenyataanya. Dan semua mencapai puncaknya saat aku upload foto di media sosial dan seorang teman dengan santainya memberi komentar, “Ya ampun aku salah fokus, kirain hamil lagi." Di situ aku merasa benar-benar marah, kesal, frustasi, benci pada diriku sendiri. Kenapa nggak bisa kurus padahal sudah menyusui dan banyak pikiran negatif lainnya yang membuat aku semakin membenci diri sendiri. Akhirnya aku putuskan untuk mencoba diet walaupun masih menyusui.

3 dari 3 halaman

Menerima Perubahan Diri

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@garry-mordor-261159

Aku ikut program diet katering. Dan ternyata hasilnya nihil. ASI-ku berkurang drastis yang membuat aku semakin sedih dan merasa bersalah. Selama dua minggu itu aku merasa kelaparan, sangat tidak nyaman dan tidak bisa menikmati waktu makanku. Dan tidak ada perubahan signifikan yang aku rasakan pada tubuhku. Mau olahraga pun juga sulit karena aku ibu bekerja yang sehari-hari waktunya habis di kantor, di perjalanan dan saat pulang pun harus siaga mengurus anak. Suamiku bilang bahwa dia tidak pernah mempermasalahkan perubahan tubuhku. Dia tetap menyayangi dan menghargai aku apa adanya karena bagaimanapun ini semua bentuk perjuangan dan pengorbananku sebagai ibu. Tapi itu semua tidak cukup bagiku. Aku masih tetap membenci tubuhku sendiri.

Setelah beberapa kali usaha diet yang gagal aku pun mencoba untuk merenung dan berkontemplasi dengan diriku sendiri. Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku sangat marah dan membenci tubuhku sendiri hanya karena omongan orang? Berkali-kali kalau aku sugesti untuk harus mencintai diriku sendiri. Ternyata itu sulit sekali dilakukan. Setelah melewati refleksi panjang, hari-hari penuh penyangkalan, akhirnya aku menemukan jawabannya.

Ternyata semua ini bukan masalah komentar atau omongan orang. Ini masalah diriku sendiri. Diriku yang tidak mau menerima bahwa tubuhku memang sudah berubah. Tidak mau menerima bahwa memang saatnya aku ganti ukuran pakaian. Diriku yang melupakan bahwa masih banyak di luar penampilan fisik yang dapat menentukan cantik dan berharganya seorang perempuan.

Aku jadi tidak menghargai sama sekali pencapaian kecil seperti saat aku berhasil mengecilkan linggar pinggang celanaku 3 cm setelah aku melahirkan. Lenganku yang sudah tidak sebesar saat baru melahirkan dan hal lainnya seperti kesehatanku dan anakku. Lupa juga bahwa aku dianugerahi kulit wajah yang hampir tidak ada masalah seperti jerawat, flek, dan sejenisnya.

Aku kembali bertanya apa dan siapa yang sebenarnya penting untuk hidupku? Orang-orang dan segala komentarnya itu ternyata sama sekali tidak ada yang penting. Bisa dikatakan mereka adalah toxic people yang tidak seharusnya ada dalam prioritasku. Dan orang-orang yang penting seperti suami, adik, dan sahabat-sahabatku tidak pernah sama sekali mengeluhkan atau berkomentar tidak enak tentang bentuk tubuh atau berat badanku. Akhirnya pelan-pelan aku mulai bisa menerima semua perubahan ini.

Aku mulai mencari dan menonjolkan kelebihan yang aku miliki. Lebih rajin pakai skincare dan belajar tutorial make up ternyata cukup membantu sekali. Aku juga sudah mulai menyingkirkan baju-baju lama yang sempit dan mulai nyaman beli baju dengan ukuran yang lebih besar karena kenapa enggak, toh ternyata saat pakai ukuran yang memang pas dengan tubuhku yang sekarang aku juga tetap terlihat cantik. Lebih mengeksplorasi berbagai model pakaian.

Aku bertekad untuk menekuni kesukaanku memasak dan bikin kopi karena saat melalukannya aku bisa merasa lebih berarti. Aku juga mulai berusaha rajin menulis jurnal dan menulis blog. Tidak kusangka bahwa menulis apa yang aku alami, rasakan dan syukuri sehari-hari sangat membantuku untuk lebih mengenal dan mencintai diriku sendiri. Akhir-akhir ini menulis pun menjadi sarana yang sangat baik untuk menyalurkan dan meredam emosi yang kadang kala timbul bahkan membantuku untuk menemukan jawaban atas persoalan sehari-hari.

Akhirnya aku menyadari bahwa self-love tidak bisa diukur dari kesempurnaan fisik seperti cantik dan langsing saja. Self-love erat kaitannya dengan self-acceptance. Self-love hanya bisa dimulai ketika kita bisa menerima semua yang ada pada diri kita termasuk hal-hal yang sebetulnya tidak kita sukai. Setelah bisa menerima ketidaksempurnaan itulah baru kita bisa mencari serta menemukan begitu banyak sebetulnya kelebihan yang kita miliki yang dapat digali dan ditonjolkan untuk lebih mencintai dan menghargai diri sendiri.

#ChangeMaker