Berani Berubah: Mudik WFH Saat Pandemi Lidya Sukses Bisnis Sayur-Buah dari Kebun Sendiri

Novi Nadya diperbarui 03 Okt 2020, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Berasal dari keluarga besar yang berprofesi sebagai petani, Lidya Sophiani sama sekali tak tertarik untuk ikut berpartisipasi. Ia justru memutuskan untuk tinggal dan bekerja di Jakarta ketimbang mengurus perkebunan keluarga yang terletak di daerah Cibodas, Lembang, Bandung.

Namun rasa ketertarikan berkecimpung di dunia pertanian mulai muncul saat Lidya yang memutuskan untuk mudik selama diberlakukan kebijakan WFH atau work from home di awal pandemi. Berawal dari keheranan sekaligus keprihatinan saat ia mengunjungi perkebunan keluarga seluas 5 hektar tersebut.

 

"Heran karena melihat tomat, cabe, jeruk sudah siap dipanen tapi malah dibiarkan. Rupanya saat itu harga komoditas lagi turun banget dan kalau dipanen bukan untung malah buntung, karena lebih mahal bayar upah orang panen daripada harga jual ke tengkulak," ujar Lidya membuka obrolan saat dihubungi Fimela belum lama ini.

Selain dibeli dengan harga 'super-tega' dari para tengkulak, terkadang proses pemilihan komoditas yang dinilai dari bentuk sayur-mayur dan buah juga dinilai tidak masuk akal. Akhirnya Lidya tergugah untuk ikut mengadvokasi agar harga jual komoditas para petani yang juga keluarganya dihargai lebih manusiawi. 

"Bisa jadi harga jual lagi jatuh banget dipengaruhi pandemi, tapi selain itu faktor visual sayur dan buah sendiri juga jadi problem. Ada beberapa tanaman yang bentuknya gak disukai bisa di-reject dan tidak dibeli, bayangkan ada 100 kg tiap panen yang tidak diangkut, makanya ingin bantu advokasi harga jual lebih tinggi," lanjutnya.

 

 

Perkebunan Cibodas Family Farm, Lembang, Jawa Barat (Foto: Dok. Pribadi)
2 dari 3 halaman

Memulai Pendistribusian Mandiri dan Inisiasi Produk Olahan

Komoditas Cibodas Family Farm (Foto: Dok. Pribadi)

Sampai akhirnya Lidya memutuskan untuk ikut andil dalam pendistribusian mandiri. Dimulai dengan membawa beragam komoditas seperti kentang, tomat, dan jeruk masing-masing sebanyak 20 kg ke rumah untuk dipasarkan sendiri.

"Aku mulai jualin ke temen-temen sendiri dan kaget ternyata setiap bawa pulang sayur dan buah selalu habis. Aku jual dengan harga yang lebih layak dari tengkulak karena petani harus dapat harga yang lebih fair," lanjutnya. 

Selain menjual komoditas segar, Lidya pun berinisiasi untuk mengolah hasil panen dengan sisa umur yang tidak panjang lagi untuk dijadikan bentuk lain yang punya nilai jual. Sejauh ini ia berhasil mengolah tomat dan jeruk menjadi produk olahan berdaya jual. 

"Seperti tomat, kalau sudah benar-benar matang, kan, gak enak ya, berair. Nah padahal bisa diolah jadi saus bolognese yang bisa tahan 2-3 bulan. Dan buat yang malas ngupas jeruk, kami coba jadikan jus jeruk siap minum yang dibutuhkan banget sekarang untuk menjaga imunitas karena kaya vitamin C," sambung Lidya.

Tak disangka kedua produk olahannya pun diminati para pembeli. Bahkan hasil panen jeruk dari kebun sendiri tidak sanggup menutupi permintaan jus jeruk dan membuatnya mencari dari perkebunan di sekitarnya.

"So far kami bisa bantu menyalurkan 20 persen komoditas. Kecuali dari kebun jeruk ya, itu laku banget. Sayuran lain tetap disalurkan pada tengkulak, tapi at least jadi ada opsi, enggak satu pintu doang," ujarnya bersemangat.

 

Produk olahan Cibodas Family Farm jus jeruk dan saus bolognese (Foto: Dok. Pribadi)
3 dari 3 halaman

Jadi Peluang Bisnis di Masa Pandemi

Lidya Sophiani dan keluarga membangun bersama 'Cibodas Family Farm' (Foto: Dok. Pribadi)

Hingga akhirnya, Lidya dibantu adik, ibu, dan ayahnya menyeriusi bisnis dan mulai menjual lewat Instagram sejak awal Agustus. Selain pelanggan baru, Lidya pun memiliki pembeli loyal yang membeli produknya sejak awal berjualan. 

"80 persen orang Jakarta yang beli, sisanya dari Bandung, hehehe. Serius surprise banget karena enggak pernah berpikir akan terjun bisnis dan super-surprise omzetnya bisa menyamai gajiku, tapi dibagi empat ya sama keluarga," bebernya. 

Pembagian tugas dengan keluarga membuatnya tetap bisa menjalani pekerjaan utama di salah satu perusahaan konsultan komunikasi bergengsi di Jakarta. Masing-masing sudah punya job desk-nya, ia pun kebagian bertanggung jawab atas marketing dan komunikasi 'Cibodas Family Farm'. 

Awalnya Lidya mengaku sempat kewalahan karena menyanggupi pengiriman setiap hari. Hingga akhirnya menemukan alur yang lebih terogranisir untuk mengirimkan produknya setiap hari Senin.

"Jadi order dari Senin-Minggu dan Senin mulai pengiriman, cara itu lebih efektif. Dalam waktu dekat, aku juga akan masuk ke Ecommerce yang bikin kami semua makin semangat, karena pasarnya gede dan ini bisnis yang sustain terutama di masa pandemi, di mana orang lebih aware tentang kesehatan untuk konsumsi buah dan sayuran," tutup Lidya