Masa Depan Tren Sustainable Fashion di Indonesia

Adinda Tri Wardhani diperbarui 27 Jul 2021, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Kesadaran masyarakat untuk mulai beralih ke material ramah lingkungan kian tinggi, hal ini seiring dengan meningkatnya antusiasme para brand meluncurkan tren sustainable fashion. Hal ini pun membawa kabar baik dengan semakin berkembangnya eksistensi tren sustainable fashion di industri fashion tanah air sebagai sebuah revoulsi yang akan menjadikan industri ini lebih berkelanjutan.

Sustainable fashion umumnya melalui beberapa tahapan produksi, tetapi memiliki daya tahan yanglebih baik, dan kualitas lebih tinggi. Seluruh proses dilakukan secara bertanggung jawab serta ramahlingkungan. Tidak hanya ramah lingkungan, sustainable fashion juga berkomitmen menciptakan praktikkerja yang sehat terhadap pekerjanya.

Menyoroti topik mengenai keberlanjutan dan sirkular ekonomi, Lenzing Indonesia melalui Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) sebagai wadah yang mempertemukan para stakeholders untuk membahas penerapan sirkular ekonomi di Indonesia mengadakan webinar “The Future of Sustainable Fashion in Indonesia” bersama Luckytex Indonesia, fabric mills penyedia bahan ramah lingkungan, H&M Indonesia, merek fashion global, dan Nicoline Patricia Malina sebagai pemilik localbrand LANIVATTI. Melalui webinar yang diadakan pada 21 Juli 2021 tersebut, para pembicara memaparkan tentang bagaimana sustainable fashion menjadi komitmen penting bagi seluruh pihakyang terlibat dalam industri fashion dan tekstil di Indonesia.

Serat TENCEL™ dari Lenzing Group diperkenalkan sebagai fondasi awal untuk membangun industritekstil yang ramah lingkungan. Serat TENCEL™ yang menjadi bahan utama pembuatan benang dankain, terbuat dari pulp kayu yang berasal dari hutan industri yang dikelola secara berkelanjutan danbersertifikasi FSC® atau PEFC™. Proses pembuatan serat alami TENCEL™ memiliki konsep closedloop production. Proses ini mengubah pulp menjadi serat selulosa, dengan optimalisasi sumber dayadan mengolah kembali sisa pembuangan menjadi energi untuk berproduksi kembali. Karena terbuatdari bahan dasar yang alami, produk pakaian yang mengandung serat ini mampu terurai kembali kealam, sehingga aman bagi lingkungan dan dapat mengurangi pencemaran.

Lenzing melihat bahwa setiap perusahaan harus mengambil langkah nyata untuk menerapkan keberlanjutan sesuai kapasitas masing-masing. Selain memberikan pilihan serat yang ramah lingkungan, kami juga bersemangat untuk menawarkan produk terbaru yaitu TENCEL™ Carbon-Zero sebagai kelanjutan komitmen Lenzing. Selain menjaga keberlanjutan dalam serat yang kami hasilkan,kami juga sadar bahwa tidak semua emisi dapat dihindari atau dihilangkan. Inilah yang memotivasi kami untuk mengambil tindakan pada tingkat global maupun lokal dan kami melihat adanya peluang untuk mendukung pengurangan emisi CO2 di seluruh dunia termasuk Indonesia. Konsep kompensasi karbon melalui pengimbangan membantu untuk mengurangi karbon melalui proyek pendanaan ikilm yang telah terverifikasi,” Winston A. Mulyadi, Head of Commercial Textile, SEA & Oceania ofLenzing (Lenzing Group adalah produsen dari serat bahan TENCEL™.

Tentunya, Lenzing sebagai produsen serat tidak dapat menjangkau konsumen secara langsung. Dibutuhkan kerjasama menyeluruh dengan pihak-pihak yang terlibat di industri fashion seperti pabrikkain, yang dapat mengubah hasil serat menjadi benang, lalu menjadi kain. Di sini mitra bisnis Lenzing berperan sebagai representatif untuk menjangkau pemilik merek lokal dan konsumen. Salah satunya adalah Luckytex Indonesia, perusahaan manufaktur tekstil terintegrasi yang memproduksi berbagai jenis benang, kain, dan printing untuk kain.

2 dari 3 halaman

Strategi Keberlanjutan

“Luckytex Indonesia menyediakan berbagai macam pilihan jenis bahan, teknik printing, hingga berbagai finishing untuk dapat menyediakan bermacam pilihan untuk brand dan konsumen. Kami juga sudah mempunyai inisiatif untuk menjalankan produksi kami menjadi lebih sirkular untuk memberikan dampak lingkungan yang lebih sedikit seperti pengurangan air limbah dengan mendaur ulang air limbah untuk digunakan kembali dalam proses produksi dan juga kami senantiasa terus berinovasi untuk menyediakan lebih banyak pilihan bahan yang berkelanjutan. Kami juga sedang dalam proses untuk mengganti sumber energi kami dengan sumber terbarukan.” ujar Sarlita, Marketing Manager Luckytex Indonesia

Melalui acara ini, H&M Indonesia juga mengumumkan strategi keberlanjutan yang sudah direncanakan hingga tahun 2040 yang dapat menginspirasi pelanggan dalam memilih produk fashion yang berkelanjutan dan terjangkau. Per tahun 2020, 64,5% dari material yang digunakan H&M dalam koleksinya adalah bahan baku hasil daur ulang ataupun bersumber lebih lestari (berkelanjutan) seperti recycled polyester, TENCEL™ Lyocell, dan juga LENZING™ECOVERO™, dengan harapan pada tahun 2030, H&M bisa menggunakan 100% bahan baku yang bersumber lebih lestari (berkelanjutan) pada semua koleksinya.

Komitmen H&M untuk membentuk ekosistem fashion yang berkelanjutan inij uga bertujuan untuk meminimalisir dampak terhadap lingkungan. Fokus sustainability H&M terdiri dari tiga bagian utama: Leading the change (mendorong inovasi dan transparansi untuk memperkuat dampak positif dalam kolaborasi); Circular and climate positive (membangun sirkularitas ke dalam setiap tahap rantai nilai, mulai dari desain, bahan yang digunakan, prosesnya, serta cara konsumen merawat dan membuang produk), dan Fair & Equal (memberikan kesempatan yang sama kepada semua).

Karina Soegarda, Communications & Sustainability Manager of H&M Indonesia juga menambahkan; “Untuk mencapai tujuan kami, salah satu elemen penting bagi H&M adalah berkolaborasi dengan mitra yang memiliki visi yang sama dalam membangun masa depan sustainable fashion. Semua inovasi dan materi yang kami gunakan dapat dilihat di hang tag yang tertera pada semua koleksi kami. Serat TENCEL™ Lyocell sudah menjadi pilihan utama untuk H&M Group. Untuk koleksi Spring 2021, H&M mengambil langkah baru dalam upaya keberlanjutan kami, dengan meningkatkan pilihan bahan inovatif terbaru seperti Agraloop™ Biofibre™, serta menggunakan bahan seperti kapas organik, linen organik, poliamida daur ulang, dan tentu saja, TENCEL™ Lyocell.”

3 dari 3 halaman

Kolaborasi dari Hulu hingga Hilir

Selain perwakilan dari merek fashion internasional, webinar ini juga menghadirkan Nicoline Patricia Malina, Photographer & Founder of NPM Photography, Creative Director of LANIVATTI. LANIVATTI memiliki komitmen jangka panjang untuk praktik bisnis yang ramah lingkungan. Inisiatif bisnis LANIVATTI termasuk menggunakan bahan berkelanjutan yang meminimalkan dampak lingkungan, meminimalkan jumlah komponen sintetis yang masuk ke dalam koleksi pakaian LANIVATTI, dan memperkenalkan proses manufaktur yang etis dan juga ramah lingkungan guna mengurangi jejakkarbonnya.

Nicoline Patricia Malina, Photographer & Founder of NPM Photography, Creative Director of LANIVATTI mengungkapkan bahwa LANIVATTI mengambil pendekatan yang penuh perhatian dan untuk mengeluarkan produk yang tak lekang oleh waktu, karena mereka hanya memproduksi apa yang dibutuhkan dan dapat digunakan dalam waktu yang tak terbatas.

 

“Kami tidak hanya membuat koleksi pakaian untuk mengisi lemari pakaian konsumen. 80% dari koleksi dibuat secara handmade di Atelierkami di Jakarta, dengan kualitas material yang tahan lama dan kami juga memikirkan kegunaan setiap rancangan kami secara matang. LANIVATTI dengan bangga bermitra dengan Lenzing yang menggunakan kayu dan pulp yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab dan disertifikasi untuk berasal dari sumber yang berkelanjutan selama lebih dari 80 tahun dan juga serat yang mereka hasilkan berasal dari pulp kayu, dengan sumber daya yang 100% terbarukan, yang berarti pada akhir siklus hidup mereka, serat dapat masuk kembali ke ekosistem sehingga berasal dari alamdan dapat kembali ke alam.” jelas Nicoline.

Kolaborasi antara pemain di hulu hingga hilir industri tekstil menjadi hal yang tak bisa dipungkiri. Dibutuhkan juga dukungan penuh dari otoritas setempat untuk mewujudkan sistem dan rantai produksi yang ramah terhadap alam. Pada akhirnya, komitmen konsumen juga yang menggerakkan seluruh ekosistem ini agar industri fashion terus menjadi industri yang berkelanjutan.