Baru Bertemu Ayah saat Aku Kuliah: Lebih Baik Memaafkan daripada Menyimpan Luka

Endah Wijayanti diperbarui 24 Nov 2021, 13:44 WIB

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Erlin Fadhylah

Bekasi, 22 November 2021

Halo, Pa!

Rasanya aneh menulis surat untuk papa. Namun, aku tahu inilah waktunya. Bukan sekadar berbagai cerita, surat ini kutuliskan untuk diriku sendiri agar mendapat rasa lega di dalam hati. 

Aku tidak tahu Papa di mana, surat ini pun belum tentu akan terbaca. Aku bahkan lupa tentang kontak terakhir kita. Sepuluh tahun lalukah? Meski begitu, kudoakan semoga Papa dalam keadaan sehat dan bahagia seperti halnya aku yang selalu berusaha untuk bersyukur serta berbahagia.

Aku ingin mulai surat ini dengan bercerita, sebuah kisah tentang prosesku mengenal Papa. Papa tahu, tidak kapan aku mengenal Papa? Jika normalnya seorang anak akan mengenal papanya di usia balita, aku justru mengenal Papa menjelang usia remaja.

Aku masih ingat persis setiap momennya. Malam itu, tidak lama setelah aku mengalami menstruasi pertama, oma memanggilku dan memberikan selembar foto--yang bahkan tidak bisa kuingat saat ini. Setelahnya, oma berkata kalau sosok dalam foto buram itu adalah Papa. 

 

2 dari 3 halaman

Aku Merasa Berbeda

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Masih terekam jelas dalam benak reaksi yang kuberikan saat itu. Aku diam, tidak menangis, tetapi tidak juga bahagia. Aku bingung karena sosok yang berada di rumah, yang selama ini kupanggil papa, ternyata bukan papa. Lalu Papa ke mana? Kenapa Papa tidak pernah ada?

Aku sebetulnya tidak bertanya, tidak juga mencari tahu. Aku hanya merasa… tidak biasa. Aku merasa berbeda dari banyak orang, dari teman-teman, karena ternyata aku tidak punya papa. Aku seharusnya sedih, tetapi tidak, Pa. Aku mungkin hampa, tetapi aku menolak perasaan tersebut sekuat tenaga. 

Penolakan untuk mengungkapkan kesedihan itu juga bukan tanpa alasan. Aku melihat dengan mata kecilku sikap mama yang menolak membicarakan proses perceraian dengan papa. Aku juga menangkap keengganan oma membahas lebih jauh tentang papa dan memilih memperkenalkan papa secara sembunyi-sembunyi. Bagiku, saat itu, aku melihat ada yang salah dari papa dan tidak seharusnya aku menunjukkan kesedihan bagi seseorang yang dianggap kesalahan. Maaf, Pa. Namun, itulah kenyataan. 

 

3 dari 3 halaman

Pertemuan dengan Papa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/NATTAKORN+MANEERAT

Papa masih ingat tidak pertemuan tatap muka pertama kita? Kalau tidak salah, itu terjadi saat aku sudah kuliah, ya, Pa? Aku masih bertanya-tanya alasan Papa memilih datang saat itu. Bukankah itu sudah terlalu terlambat, ya, Pa? Apa pun alasan Papa, aku sama sekali tidak marah, hanya bingung saja. Aku juga masih berbaik sangka, mungkin Papa memang sibuk. Setidaknya, dengan kedatangan tersebut aku tahu Papa tidak lupa bahwa Papa punya aku, seorang anak perempuan yang belum kenal Papa.

Banyak orang, terutama keluarga, mengira pertemuan pertama kita akan mengharu-biru, persis seperti program televisi ketika mempertemukan kembali keluarga yang terpisah. Namun, masihkah Papa ingat kalau saat itu aku hanya tersenyum canggung dan mencium tangan Papa?

Setelahnya, aku memilih kursi yang berjarak dan menatap Papa yang balik tersenyum kepadaku. Tahukah Papa, dibandingkan meja yang saat itu merentangkan jarak di antara kita, jarak di hatiku untuk Papa sungguh lebih nyata? Tampakkah jarak tersebut lewat tatapanku, Pa?

Maaf, Pa. Namun, pertemuan dengan Papa kala itu, yang kukira akan mengisi rasa hampa, ternyata sama sekali tidak mengena. Aku merasa bertemu orang asing. Tidak ada ikatan atau keharuan seperti pertemuan keluarga lain yang kusaksikan di televisi. Bukan mauku atau maksudku jika bersikap dingin saat itu, Pa. Namun, memang rasanya seperti bukan bersama Papa. Semoga Papa mengerti dan aku minta maaf jika saat itu Papa merasa aku tidak bersemangat pada pertemuan kita.

Setelahnya, kita sempat beberapa kali bercengkrama. Aku ingat momen kita makan bersama bahkan sempat menonton bioskop bersama. Tahukah, Pa kalau saat itu aku begitu malu? Aku merasa sedang pergi bersama pria lebih tua yang bukan siapa-siapa. Mau bertingkah laku layaknya seorang putri yang manja pun tak sanggup rasanya. Jarak di antara kita sepertinya memang sudah terlalu jauh, ya, Pa? 

Kukira pertemuan tersebut dan beberapa pertemuan setelahnya akan merekatkan kembali hubungan kita atau setidaknya mendekatkan jarak yang telanjur terentang. Namun, Papa lagi-lagi menghilang. Untuk kedua kalinya, aku ditinggalkan. 

Tidak, Pa! Tolong jangan tangkap kalimatku di atas sebagai kekecewaan. Aku hanya menuliskan kebenaran. Mungkin memang rezeki pertemuan kita hanya sebatas itu. Meski memori tersebut mulai buram, aku tetap bersyukur masih punya kenangan tentang kita. Aku pun yakin Papa merasakan hal yang sama. Ya, kan, Pa?

Pa, di mana pun Papa berada kini. Usiaku kini sudah kepala tiga. Putri yang tidak pernah mengenal baik Papa telah dewasa dengan segala proses jatuh bangunnya. Isi surat ini mungkin akan berbeda jika kutuliskan lima belas tahun lalu atau lima tahun lalu. Lewat surat ini, aku hanya ingin Papa tahu bahwa aku sudah memaafkan Papa. Bukan semata untuk Papa, tetapi untuk diri dan kedamaianku. 

Meski tidak pernah kuakui atau kutampakkan, sudut hatiku tetap terluka dan mencari kasih sayang Papa yang selalu hilang. Aku sempat menjadi perempuan yang terlalu curiga menghadapi masa depan serta terlalu sakit untuk percaya pada sebuah hubungan. Bukan berarti kini aku sudah baikan, Pa. Namun, aku sadar bahwa menyimpan luka tidak akan membawaku ke mana-mana. 

Pa, di mana pun Papa berada, terima kasih telah berbagi karunia kehidupan ini kepadaku. Meski tidak selalu menyenangkan, meski aku sempat menyesal dilahirkan, aku kini sadar hidupku punya tujuan. Setidaknya, tujuan untuk bahagia dengan mengasihi diri kecil di dalam jiwaku yang dulu kurang mendapatkan haknya. 

Bukan salah Papa. Semua kuanggap takdir semata. Meski jalan kita berbeda, doa yang tulus akan tetap kupanjatkan untuk Papa. Doakan aku juga, ya, Pa! Aku yakin restu Papa masih kuperlukan agar aku bisa lega. Aku mau belajar bahagia dan kuharap Papa juga. Aku akan memaafkan dan kuminta Papa pun merelakan. 

Sampai bertemu di kehidupan berikutnya, Pa. Semoga kasih di antara kita akan lebih erat di sana. Semoga tak ada lagi jarak terbentang dan diganti oleh pelukan erat jika kita kembali dipertemukan. Kuharap, Tuhan senantiasa menjaga Papa. Percayalah, Pa, aku baik-baik saja.

Tertanda,

Putrimu yang Telah Dewasa

#ElevateWomen