Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal, Salah Satu Ragam Kekayaan Budaya Indonesia

Endah Wijayanti diperbarui 19 Agu 2020, 07:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti punya pengalaman tak terlupakan terkait negeri kita tercinta Indonesia. Ada kebanggaan yang pernah kita rasakan sebagai bagian dari Indonesia. Kebanggaan terhadap keindahan alam Indonesia, kekayaan tradisi dan budaya, kecintaan terhadap masyarakat Indonesia, dan lain sebagainya. Kita pun punya cara tersendiri dalam mengartikan kebanggaan terhadap tanah air ini. Melalui Lomba Share Your Stories Bulan Agustus: Bangga Indonesia ini, Sahabat Fimela bisa berbagi cerita, pengalaman, dan sudut pandang tentang hal tersebut.

***

Oleh: Hajria

Tanah kampung ibarat jejak sejarah yang menjadi saksi bahwa kita pernah lahir, tumbuh dan berkembang di sana. Mau sejauh apa pun kaki melangkah, kaki ini tidak akan pernah lupa bahwa tanah yang paling nyaman untuk dipijak adalah tanah kampung sendiri. Serusak apa pun jalan di kampung, sesusah apa pun sinyal di sana, tetaplah hati yang lebih tahu ke mana ia harus pulang. Aku selalu rindu dengan ramahnya orang kampung yang tidak pernah lelah menebar senyum kepada siapa pun. Rindu juga dengan wanginya bunga pohon kopi yang mekar saat cuaca dingin. Apalagi suara jangkrik yang menambah syahdunya malam ketika bulan sedang penuh-penuhnya. 

Perkenalkan, kampungku yang kecil dan sering mati listrik. Bukan kampung terpencil, namun jalan di sana sedikit berkelok dan berbukit. Kabut dan cuaca dingin akan menyambut siapa saja yang lewat di jalan itu. Hati-hati juga ketika musim hujan datang, karena tanah mudah bergerak dan sering terjadi longsor. Meskipun begitu kampungku tetap dikenal asri dengan keindahan alamnya yang mempesona dan budaya serta adat istiadatnya yang masih lestari sampai sekarang. Bahkan salah satu tradisi di sana sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dari Jawa Tengah oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan pada tahun 2016. Yaitu ruwatan rambut gimbal. Di mana tradisi itu kini digelar setiap tahun sebagai upaya melestarikan budaya leluhur agar tak terlupakan oleh majunya perkembangan teknologi saat ini. 

Ruwatan rambut gimbal adalah upacara pemotongan rambut pada anak-anak yang berambut gimbal yang dilakukan oleh masyarakat di Dataran Tinggi Dieng yang biasanya diadakan pada tanggal satu suro menurut kalender jawa. Konon katanya, upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan membebaskan anak-anak yang berambut gimbal dari kesialan, kesedihan, ketidak beruntungan, dan malapetaka. 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Tradisi yang Perlu Dilestarikan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ipunk%2Bkristianto

Banyak orang percaya bahwa anak-anak berambut gimbal bukanlah anak biasa seperti pada umumnya. Dalam kehidupan masyarakat di sana, anak berambut gimbal dipercaya sebagai keturunan Kyai Kolodete dan titipan Kanjeng Ratu Kidul. Untuk itu, prosesi pemotongan rambutnya tidak boleh sembarangan. Rambut gimbal hanya boleh dipotong ketika sang anak sudah memintanya untuk dipotong. Jika tidak, konon sang anak akan menjadi sakit-sakitan dan tidak beruntung dalam hidupnya. Dan sebelum rambut dipotong, biasanya sang anak akan mengajukan sebuah permintaan dan harus dituruti oleh kedua orangtuanya. Permintaannya pun kadang unik dan sulit ditebak. Tak jarang banyak orangtua yang kesulitan mewujudkan permintaan si anak tersebut. 

Prosesi pemotongan rambut gimbal biasanya diadakan di komplek Candi Arjuna dengan dipimpin oleh tetua adat di Dieng. Prosesi dimulai dengan lantunan tembang macapat dandanggula yang terdengar sangat merdu. Setiap rambut gimbal yang telah dipotong akan dimasukan ke dalam gentong dan dilarung ke sungai yang mengalir sampai ke laut selatan. Biasanya tempat yang digunakan untuk pelarungan adalah telaga warna. Dan prosesi pelarungan ini, merupakan puncak atau akhir dari prosesi tersebut. 

Dahulu, setiap orangtua yang memiliki anak berambut gimbal harus mengadakan acara pemotongan sendiri. Namun, setelah adanya DCF  atau Dieng Culture Festival yang diadakan setiap tahun, acara pemotongan rambut gimbal kini diadakan secara masal bahkan lebih meriah karena dikemas dengan berbagai unsur budaya . Tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Dieng yang mampu mengundang banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang ke sana. 

Aku bangga sekali dengan Indonesia yang kaya akan budaya yang mampu membuat siapa saja berdecak kagum melihatnya. Tidak hanya hamparan alamnya yang begitu indah, tapi juga banyaknya tradisi yang sampai sekarang masih tetap lestari. 

#ChangeMaker