Menjadi Satu-satunya Anak Perempuan, Aku Dididik Lebih Tegas oleh Ayah

Endah Wijayanti diperbarui 12 Nov 2021, 14:28 WIB

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Elora Shaloomita Sianto

Di pagi yang sejuk, tatkala embun pagi masih menyisakan kesegaran, aku berjalan menyusuri lorong berwarna biru langit yang setiap sisinya dihiasi pigura dan beberapa lukisan tangan yang dibeli kedua orang tuaku setiap berpergian. Burung berterbangan sembari memainkan melodi, ayam berkokok dengan lantang menandakan hari baru siap untuk dijelajahi.

Menuruni satu demi satu anak tangga, sampailah aku di sebuah ruangan berdinding kayu, furnitur bernuansa putih, dan alat-alat olahraga yang tertata rapi di dalamnya. Nampak jelas laki-laki tua berusia 60 tahun berperawakan tinggi di atas treadmill sedang berlari, terlihat tubuhnya diguyur oleh keringat. Melihat Papaku yang selalu ingin terlihat kuat di depan anak-anaknya, terkadang membuat hati ini teriris.

Aku lahir di Sidoarjo, di sebuah lingkungan kota dan kehidupanku secara ekonomi sangat cukup. Aku anak perempuan satu-satunya yang dilahirkan sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara. Tak jarang orang-orang mengomentari posisiku sebagai anak perempuan satu-satunya.

Pandangan mereka tentang diriku adalah anak yang manja, selalu meminta, dan harus dituruti. Komentar orang-orang tak bisa kutepis karena kedua tanganku tak mampu membungkam satu per satu perkataan mereka, melainkan kedua tanganku hanya bisa menutup telinga. Tidak hanya itu, aku yakin setiap orang yang berasumsi mengenai diriku tidak akan tahu seberapa kerasnya papaku saat mendidik anak-anaknya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Cara Ayah Mendidikku

ilustrasi (sumber: freepik)

Aku sering dinilai anak yang nakal di antara ketiga kakak dan adikku oleh Papa. Sejak duduk di Sekolah Dasar (SD) aku sangat suka bermain sampai lupa waktu. Aku selalu pulang larut malam, sehingga tak jarang jalanan sudah gelap gulita, deretan toko di pintu masuk rumahku sudah tutup, dan daerah perumahanku sudah sepi seperti tak berpenghuni. Ya, terlalu sering aku pulang larut malam sampai Papa lelah untuk meningatkan aku dengan cara yang halus.

Malam itu saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku melakukan kesalahan yang sama dan telah berulang kali aku lakukan. Papaku segera mengambil sabuk berwarna hitam dan dengan segera mengarahkan sabuk itu ke tubuhku. Terlihat wajah papaku merah berapi-api, memperlihatkan bahwa sudah geram atas perilaku selama ini.

Papaku terus melontarkan perkataan kasar kepada seorang remaja perempuan yang sedang menikmati dunianya ini. Air mata terus mengalir membahasi pipiku, terlihat kakiku berdarah karena sambitan sabuk itu. Aku segera menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarku, ruangan yang tercipta untuk membendung segala lara, sedih, dan tangis yang aku rasakan malam itu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa butuh perizinanku. Ya, Papaku.

Papaku meminta maaf atas perilakunya, lalu tak segan aku berkata sembari berteriak, “Papa ini sayang atau nggak sih sama aku? Kok papa pukul aku kayak gitu!” Lalu, pertanyaanku dijawab oleh Papaku sembari memelukku,

“Papa sayang sama kamu, Nduk. Kalo Papa nggak sayang, pasti sudah Papa biarin. Kamu ini anak cewek satu-satunya, Nduk. Papa keras ini supaya nanti waktu Papa nggak ada, ajaran-ajaran Papa masih terus ada sama kamu. Misalnya, Papa sudah nggak ada, kalau bukan ajaran Papa, siapa yang bakalan jaga kamu?” 

Semenjak hari itu, aku selalu menuruti setiap perkataan Papa. Menurutku, setiap tindakan, perilaku, dan perkataan Papaku bagaikan lentera. Lentera yang akan menerangi setiap perjalanan yang akan aku lalui dihidupku dan membimbingku menjadi lebih baik lagi. Hingga detik ini, perkataan itu terus ada dipikiranku.

Tak hanya itu, pernyataan sekaligus pertanyaan yang Papaku lontarkan selalu membuat batinku tersiksa, aku tidak akan siap kehilangan sosok hebat yang selama ini selalu memberikan terbaik untuk anak-anaknya.

Sosok Papa sangat luar biasa bagiku. Dengan kedudukan yang cukup tinggi di sebuah perusahaan ternama dan gaji yang memang tergolong cukup tinggi, tidak membuat dirinya besar kepala dan lupa untuk membantu orang lain. Papaku kerap kali membantu saudara yang sedang kesusahan, bahkan membiayai kehidupan dan pendidikan beberapa orang yang bukan keluarga inti.

Papaku terlalu baik, sehingga aku tidak dapat mendefinisikan seberapa beruntungnya mempunyai seorang Papa yang memiliki hati sebaik malaikat. Sejak aku kecil, saat aku tidur sekamar dengan kedua orang tuaku, aku selalu melihat pemandangan ini, Papaku duduk bersilang di lantai sembari melipat kedua tangannya dan mengucapkan syukur dan tidak lupa mendoakan satu per satu anaknya.

3 dari 3 halaman

Papa, Lentera Hidupku

Bersama Ayah./Copyright Elora Shaloomita Sianto

Papaku mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membahagiakan anak-anaknya, walaupun sedang dalam kondisi sesulit apa pun. Papaku sosok yang luar biasa karena selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, terlebih untuk pendidikan.

Aku, ketiga kakak, dan adikku mengenyam pendidikan yang berkualitas sejak kecil. Biaya yang harus dikeluarkan oleh Papaku tidak sedikit untuk pendidikan anak-anaknya. Papaku memiliki cita-cita yang sama seperti orang tua pada umumnya, anaknya sukses dan bahagia. Papaku tidak pernah menuntut anak- anaknya untuk menjadi kaya raya.

Papaku berpesan untuk menjadi sukses dan berguna bagi banyak orang dan untuk kemuliaan nama-Nya. Papaku tidak pernah berkata tidak dan akan mengusahakan apa pun yang bisa dilakukannya untuk mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang kesuksesaan.

Papaku adalah sosok penyayang yang selalu memberikan waktu luangnya untuk berbincang santai dengan anak-anaknya. Walaupun sedang memiliki pekerjaan yang menumpuk, Papa selalu bertanya seperti apa hari yang kita lalui. Papa memiliki 5 anak dengan kemampuan dan karakter yang berbeda-beda, tetapi selalu memberikan kasih sayang yang tidak berbeda satu dengan lainnya.

Banyak sekali yang dapat aku ceritakan mengenai sosok Papa yang sangat hebat sekaligus menjadi lentera untuk masa depanku. Setiap perkataannya selalu menjadi pedomanku menjalani kehidupan yang semakin rumit.

Tak terasa, tahun ini usia Papa sudah menginjak 60 tahun. Masa pensiun sudah di depan mata. Papa mengambil pensiun tahun ini karena takut apabila omnibuslaw diberlakukan akan berdampak besar terhadap pesangon pensiunan.

Beberapa hari ini, aku melihat papa terbaring lemas di kamar tidur, jarang menampakkan senyum di wajahnya, dan keluar kamar sekadar untuk makan. Aku sangat mengerti keputusan berat untuk mengambil pensiun lebih cepat disaat perjalanan pendidikan anak-anaknya masih panjang.

Semakin dewasa, banyak sekali yang ingin aku buktikan ke Papa bahwa aku adalah anak perempuan manja kesayangan Papa yang selalu ingin menunjukkan bahwa aku mampu dan akan menjadi anak yang membanggakan. Semakin aku dewasa, semakin aku berjuang agar dapat mencapai mimpi-mimpiku, sampai aku lupa Papaku semakin tua, keriput di wajahnya terlihat jelas, tenaganya yang tak sekuat sediakala, pendengarannya mulai berkurang, dan perilakunya yang semakin kekanak-kanakan.

Papa, pintaku hanya satu. Sehatlah selalu sampai aku memberikan sebuah istana megah yang Papa dambakan sejak masih muda. Papa, maafkan aku yang selalu menjadi alasan Papa sedih dan kecewa.

Namun, di lubuk hati terdalam ada banyak sekali keinginan aku untuk segera menjadi seseorang yang sukses agar kelak Papa bisa menikmati hari tua dengan nyaman. Semoga cita-citaku terwujud dan membahagiakan Papa. Terima kasih untuk setiap pengorbanan yang telah Papa berikan untuk aku, terima kasih untuk cinta dan sayangnya. Papa adalah cinta pertama untuk anak perempuan manja ini.

#ElevateWomen