Ibuku yang Luar Biasa, Sosok Paling Berjasa yang Membuatku Bisa Berkuliah

Endah Wijayanti diperbarui 15 Okt 2021, 14:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Syahratul Ayma

Selain biaya hidup, biaya sekolah juga adalah hal yang selalu dipikirkan orang tua, termasuk ibu sebagai bendahara dalam rumah tangga. Aku sedari kecil menyaksikan perjuangan ibuku mencari uang kesana-kemari untuk keperluan sehari-hari, terutama untuk biaya sekolah tiga orang anaknya. 

Sampai kemudian tiba hari di mana ibuku memberanikan dirinya lagi untuk pergi merantau ke Negeri Jiran, Malaysia. Ia pergi bukan demi kesenangannya sendiri, tapi demi anak-anaknya agar tetap bisa bersekolah. Selama bertahun-tahun, ibuku bolak-balik Malaysia-Indonesia untuk mengambil barang lalu dijual di sana. Terkadang ia hanya seminggu, terkadang sampai berbulan-bulan dan terkadang pula sampai ditipu oleh pelanggan.

Tapi ibuku terus melakukan itu dengan penuh keikhlasan. Rasa lelahnya tidak pernah ia tunjukkan. Padahal ia pasti sangat lah kelelahan. Ia tidak pernah menyerah. Karena ibuku selalu berpikir, "Cukuplah diriku yang pendidikannya harus putus karena masalah biaya, anak-anakku jangan." Begitulah, selama ia masih mampu bekerja, ia akan melakukannya.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Perjuangan Ibu yang Luar Biasa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/parinyabinsuk

Dan hari ini, setelah dewasa aku benar-benar baru menyadari bahwa ternyata ada stigma yang dilekatkan pada perempuan, bahwa katanya mereka tidak pantas sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya juga nanti akan kembali ke dapur, sumur, dan kasur. Stigmatisasi itu lalu membuatku sadar betapa berharganya perjuangan ibuku selama ini. Betapa inginnya ia aku sekolah, belajar dan punya pendidikan yang tinggi. Betapa ia tidak peduli dengan stigma itu.   

Dan sinilah aku saat ini, sebagai mahasiswa di salah satu kampus terbaik di Sulawesi Selatan. Selaku anak perempuan satu-satunya, aku sangat sangat bersyukur karena ibuku tidak pernah menghentikan langkahku untuk terus bersekolah. Ia bahkan memperlakukanku sama sebagaimana ia memperlakukan anak-anak lelakinya dalam hal pendidikan. Padahal ia bisa saja meringankan beban dirinya dengan menggunakan stigmatisasi yang ada itu.

Terima kasih, Ibu. Terima kasih atas segala doa dan usahamu. Terima kasih karena telah membiarkanku terus berkembang meski situasi kita penuh keterbatasan.

#ElevateWomen