Momen Mengharukan Itu saat Ayah Melepasku Menikahi Pria Pilihanku

Endah Wijayanti diperbarui 19 Nov 2021, 09:31 WIB

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Masschuraini Nuradilla

Banyak orang yang bertanya padaku, "Siapakah orang yang menjadi inspirasimu?" Aku  menjawab, "Papaku." Orang-orang juga bertanya, "Siapakah cinta pertamamu?" Aku menjawab, "Papaku." Papaku adalah segala-galanya bagiku. Beliau adalah teman, rekan kerja, guru, orang tua, mentor dan yang paling terpenting, beliau adalah salah satu orang yang paling aku sayangi.

Pelajaran Berharga bersama Papa

Papaku dulunya adalah seorang pegawai swasta di salah satu perusahaan asuransi milik orang asing di Indonesia. Hampir setiap hari beliau selalu pulang malam. Selain karena perjalanan rumahku ke kantor beliau sangat padat, namun juga karena terkadang ada deadline dari kantor pusat perusahaan agar bisa mencapai target yang diharapkan.

Terkadang papa juga lembur di rumah saat akhir pekan. Aku selalu ingat ketika beliau merapikan meja tamu sebagai meja kerja beliau dan menyusun dokumen-dokumen aplikasi pengajuan asuransi dari calon nasabah di meja tersebut. Terkadang aku juga ikut membantu beliau untuk hal-hal yang bersifat ringan dan dapat aku pahami, walaupun hal ini sebenarnya ditentang oleh mamaku.

Kadang-kadang beliau juga mengajakku ke kantor beliau ketika beliau harus lembur di kantornya. Rekan kerja beliau banyak yang mengenalku. Dan aku senang ketika beliau ajak aku ke kantor beliau, karena selain jalan-jalan di akhir pekan bersama papa, kadang jatah makanan lemburnya enak-enak untuk anak kecil seusiaku.

Untukku saat itu, keren juga bisa kerja di kantor papa. Keren bisa gaya-gayaan ikut orang tua saat beliau lembur. Di mataku saat itu, keren pokoknya bisa bantu orang tua menyelesaikan pekerjaan kantornya.

Saat aku dewasa, aku baru sadar, momen itulah yang mengajarkan aku bahwa apa pun akan kita lakukan untuk membahagiakan keluarga kecil kita. Termasuk bekerja lembur setiap hari dan di akhir pekan. Setiap pundi uang yang dihasilkan sangatlah berharga, karena itu adalah pengorbanan yang kita lakukan untuk keluarga.

 

2 dari 3 halaman

Waktu yang Kuhabiskan Bersama Papa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dragon+Images

Sedari kecil, aku dan adikku selalu didorong papa untuk bisa menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Tidak terlalu jago nggak masalah, menurut beliau. Yang terpenting aku dan adikku bisa paham mengenai bahasa tersebut karena suatu saat bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling penting.

Waktu SD, aku mengambil les bahasa Inggris, di mana lokasinya cukup jauh dari rumahku dan tidak ada kendaraan antar jemput dari sana ke rumahku. Mau tidak mau, aku harus naik angkutan umum.

Papaku yang mengajari aku bagaimana cara naik angkutan umum, mulai dari bagaimana menghentikan angkutan umum hingga bagaimana cara aku ke rumah dengan angkutan umum. Papa pernah bilang ke aku, alasan beliau mengajarkan aku seperti itu agar aku bisa belajar mandiri dan tidak tergantung pada kendaraan pribadi yang aku miliki karena tidak selamanya papa bisa antar aku dan keluargaku ke mana pun yang kami mau.

Sesibuk apa pun papa, papa berusaha membantu aku dan adikku dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, beliau selalu menyempatkan waktunya untuk bermain bersama kami, membimbing kami, dan menjalankan tugas beliau sebagai orang tua. Aku tahu tidak mudah bagi papa dalam membagi waktu untuk pekerjaan dan tugas beliau sebagai orang tua.

Saat itu, papa juga menjadi leader dan sosok yang diandalkan untuk tim-nya. Sehingga aku dan adikku tetap merasakan sosok papa, walaupun kami tahu terkadang setiap akhir pekan, papa akan sibuk dengan pekerjaannya

Ketika aku lulus SMA, semua kenalanku bertanya padaku, "Mau kuliah di universitas apa?" Dengan bangga aku menjawab nama salah satu universitas negeri di Jawa Tengah, di mana saat itu belum banyak orang yang tahu mengenai universitas tersebut.

Mereka bertanya kepada papa kenapa aku mengambil universitas itu, bahkan juga ada yang menyangsikan universitas tersebut karena tidak seterkenal universitas negeri lainnya. Beliau menjawab, “Itu adalah pilihan anak saya. Saya tidak mau memaksa dia dengan pilihan saya. Dia sudah dewasa dan sudah bisa memilih pilihan yang terbaik untuknya."

Dari ucapan beliau, aku belajar bahwa ketika kita dewasa, kita harus belajar memilih, walaupun pilihan itu memiliki konsekuensi yang buruk, dan bertanggung jawab dengan pilihan kita. Orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan serta mengarahkan pilihan anaknya.

Aku pun juga membuktikan kepada orang-orang bahwa aku mempertanggungjawabkan pilihanku, dengan lulus selama 3 tahun 9 bulan, mendapatkan predikat cumlaude, dan menjadi skripsi terbaik se-jurusan pada angkatan kelulusanku. Pada saat aku berdiri di atas panggung, aku melihat papa sangat bangga kepadaku.

 

 

3 dari 3 halaman

Ketika Papa Melepasku untuk Lelaki Pilihanku

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Saat aku masuk kerja, aku mulai mengenal mengenai percintaan. Dan aku berkenalan dengan salah satu rekan kerjaku di kantor lamaku. Beberapa bulan kemudian, kami berpacaran. Setelah hubungan kami berjalan 6 bulan, aku mengenalkan dia dengan papaku.

Papaku, yang sudah sangat mengenal aku, sudah bisa menebak bahwa dia adalah pacarku, meskipun saat itu aku mengenalkannya ke papa sebagai rekan kerja yang cukup dekat. Papa juga bertanya pada aku dan dia, apakah kami mau benar-benar serius dalam hubungan ini?

Kami pun dengan kompak menjawab iya. Papa juga tahu bagaimana perjuanganku dan suamiku untuk mendapatkan restu dari keluarga suamiku. Akhirnya setelah 3 tahun lebih kami berhubungan, aku dan rekan kerjaku menikah.

Pada saat prosesi ijab qabul, aku mendengar papaku hampir menangis saat mengatakan, “Saya nikahkan dan kawinkan putri kami… ." Saat mendengar hal itu aku sangat terharu.

Aku tidak menyangka sedalam itu perasaan cinta papa kepadaku, seberapa beratnya beliau melepasku untuk hidup bersama lelaki pilihanku, dan betapa ikhlasnya beliau ketika melepasku untuk lelaki pilihanku. Ternyata tidak mudah melepas seseorang yang benar-benar kita cintai untuk hidup bersama orang lain.

Ucapan Terima Kasih untuk Papa

Ada banyak pembelajaran yang sebenarnya papa berikan kepada aku dan keluarganya. Dan jika aku tuliskan dalam cerita ini, akan ada ribuan lembaran cerita. Namun, lewat tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada papa.

Terima kasih papa sudah mengajarkan aku banyak hal, terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang papa berikan ke aku hingga aku tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tidak pantang menyerah, dan terima kasih atas hal-hal dan dukungan yang papa berikan kepada aku, baik dukungan materiil dan non-materiil.

Aku minta maaf jika belum menjadi anak yang baik dan shalehah untuk papa. Aku minta maaf jika selalu menyakiti hati papa dan mama, terkadang aku juga menjadi pribadi yang keras kepala dan tidak mendengarkan nasihat dari papa dan mama. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat mencintaimu pa. You’re my first love, my superhero, and my best teacher. Love you and miss you, pa.

 

#ElevateWomen