Pengalaman Traveling ke Situbondo dengan Rp60 Ribu Saja

Endah Wijayanti diperbarui 14 Jun 2021, 10:10 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah

Pandemi memang belum berakhir. Namun, bukan berarti aku tidak bisa traveling. Asal mengikuti protokol kesehatan, semua pun bisa dilakukan. Hal itulah yang membuatku tetap traveling. Kali ini tujuanku ke Situbondo. Sebuah kota kecil sebelum Banyuwangi ujung timur Pulau Jawa.

Silaturahmi ke Tempat Adik

Mempunyai sisa cuti yang belum terpakai, kuputuskan untuk silaturahmi ke tempat adik di Situbondo. Terakhir ke sana tahun 2013. Sudah lama banget kan? Pasti sudah banyak yang berubah. Perjalanan di daerah Jawa Timur relatif lebih mudah dibandingkan ke provinsi lain. Asal masih wilayah Jawa Timur tidak perlu melakukan tes swab antigen.

Izin cuti sudah kudapat. Kutinggalkan kantor dan rutinitas pekerjaan dengan tenang. Sejak seminggu sebelumnya, semua persiapan pun sudah kulakukan. Terutama bujet selama liburan. Karena kebocoran bujet biasanya oleh pengeluaran yang kecil-kecil.

Menggunakan Sepeda Motor

Sepeda motor kupilih karena lebih santai dan bisa berangkat sewaktu-waktu. Kami tidak harus menunggu bus atau transportasi lainnya. Kapan pun kami mau pergi, bisa langsung jalan. Begitu pun ketika mau istirahat. Tinggal mampir di suatu tempat atau tempat wisata. Selain itu, bujet pun lebih murah dan hemat.

Pukul Tiga Dini Hari

Awalnya aku dan suami berencana berangkat sepulang kerja. Namun, mengingat perjalanan Surabaya-Situbondo kalau malam itu semakin sepi, kupilih menunda esok hari. Tepat pukul tiga dini hari kami berangkat. Pada saat yang lain masih bergelung mimpi, kami sudah menyusuri jalanan Surabaya-Situbondo.

Subuh di Probolinggo

Ketika azan Subuh berkumandang, kami sudah sampai di Probolinggo. Kami pun rehat untuk salat Subuh. Lumayan untuk menyelonjorkan kaki setelah perjalanan 90 menit di atas sepeda motor. Sebelumnya kami sempat mengisi bensin di salah satu SPBU di Probolinggo.

Jelang pukul enam pagi kami sudah sampai di gerbang masuk Kabupaten Situbondo. Jalanan masih sepi. Baru satu dua yang lewat. Udara segar pun bisa dengan leluasa kami hirup.

Keramaian baru terlihat ketika memasuki Kota Situbondo. Perjalanan lancar tanpa kendala, apalagi macet. Sampai rumah adik, dia kaget karena dipikir baru nanti siang sampainya. Hari pertama di tempat adik yang dilakukan hanya tidur dan mengobrol dengan adik dan istrinya.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Wisata Bukit Panceng

Jalan-jalan./Copyright Fuatuttaqwiyah

Hari kedua, kami, mengunjungi rumah pribadi adik dan bertemu dengan ibu mertua dan bapak mertua. Lalu lanjut ke tempat wisata yang ada di Situbondo. Wisata alam. Karena memang alam Situbondo masih alami dan asri.

Tujuan pertama adalah Bukit Panceng. Masih wilayah Kecamatan Asembagus. Wisata yang dikelola oleh anak-anak Ansor dan menggunakan dana bumdes.

Berhubung pandemi, tempat wisata benar-benar sepi. Pengunjungnya tidak ada alias hanya kami berempat. Jadi, serasa pemilik tempat wisata. Hamparan pegunungan nan hijau langsung menyambut kedatangan kami. Langit biru cerah seperti hati kami yang ceria. Puas foto-foto dan melepas lelah lanjut ke tempat yang kedua.

Jelajah Bukit Selfie Ghunung Bunter

Tempat ini terkenal dengan nama JBS. Ternyata merupakan kependekan dari Jelajah Bukit Selfie. Terletak di Desa Kedunglo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Pas banget di sana tidak ada pengunjung. Lagi-lagi serasa pemilik tempat wisata.

Tempat ini memang milik perseorangan. Jadi, memang dikelola secara mandiri. Tiket masuk sangat terjangkau hanya Rp3.000,00 dan parkir sepeda motor Rp2.000,00. Saranku kalau ke sana pas hari kerja atau pagi hari. Biar bisa menikmati semua spot selfie dengan nyaman. Karena bukit, semakin siang, semakin panas dan bisa menggosongkan kulit.

Sepanjang mata memandang hijaunya pegunungan begitu menyegarkan mata. Semua spot selfie bisa dicoba. Mulai dari bingkai foto, sapu terbang, andong, kupu-kupu, dan masih banyak lagi spot selfie lainnya. Saranku semua spot dicoba biar bisa punya banyak stok foto untuk bikin konten di media sosial.

Silaturahmi ke Keluarga Paman

Sore harinya kami mampir ke rumah paman dari istri adikku. Di sana kami berbincang dan mengobrol sambil cerita-cerita. Sesekali obrolan bahasa daerah terdengar. Eh pas mau pulang dibawain oleh-oleh satu kardus. Benar-benar rezeki, padahal baru niat mau beli.

Silaturahmi ke Rumah Teman

Di rumah adik aku hanya 3 hari. Pas pulang, aku mampir ke rumah teman zaman sekolah dulu. Terakhir ketemu 2019. Berhubung sejalur, jadinya mampir.

Mengobrol, flashback masa lalu dan bicara saat ini. Enggak terasa hari sudah sore. Pas mau pulang diberi pohon kelengkeng. Senang banget diberi tanaman, apalagi sudah berbunga. Aku sudah lama juga menginginkan pohon kelengkeng. Kok bisa kebetulan banget ya.

Hanya Enam Puluh Ribu

Berapa total bujet yang kukeluarkan untuk perjalanan ini? Hanya 60 ribu rupiah. Itu pun hanya untuk pembelian bensin selama 3x. Biaya lain-lain tidak ada. Benar-benar liburan hemat,

Saranku sih kalau mau rekreasi, pilihlah rumah saudara. Selain menjalin erat persaudaraan, menambah rezeki, keberkahan, dan memperpanjang usia. Untuk tempat wisata, pilihlah yang dekat dengan rumah yang dikunjungi, kecuali memang ingin liburan yang privat.

Ini cerita liburanku tahun lalu. Semoga bisa liburan lagi tahun ini. Entah di kota mana lagi.

#ElevateWomen