Telemedicine Buat Pasien Kanker Payudara Lebih Mudah Berobat di Masa Pandemi

Anisha Saktian Putri diperbarui 02 Des 2020, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Bagi sebagian orang, pandemi COVID-19 telah membuat rumah sakit menjadi tempat yang menakutkan untuk dikunjungi, baik dari sisi keamanan ataupun finansial, bahkan ketika mereka sangat membutuhkan layanan medis. Dalam situasi seperti ini, inovasi digital telemedicine menjadi solusi yang amat dibutuhkan agar masyarakat dapat tetap mengakses layanan kesehatan. Tak terkecuali para pasien kanker payudara metastasis yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan rutin.   

Berangkat dari kebutuhan tersebut, ASA DARA hadir sebagai inovasi dari Pfizer Indonesia, Halodoc dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Diluncurkan pada Mei 2020, program bantuan unik berbasis digital ini memastikan keberlanjutan perawatan pasien kanker payudara HR+/HER2- di Indonesia, khususnya selama masa pandemi. 

CEO Halodoc Jonathan Sudharta mengatakan lewat ASA DARA, Halodoc menghadirkan solusi digital yang membantu pasien kanker payudara setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi mereka dan memperoleh pengobatan yang mereka butuhkan dari Pfizer untuk langsung diantar ke mana pun mereka berada.

"Aplikasi layanan kesehatan digital ini juga bekerja sama dengan Pfizer Indonesia untuk meringankan sebagian beban finansial pasien kanker payudara, khususnya untuk membeli obat-obatan yang amat mereka butuhkan," ujar Jonathan dalam siaran pers yang diterima Fimela.

Public Affairs Director Pfizer Indonesia Bambang Chriswanto menyampaikan target jangka panjang ASA DARA untuk meningkatkan tingkat keselamatan bagi pasien kanker payudara metastasis di Indonesia. 

“Sejak peluncuran ASA DARA, kami amat bergembira melihat adanya peningkatan kepesertaan dalam layanan ini. Hal ini tak terlepas dari dukungan Pemerintah terhadap pelayanan kesehatan berbasis digital, dan kami pun amat mengapresiasi berbagai regulasi yang mendorong inovasi digital dan solusi akses inovatif yang dibutuhkan pasien di Indonesia saat ini," ujarnya.

 

 

2 dari 2 halaman

Kanker Payudara di Indonesia

Ilustrasi kanker payudara. (Sumber Foto: silbermanvoices.com)

Kanker payudara adalah kanker invasif yang paling umum terjadi pada wanita secara global, dengan lebih dari 2 juta perempuan terkena setiap tahunnya.Menurut studi Globocan 2018, kanker payudara menempati peringkat tertinggi di Indonesia dengan 58.256 kasus baru pada 2018 dan menempati posisi kedua penyebab kematian karena kanker, setelah kanker paru-paru

Tak hanya itu, para ahli kesehatan memperkirakan peningkatan jumlah kematian akibat kanker payudara sekitar 43% secara global dari 2016 hingga 2030. Hal ini akibat metastasis atau penyebaran subtipe kanker payudara HR+/HER2- ke bagian tubuh lainnya, seperti tulang, kelenjar getah bening, ataupun organ tubuh seperti paru-paru. 

Layanan ASA DARA terdiri dari tiga pilar, yakni Asah, Asih, dan Asuh. Pilar Asah merupakan program edukasi masyarakat berupa sosialisasi dan talk show tentang kanker payudara HR+/HER2- yang dilakukan lewat kerja sama dengan sejumlah komunitas pasien kanker payudara seperti Cancer Information & Support Center, Yayasan Dara Indonesia,  Makassar Cancer Care Community, dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia.

Pilar Asih merupakan program bantuan keringanan dan layanan digital inovatif bagi pasien kanker payudara metastasis. Dalam pelaksanaannya saat ini, program ini diwujudkan melalui kerja sama antara Pfizer Indonesia,  Halodoc, dan Yayasan Kanker Indonesia.

Berdasarkan data terbaru yang diperoleh Pfizer Indonesia, pengisian formulir bantuan keringanan dari ASA DARA meningkat sekitar 13% setiap bulannya dan sebanyak 60% di antaranya merupakan pengguna yang mengakses layanan secara berulang. Sembilan kota yang tercatat paling banyak menggunakan layanan ASA DARA adalah DKI Jakarta, Bandung, Medan, Palembang, Batam, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar.

#changemaker