Hari Lingkungan Hidup, Tren Bisnis Ramah Lingkungan Menjamur di Kalangan UMKM Lokal

Vinsensia Dianawanti diperbarui 12 Jan 2022, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Industri UMKM kini mulai melirik sirkulasi bisnis yang berbasis ramah lingkungan. Pertimbangan kelestarian lingkungan dan menjalankan bisnis yang lebih bijak mendorong sejumlah UMKM mencari alternatif produksi yang lebih ramah lingkungan.

Di Hari Lingkungan Hidup, Tokopedia berbagi kisah dua UMKM lokal yang turut mengembangkan bisnis ramah lingkungan. Adalah Bukan Plastik dan Batik Mahkota Laweyan. Keduanya memilih menggunakan bahan organik serta menciptakan pengolahan limbah yang ramah lingkungan untuk menjaga kualitas air dan tanah.

“Tokopedia #SelaluAdaSelaluBisa mengajak dan mendukung masyarakat Indonesia dalam berperanaktif menjaga lingkungan, salah satunya dengan memberikan panggung bagi para pegiat usaha lokalyang mengusung produk atau inisiatif ramah lingkungan," kata Ekhel Chandra Wijaya selaku External Communications Senior Lead Tokopedia.

Penasaran bagaimana cerita mereka mengembangkan bisnis ramah lingkungan?

 

2 dari 4 halaman

1. Bukan Plastik

Melihat dua UMKM Lokal yang kembangkan bisnis ramah lingkungan sebagai tren (Tokopedia)

Bukan Plastik menjadi UMKM asal Semarang yang menawarkan alternatif plastik sekali pakai. Produk yang dihadirkan Bukan Plastik menggunakan material organik ramah lingkungan khususnya untuk kantong belanja dan sedotan.

Bisnis ini berawal dari kegemaran Aisa Putri Wibowo membacca sejak kecil dan kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan. Aisa memutuskan untuk membangun bisnis Bukan Plastik sejak April 2020 guna mengajak masyarakat maupun pegiat usaha dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Dalam pembuatan kantong, kami menggunakan material saripati ketela yang dapat mudah terurai di tanah dalam waktu 180 hari. Sedangkan untuk pengganti sedotan kami memakai bambu yang dibuat secara manual,” ungkap Aisa.

 

3 dari 4 halaman

2. Batik Mahkota Laweyan

Melihat dua UMKM Lokal yang kembangkan bisnis ramah lingkungan sebagai tren (Tokopedia)

Didirikan sejak 2005, Batik Mahkota Laweyan menjadi bisnis yang terbangun setahun setelah hadirnya Kampoeng Batik Laweyan. Alpha Febela meneruskan bisnis keluarga yang sudah ada sejak 1960an dan sempat vakum di 1990an.

Alpha Febela membangun bisnis ini kembali dengan konsep yang lebih ramah lingkungan.

“Kami juga sudah menggunakan sistem IPAL untuk menjaga air tanah tetap berkualitas bagus sebagai upaya menghindari pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah batik kami,” papar Alpha Febela, Pemilik Usaha Batik Mahkota Laweyan.

Perusahaan ini memproduksi batik tulis abstrak yang sudah berlabel SNI. Untuk beberapa motif bahkan sudah mendapatkan HAKI. Sebagai perusahaan batik, Batik Mahkota Laweyan ini memberdayaan yang merupakan penbatik dan penjahit di sekitar lingkungan. Harapannya, bisnis tidak hanya berdampak baik dari sisi ekonomi melainkan juga lingkungan.

4 dari 4 halaman

Simak video berikut ini

#womenforwomen