Hidup dengan Pekerjaan yang Tidak Dicintai Itu Menyiksa

Endah Wijayanti diperbarui 01 Apr 2020, 14:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Regina

Semakin memasuki usia dewasa, beberapa dari kita sebagai perempuan semakin kesulitan untuk memperjuangkan dan menghargai impian dan keinginan dalam diri masing-masing. Saya sendiri mengalaminya, dan saya merasakan banyak sekali kesulitan dan rasa stress karena memungkiri suara hati saya sendiri demi orang lain. Tindakan menyakiti diri sendiri ini saya alami di bangku kuliah dan saat bekerja. Kemudian, saya sadar bahwa saya perlu mengejar apa yang benar-benar menjadi impian saya.

Tidak Dapat Kuliah pada Jurusan yang Diminati

Saat akan duduk di bangku kuliah, saya tidak bisa dengan bebas memilih jurusan perkuliahan yang saya inginkan. Sejak ayah saya berpulang, kakak saya menggantikan posisi ayah saya dalam menafkahi keluarga termasuk membiayai perkuliahan saya. Dia sukses setelah lulus dari jurusan akuntansi dan mendapat pekerjaan dengan gaji bagus di salah satu perusahaan asing. Melihat kondisi kakak saya itu, maka ibu dan tante mendesak saya agar menempuh pendidikan pada jurusan yang sama.

Padahal akuntansi sama sekali bukan keahlian dan bukan minat saya. Mengingat saya tidak bisa membebani kakak saya dengan biaya kuliah yang membengkak, maka saya memutuskan untuk memasuki jurusan yang sama dengannya saat kuliah, terutama karena dia pun mengharapkan saya menjadi salah satu mahasiswa jurusan akuntansi pula. Namun meskipun lulus dengan IPK yang baik, saya menjalaninya dengan berat hati dan penuh kesulitan. Saya perlu tenaga ekstra untuk dapat lulus dari setiap mata kuliah, terutama karena saya tidak tertarik dan tidak memiliki bakat pada bidang ini.

 

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Mencari Pekerjaan yang Tepat

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Setelah lulus dan mendapat pekerjaan, rupanya kesedihan dan penderitaan yang saya alami semakin bertumpuk. Meskipun gaji yang di dapat diatas teman-teman yang menempuh pekerjaan dibidang yang sama, namun hati saya menangis dan menjerit. Ini salah. Tempat saya seharusnya bukan di sini. Yang saya impikan dan harapkan bukanlah bekerja di bidang ini.

Beberapa bulan setelah itu, saya memutuskan untuk resign. Setelah itu, saya hidup sesuai dengan apa yang saya impikan dan harapkan. Saya senang menyanyi dan menulis, maka saya semakin memperdalam potensi dan minat saya pada kedua hal itu. Saya mulai mengunggah lagu-lagu yang saya cover di internet, mengikuti lomba-lomba menyanyi dan menulis, dan mempelajari banyak hal dari keduanya.

Banyak kegagalan dan rasa malu yang saya petik dalam menekuni kedua bidang tersebut, namun saya menghargainya. Dengan kegagalan, saya memperkaya pengalaman dan semakin belajar akan kekurangan dan kelebihan saya. Meskipun saya baru berhasil memenangkan beberapa lomba dan belum memiliki pekerjaan tetap pada kedua bidang tersebut, namun saya merasa sangat puas dan hidup saya menjadi lebih berarti. Sebagai perempuan, kita memiliki hak untuk memperjuangkan dan menghargai suara hati kita.

Tidak selamanya menjalani harapan orang lain adalah jalan hidup yang baik untuk kita. Karenanya jangan pernah mengkhianati suara hati sendiri. Dengan mencintai harapan dan impian sendiri, kita pun telah menjalankan kewajiban untuk mencintai diri sendiri. Dengarkan suara hatimu dan percayalah padanya, agar kita pun lebih menikmati hidup dan memiliki kehidupan yang bermakna.

#ChangeMaker