Tak Hanya Medis, Psychological First Aid Penting untuk Mengurangi Trauma Korban Bencana

Anisha Saktian Putri diperbarui 07 Mei 2021, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Letak strategis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa serta tiga lempeng yaitu Eurasia, Indoasia dan Pasifik menjadi faktor pemicu seringnya terjadi bencana alam. Indonesia bahkan masuk dalam 35 negara paling rawan di Indonesia. Sepanjang tahun 2021 ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 1.125 bencana alam terjadi di tanah air.

Bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami memberikan dampak destruktif yang sangat besar bagi masyarakat. Hampir semua ranah terpengaruh bahkan lumpuh. Tak terkecuali pendidikan. Menurut data Kemendikbud per 2017,  terdapat 250.000 sekolah di Indonesia yang berada di wilayah risiko tinggi multi bencana. Ketika bencana melanda, bukan hanya bangunan sekolah yang roboh, kegiatan yang berkaitan pendidikan pun praktis terhenti.

Dampak bencana yang tidak kalah penting namun seringkali luput dari perhatian adalah gangguan kejiwaan (psikologis) pada anak atau biasa disebut trauma. Berbeda dengan biaya kerusakan secara sosial atau ekonomi yang dapat dihitung, dampak psikologis pada anak pasca bencana tidak dapat diprediksi waktu, durasi serta intensitasnya.

Gejala trauma yang muncul pun juga berbeda-beda, sehingga tidak dapat dibandingkan antara satu anak dengan anak lainnya. Beberapa contoh trauma pada anak pasca bencana adalah gangguan kecemasan, mudah panik, stres akut sampai depresi. Gejala-gejala tersebut apabila diabaikan tentunya akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mentalnya.

Hal tersebut juga yang melatarbelakangi Cetta Satkaara bersama Rumah Guru BK (RGBK) untuk mencetuskan program edukasi trauma healing pasca bencana.

Christina Dumaria Sirumapea M.Psi.,Psikolog, Psikolog Klinis Dewasa dan Associate Assessor di TigaGenerasi pentingnya pengetahuan mengenai Psychological First Aid (PFA) bagi korban bencana. Sebab, dalam situasi trauma, diperlukan PFA atau pertolongan pertama psikologis selain medis, untuk mengurangi bahaya psikologis. 

PFA dapat membantu membangun ketahanan dan mengurangi dampak trauma dan kehilangan yang luar biasa. Ini bukan sekadar konseling atau tanya jawab. PFA membekali korban dengan dukungan emosional, keterampilan mengatasi, dan koneksi ke layanan praktis.

“PFA itu dukungan praktis layaknya kotak obat darurat yang bisa digunakan orang awam untuk membantu sementara dalam penanganan korban pasca bencana agar lebih tenang dan aman. Namun untuk tahap lanjutannya tetap harus ditangani oleh profesional yaitu psikolog atau dokter,” ujar Ina dalam siaran pers yang diterima Fimela.com.

Co Founder dan Senior Advisor PT Cetta Satkaara, Ruth Andriani pun menuturkan rentetan bencana yang terjadi di tanah air belakangan ini membawa keprihatinan dan menggugah rasa kemanusiaan untuk ikut menolong. Namun sayangnya, bantuan di ranah psikologis masih sering terlupakan, padahal banyak korban yang masih menyisahkan trauma psikis berkepanjangan pasca bencana. 

“Sebagian orang berfokus hanya pada luka fisik dan menekankan pentingnya kehadiran bantuan medis saat bencana terjadi. Belum banyak yang memahami bahwa ada luka emosional, terutama pada anak yang sama sakitnya dan butuh perhatian lebih untuk ditangani,” ujar Ruth.

2 dari 2 halaman

Ada empat landasan PFA

Depresi | Unsplash.com/ Paolao Chaaya

Perempuan yang akrab disapa Ina ini tersebut menjelaskan bahwa PFA dibagi menjadi empat landasan yakni prepare, look, listen dan link.

Prepare yakni pengamatan situasi kemanan, gejala serta bantuan yang dibutuhkan korban. Look adalah pendekatan sebagai pendengar aktif untuk membantu korban menenangkan diri. Listen diterapkan dengan memberikan akses layanan kesehatan. Link dengan menghubungkan korban ke tenaga profesional sesuai kebutuhannya.

"Yang perlu digarisbawahi adalah jangan bertanya terlalu detail mengenai trauma yang dialami karena justru akan mentriger ingatan korban akan pengalaman bencana,” tutur Ina.

Besarnya dampak trauma pasca bencana pada anak mendorong peran orang dewasa, dalam hal ini guru untuk turun tangan melakukan pemulihan.