Gencarkan Literasi Gizi untuk Memutus Mata Rantai Gizi Buruk dan Stunting

Novi Nadya diperbarui 28 Des 2021, 15:17 WIB

 

 

Fimela.com, Jakarta Literasi gizi merupakan upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gizi. Langkah ini sekaligus sebagai upaya untuk memutus mata rantai gizi buruk dan percepatan penurunan stunting. 

Salah satunya edukasi gizi mengenai kandungan gizi susu kental manis dan dampaknya jika dikonsumsi oleh balita. Sebanyak lebih dari 10 ribu masyarakat dari 30 provinsi di Indonesia sudah terpapar edukasinya.  

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan edukasi gizi dan susu kental manis yang diselenggarakan YAICI dan mitra-mitranya ini. Konsumsi susu kental manis oleh balita ini bisa dibilang kekerasan pemberian makanan untuk anak, makanan yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh anak tapi diberikan sebagai minuman anak. Jadi ini pemaksaan konsumsi di masyarakat. Oleh karena itu edukasi ini penting untuk terus dilakukan,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK, Agus Suprapto.

Ketua Umum HIMPAUDI Netti Herawati mengatakan upaya penurunan stunting ini adalah tanggung jawab peerintah. “Edukasi- edukasi gizi dan konsumsi makanan bergizi untuk anak ini dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat, namun bukan berarti pemerintah bisa lepas tangan. Tetap tanggung jawab untuk peningkatan literasi gizi masyarakat ini ada di pemerintah, oleh karena itu yang diharapkan ke depannya adalah bagaimana kolaborasi pemerintah dengan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah ini,” jelas Netti Herawati.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Meneliti Risiko Stunting

Literasi Gizi YAICI, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah Menjangkau Lebih dari 10 Ribu Masyarakat 

Ketua Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah, Chairunnisa M.Kes, mengatakan PP Aisyiyah akan terus melakukan edukasi gizi khususnya mengenai penggunaan susu kental manis. “Kami meneliti resiko kejadian stunting, ternyata ada potensi kejadian stunting pada anak yang mengkonsumsi susu kental manis. Kami juga melakukan penelitian terhadap konsumsi susu kental manis oleh ibu hamil dengan balita, ternyata hasil penelitian banyak sejali ibu-ibu yang mengatakan dan mengkonsumsi susu kental manis ini sebagai susu. Ini bukti bahwa literasi gizi dan konsumsi susu kental manis pada balita ini perlu menjadi concern bersama,” jelas Chairunnisa.

Hal yang sama juga disampaikan dr. Erna Yulia Soefihara, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU. “Dulu susu kental manis di supermarket dikelompokkan ke dalam susu anak, sekarang sudah terlihat di supermarket dikelompokkan di rak gula. Jadi ini adalah kemajuan dari edukasi yang kita lakukan selama ini, bahwa sudah ada pemahaman bahwa ini bukan susu, tapi gula,” jelas Erna. 

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan bahwa tahun ini penelitian YAICI melakukan penelitian konsumsi pada ibu hamil, dan hasilnya cukup mengagetkan ternyata 71% ibu mengkonsumsi SKM sebagai asupan gizi selama hamil. Sebanyak 60,6% ibu mengkonsumsi SKM sebanyak 3-6 takaran sendok.

Oleh karena itu YAICI akan terus berkomitmen untuk memberikan edukasi gizi dan juga advokasi mengenai susu kental manis. “Kami masih melihat celah pelanggaran aturan tentang susu kental manis dalam PerBPOM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan oleh produsen. Karena itu kami telah menyiapkan rencana program edukasi termasuk melanjutkan pilot project edukasi makanan bergizi dan bahaya penggunaan susu kental manis melalui penerapan G21H dan Mindful Parenting,” jelas Arif Hidayat.

#ElevateWomen