Untuk Menghilangkan Sifat Minder, Perubahan Harus Dimulai dari Diri Sendiri

Endah Wijayanti diperbarui 01 Jul 2020, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Linda Mustika Hartiwi

Aku lahir di daerah perkebunan karet dan kopi yang suasananya tenang dan jauh dari hingar bingar atau hiruk pikuk keramaian kota. Ayahku bekerja di kantor administrasi perkebunan dan kami sekeluarga tinggal di rumah dinas waktu itu. Masa kecil indah kujalani bersama adikku dalam asuhan ayah dan ibu. Aku dan adik juga sering berkumpul dengan teman di sekitar rumah untuk belajar bersama, bermain bersama, mencari buah karet atau memetik jamur di pinggir sungai. Masih teringat riangnya aku bersama teman sepermainan waktu tinggal di perkebunan.

Aku belajar mencari ilmu di sekolah TK (Taman Kanak-Kanak) dan SD (Sekolah Dasar) yang tak jauh dari rumah dinas ayah dan ibuku. Aku tidak mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Apalagi suasana malam hari yang tenang membuatku mudah untuk mengerti dan menghapal buku pelajaran yang kubaca. Hingga waktunya aku melanjutkan sekolah ke jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama), ayah mendaftarkan aku ke sekolah SMP yang ada di kota kecamatan. Aku menurut saja dengan kehendak ayah dan untuk pertama kalinya aku tinggal di rumah kost, jauh dari ayah dan ibu juga adik.

Menjalani kehidupan di rumah kost dan menimba ilmu di sekolah bersama banyak teman dari berbagai daerah sekitar kota kecamatan membuatku sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan rumah kost dan teman yang baru. Aku lebih suka menyendiri dan sulit untuk akrab dengan orang atau teman di sekitarku. Aku takut tidak diterima dalam pergaulan dan tersisih. Hal itu sangat beralasan, mungkin karena aku sebelumnya telah terbiasa dengan lingkungan yang tenang dan bertemu dengan sedikit orang saat tinggal di perkebunan. Namun kupaksakan untuk kuat dan belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar di mana aku berada karena aku tidak ingin gagal di sekolah.

Kasihan ayah dan ibu yang telah bersusah payah mengeluarkan uang untuk biaya kost dan sekolahku. Sekali waktu aku bercerita terutama kepada ibuku tentang kisah suka dan duka yang kualami. Dengan sabar ibuku memberikan nasehat yang menjadi penenang hatiku untuk tetap semangat dalam menjalani keseharianku selama jauh dari keluarga. Berbekal nasihat atau wejangan dari ayah dan ibu, aku mampu untuk betah tinggal di rumah kost dan tidak ketinggalan jauh dari teman sekelas saat menerima pelajaran di sekolah. Aku pernah menjadi yang terbaik serta terpilih menjadi ketua OSIS di sekolah. Suatu pencapaian diri yang membuatku sadar bahwa ternyata aku mampu untuk meraih kesuksesan dengan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka dan mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitar.

Hingga akhirnya aku lulus dari SMP dan melanjutkan sekolah ke SMA (Sekolah Menengah Atas) yang juga ada di kota kecamatan. Kembali aku tinggal di rumah kost yang dekat jaraknya dari sekolah. Aku berusaha untuk tidak malas belajar agar tidak tertinggal teman di kelas dalam menerima pembelajaran dari guru. Banyak pula kisah suka dan duka yang kualami yang sebagian berawal dari sikap tertutupku karena minder maupun kesulitanku untuk beradaptasi dengan orang dan lingkungan di sekitarku. Semua kujalani dengan mengingat nasihat ayah dan ibuku yang merupakan penyemangat hidupku.

Berselang tiga tahun kemudian setelah lulus dari SMA, aku melanjutkan kuliah di PT (Perguruan Tinggi) yang ada di luar kota. Tinggal di rumah kost bersama teman atau berkumpul bersama teman kuliah yang berasal dari banyak kota bahkan luar pulau dengan berbagai karakter yang berbeda-beda sempat membuatku tidak kerasan dan ingin pulang ke rumah. Lagi-lagi semua berawal dari kesulitanku untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarku.

Kemudian terbayang wajah lelah ayahku yang bekerja keras untuk mencari nafkah bagi keluarga termasuk mengupayakan biaya sekolahku juga adik, aku berjuang untuk menghilangkan sifat burukku itu. Beruntung aku memiliki teman sekamar yang care dan tidak pelit untuk berbagi apa pun denganku saat aku mendapat kesulitan. Demikian juga aktivitasku di kampus yang membuatku bertemu banyak teman, membuka hatiku untuk belajar menerima masing-masing pribadi yang berbeda karakter denganku.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Pengalaman selama tiga tahun di SMP dan tiga tahun di SMA membuatku perlahan terlatih untuk menjalani keseharian hidup yang jauh dari ayah dan ibu juga adik. Mau tidak mau aku harus mampu untuk beradaptasi demi ketenangan juga kebahagiaan dalam menjalani kehidupan dan kubulatkan tekad untuk mencapainya.

Tak terasa bertahun lamanya aku hidup merantau untuk mewujudkan harapan baik ayah dan ibu untukku, aku lulus kuliah tepat waktu. Kulihat gurat kebahagiaan di wajah ayah dan ibu saat menghadiri wisuda sarjanaku. Aku pun mengucap syukur kepada-Nya telah memenuhi keinginan kedua orangtuaku menuntaskan jenjang pendidikan dengan beragam kisah yang kualami.

Setelah lulus kuliah, aku memilih kembali ke daerah asalku dan tidak mengadu nasib di luar kota. Aku mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat yang ada. Di sela hari menunggu panggilan kerja, aku menikah dengan seorang teman sekolah SMA yang telah bekerja dan kami tinggal di rumah kontrakan yang sederhana. Sampai kemudian aku mendapat panggilan kerja dari salah satu tempat yang kukirimi surat lamaran kerja dan aku diterima bekerja sebagai karyawan bagian administrasi. Meskipun aku telah menikah yang berarti usiaku telah dewasa dan banyak pengalaman yang kudapatkan selama sekolah, masih saja aku merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerjaku. Beruntung suamiku cukup sabar mendengarkan keluhanku dan memberikan semangat kepadaku untuk bisa bersikap terbuka dan tegas sehingga tenang dalam menghadapi situasi kerja maupun rekan kerja.

Dalam rentang waktu yang berjalan selama aku bekerja, ada kutemui kendala seperti banyaknya pekerjaan yang mencapai waktu deadline, adanya rekan kerja yang jahat atau rekan kerja yang suka bersikap mencari muka dengan menjatuhkan rekan kerja lain di depan pimpinan. Aku harus pandai menyikapinya dengan membuang sikap keraguan serta meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri di mana aku berada. Berbekal niat baik untuk bekerja serta mempunyai loyalitas yang tinggi kepada perusahaan, satu demi satu kendala atau tantangan dalam pekerjaan dapat kuselesaikan dan aku terpilih menjadi karyawan terbaik di tempat kerjaku.

Ada pelajaran hidup berharga yang dapat kupetik dari uraian kisahku di atas, bahwa aku harus berubah untuk menghilangkan sifatku sebagai pribadi yang tertutup, minder serta sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitarku karena hanya akan menyiksa diri. Aku harus bangkit menjadi pribadi yang lebih baik agar aku bisa menjalani kehidupanku dengan tenang dan damai juga demi kebahagiaan diriku dan keluargaku.

Salam.

#ChangeMaker