Jauh tapi Dekat di Hati, Jarak Bukanlah Penghalang Menjalin Silaturahmi

Endah Wijayanti diperbarui 04 Mei 2021, 08:02 WIB

Fimela.com, Jakarta Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Mutiara Diah

Bulan Ramadan menjadi bulan spesial dan paling dinantikan bagi umat muslim di dunia. Bulan yang penuh keceriaan dan penuh keberkahan tentu menjadi tempat bagi umat muslim berlomba-lomba memperbaiki diri.

Bulan Ramadan, banyak kegiatan positif yang biasanya terlaksana seperti pembagian takjil keliling, salat tarawih berjamaah di masjid, membaca Al-Qur'an di masjid, dan masih banyak lagi. Namun sayang, Ramadan kali ini lagi-lagi kita disuruh untuk berdiam diri di rumah dan tidak dapat melakukan mudik lebaran.

Hari-hari sepi hanya ditemani alarm jam setiap sahur dan suara azan dari televisi ketika berbuka membuatku harus kuat beradu dengan ego. Dalam hati ingin rasanya pulang, menjenguk kampung halaman yang sudah kutinggalkan dua tahun lalu. Aku yang di sini harus merasakan lebaran untuk kedua kalinya hanya dengan suara telefon mendengar suara ayah dan ibu.

Harapanku di tahun lalu yang dapat melepas rindu di kampung halamanpun harus sirna kembali. Aku yang di sini merantau, berjuang untuk mencari ilmu harus mampu bertahan demi kebahagiaan orangtua, meskipun di lain hal aku sangat merindukan mereka. Kulihat foto di sepanjang tidurku dan berharap agar kelak usahaku ini dapat menjujung martabat keluargaku yang aku tinggalkan sementara waktu.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Masih Bisa Berkomunikasi dan Bersilaturahmi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Thawatchai+Laochaiyapruk

Hal yang membuatku tak mampu membendung air mata ini turun ketika saat itu, di pagi hari aku telepon Ibu untuk meminta doa agar ujianku berjalan lancar dan seketika air mata itu terus mengalir. Dulu ketika aku masih kecil, aku selalu menyentuh kaki dan mencium tangannya ketika meminta restu hal apa pun itu. Namun, sekarang sulit rasanya mendekap raganya cukup mendengar suaranya.

Yang selalu membuatku yakin adalah kerja keras dan doa dari orangtuaku hingga aku mampu bertahan di perantauan ini. Ketika sahur di kost aku juga selalu tersenyum ketika mengingat masa saat aku masih sulit dibangunkan saat sahur dan makan pun diambilkan oleh ibuku karena waktu sudah hampir azan subuh. Ingat betul rasanya ketika ibu menyusulku ke masjid karena setelah membaca Al-Quran aku belum juga kembali pulang. Rasanya sungguh menyenangkan jika aku dapat berkumpul bersama saat ini.

Namun, aku juga harus mengerti bahwa kebijakan ini diberlakukan untuk keamanan masyarakat Indonesia. Jika aku memaksakan kehendakku dan tetap pulang ke kampung halaman nantinya juga akan berdampak buruk pada keluargaku. Oleh karena itu, rasa syukur harus ditingkatkan guna menerima hikmah dari setiap cobaan yang ada.

Untuk saat ini aku lebih bersyukur kembali karena aku masih bisa melakukan komunikasi bersama keluargaku meskipun online. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa sayang dan cinta dari seorang anak kepada orang tua maupun sebaliknya. Menurutku, aku jadi lebih sering berkomunikasi melalui pesan suara kepada ibuku dan aku jadi lebih memahami pentingnya suatu komunikasi dalam suatu hubungan itu sangatlah penting.

Nyatanya jarak bukanlah suatu penghalang jika masih ada niat tulus dan ikhlas untuk terus menjalin silaturahmi. Silahturahmi masih bisa dijalin dengan berbagai cara salah satunya komunikasi pesan suara ataupun media sosial lainnya.

Selain itu, aku juga jadi memahami satu hal bahwa apa pun itu harus disyukuri baik keadaan, kehadiran seseorang, atau pun suatu masa, apapun itu harus disyukuri setiap langkah kita. karena pada dasarnya, manusia akan merasa kurang jika kita terus melihat ke atas atau sesuatu yang sebenarnya jauh dari jangkauan kita atau ketika kita tidak mampu mensyukuri apapun itu baik sebuah berkah maupun ujian.

Percaya pada Tuhan, bahwa Ia tidak pernah tidur dan selalu adil sehinga cobaan apa pun yang sedang kita alami pastinya sesuai dengan porsi kemampuan kita tidak lebih maupun kurang. Sehingga tidak perlu risau. Pasrahkan saja semuanya pada Tuhan karena semua berkah dan ujian yang kita miliki datangnya dari Tuhan sehingga hanya pada-Nya lah kita harus bergantung.

#ElevateWomen