Famestory Marissa Anita, Menantang Stigma dengan Aksi dan Hidup Selaras di Atas Pijakan Kuat

Lanny KusumaSyifa Ismalia diperbarui 22 Mar 2022, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Kesetaraan dan menjadi seorang yang merdeka untuk berdaya masih menjadi tuntutan besar yang digaungkan banyak perempuan di seluruh dunia. Seiring dengan perjuangan tersebut, tak sedikit perempuan masa kini yang berhasil meraih kemerdekaannya untuk berdaya, termasuk jurnalis dan aktris Marissa Anita.

Dalam wawancara eksklusif bersama Fimela, peraih Piala Citra itu mengungkap kemerdekaan yang diraihnya dalam hidup. "Merdeka itu definisinya banyak ya, tapi yang jelas yang terlihat dalam kehidupan saya, saya menjalankan sesuatu yang saya cintai, boleh memilih profesi yang saya cintai dan menjalankannya dengan cara saya sendiri tanpa harus diatur-atur oleh orang lain atau hal-hal eksternal, itu bisa dikatakan merdeka," katanya.

Selain berjuang meraih kemerdekaan untuk berdaya, perempuan pun dihadapkan pada stigma negatif yang kerap menjadi penyebab hilangnya berbagai kesempatan baik dalam hidup mereka. "Tantangan itu real dan ada. Terjadi ketika ada kesempatan yang mestinya datang untuk perempuan. Apa yang bisa kita lakukan hanya menantang stigma itu dengan aksi," ujarnya.

What's On Fimela
Famestory Marissa Anita (Fotografer: Daniel Kampua/Fimela.com)

Diakui Marissa dirinya pun pernah mengalami hal tersebut, namun hal itu tak membuatnya patah arang. "Oh yes, tapi yang saya lakukan adalah terus bekerja konsisten sebaik mungkin yang saya bisa."

Soal kesetaraan gender, Marissa berpendapat jika perempuan mampu berdaya jika ia mendapatkan dukungan dari orang terdekat dan lingkungannya. Namun sering kali lingkungan yang tidak memerdekakan, serta kepercayaan tertentu yang tidak lagi relevan, menjadi penghalang besar bagi perempuan.

"Anggapan yang menyebut 'Ah perempuan itu kerjanya ya di dapur aja nggak usah lah sekolah tinggi-tinggi' dan sedihnya itulah itu masih mendominasi anggapan atau value itu masyarakat. Value yang seperti itu pun masih sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang kita ambil sebagai perempuan," ucapnya.

Meski begitu Marissa mengingatkan perempuan untuk berusaha menjalani hidup terbaiknya. Baginya mendengarkan dan memberi waktu untuk diri sendiri, menjadi hal penting yang harus dilakukan setiap orang.

"Ketika kita membuat keputusan sendiri dalam hidup, pasti kita akan merasa lebih selaras, dan mungkin perasaan selaras ini bisa diartikan bahagia atau merdeka ya. Saya percaya manusia itu sebetulnya punya kemampuan alami untuk tahu, apa yang terbaik buat dia. Hanya, kita memang butuh memberikan diri kita waktu untuk sendiri, ngobrol sama diri sendiri dengerin diri sendiri, setelah selesai mendengarkan yang lain."

Tak hanya bicara soal perempuan merdeka dan berdaya, Marissa Anita juga berbagi banyak hal tentang pergulatannya dengan media sosial, caranya hidup di atas pijakan yang kuat, hingga caranya menemukan kebahagiaan diri. Simak wawancara lengkap Fimela dengan Marissa Anita yang seru dengan berbagai bahasan di bawah ini.

2 dari 3 halaman

Perempuan dan Kesetaraan

Famestory Marissa Anita (Fotografer: Daniel Kampua/Fimela.com)

Diperayaan International Women's Day tahun ini, menurut Anda bagaimana kesetaraan gender di Indonesia?

Kayak di film Yuni contohnya ya. Yuni kan ya sebetulnya dia itu kan anak perempuan remaja yang ingin merdeka, tapi lingkungannya tidak memerdekakan dia. Tapi di sekitarnya ada orang-orang yang mau membantu dia merdeka, contohnya ibu lis yang saya mainkan. Tapi di saat yang sama, kekuatan ibu lis pun hanya ya hanya sekian dibanding kekuatan yang jauh lebih besar, nah kekuatan yang jauh lebih besar itu ada banyak, bisa dari kepercayaan-kepercayaan tertentu yang sebenarnya sudah tidak relevan.

Sama seperti kebanyak orang bilang 'perempuan itu kerjanya ya di dapur aja nggak usah lah sekolah tinggi-tinggi' dan sedihnya anggapan atau value itu yang masih mendominasi masyarakat. Meskipun mungkin nggak kelihatan, tapi yang terlihat memang seperti itu kan? Ketika berinteraksi, orang-orang yang memiliki value seperti itu masih sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang kita ambil sebagai perempuan.

Jadi ya, baik itu laki-laki tau perempuan, baiknya kita memang harus bijak dan pandai-pandai mendengarkan masukan atau pengaruh dari luar. Tapi lagi-lagi pada akhirnya semua itu harus diramu sehingga kita bisa muncul pemikiran kita sendiri yang harapannya yang terbaik untuk diri kita.

Perempuan ideal menurut Anda seperti apa?

Saya kan cuma bisa bicara dari kacamata saya sendiri ya, ya itu tadi dia bisa membuat keputusan sendiri, dalam arti sendiri itu bukannya dia nggak dengerin orang lain sama sekali ya. Kita sebagai manusia hidup itu pasti ada pengaruh-pengaruh dari luar misalnya film yang kita tonton, musik atau podcast yang kita dengerin, orang-orang disekitar kita di lingkaran terdekat kita punya paham-paham atau opini-opini mereka sendiri. Tapi tugas kita lah untuk meramu semua itu kemudian membuat keputusan sendiri.

Ketika kita membuat keputusan sendiri dalam hidup pasti kita akan merasa lebih selaras dan mungkin perasaan selaras ini bisa diartikan bahagia atau merdeka atau damai gitu ya. Jadi memang harus gitu sebetulnya, saya percaya ya manusia itu punya kemampuan alami untuk tahu apa yang terbaik buat dia. Hanya kita memang butuh untuk memberikan diri kita waktu itu untuk sendiri ngobrol sama diri sendiri dengerin diri sendiri setalah sudah selesai mendengarkan yang lain.

 
Famestory Marissa Anita (Fotografer: Daniel Kampua/Fimela.com)

Seringkali lingkungan terdekat justru menjadi penghalang seseorang khususnya perempuan dalam berdaya, bagaimana tanggapan Anda?

Kan kita juga punya kekuatan untuk memilih ya, memang hidup itu akan selalu memberikan kita apapun, baik itu tantangan atau bukan tantangan, tapi pada akhirnya kita lah yang memutuskan, misalnya kita bicara mengenai lingkaran, kita bisa lho memilih lingkaran kita.

Kita harus sensitif ya dengan suara hati sendiri. Dalam hidup saya, beberapa orang juga ada yang akhirnya luruh dari lingkaran saya, biasanya karena kita semakin tambah umur. semakin dewasa dan mungkin kitanya berubah juga gitu.

Mungkin saya berubah, mungkin dia berubah, dan biasanya ketika itu terjadi dalam persahabatan atau relasi apapun yang renggang, hal pertama yang saya lakukan adalah saya ajak ngomong, saya ajak ekspresikan beberapa hal yang mungkin terasa berat dalam hati saya, saya juga berikan kebebasan dia untuk mengekspresikan apa yang berat di hatinya, kalau ternyata ada kesalahpahaman, ada miss komunikasi dan kemudian kita bisa perbaiki bersama ya kita perbaiki bersama.

Kalau ternyata pihak yang sana tidak berniat untuk memperbaikinya ya nggak apa, memang secara alami lama-lama orang-orang yang tidak lagi cocok akan seperti itu ya. Entah apakah saya yang tidak cocok dalam lingkaran mereka atau mereka tidak cocok dalam lingkaran saya, kita akan secara alami mencari arahnya masing-masing. And that’s okay.

Perempuan kadang suka menerima perlakuan tidak adil hingga membuatnya sedih dan merasa tertekan. Bagaimana jika Anda berada di sitasi tersebut?

Aku kalau ngerasa sedih, cemas, perasaan-perasaan yang nggak enak, nggak nyaman gitu ya, biasanya hal pertama yang harus dilakukan adalah aku biarin aku rasain gitu, kecenderungan manusia namanya juga sebagai mamalia itu adalah kita kan punya otak namanya amigdala. Itu ada bagian otak kita kan banyak bagiannya nih, nah ada satu otak yang reaksinya itu ini seperti hewan ya fight or flight kalau misalnya diancam biasanya hal yang pertama kita lakukan adalah apakah kita tantang ya kita langsung bereaksi, orang lagi marah marah sama kita, kita bisa marah balik sama dia atau kita lari ya kan atau kita freeze.

Nah saya sadari kalau misalnya saya lagi merasakan sesuatu yang nggak enak, saya lari, masalah itu nggak akan ke mana-mana tetap di situ, saya berantemin juga malah saya jadi stres, tekanan darah naik, badan jadi nggak enak, berasa kayak berada di lingkaran setan. Freeze juga nggak baik, perasaan kita itu ditekan suatu hari dia akan meledak buat apa.

Jadi akhirnya saya belajar untuk menerima perasaan nggak enak ini dan biasanya saya investigasi diri, kenapa ya hari ini saya ngerasa nggak enak? atau kenapa ya hari ini saya ngerasa sedih? Nah memang kita harus berfikir kritis terhadap emosi-emosi kita sendiri gitu. Duduk saja sama pemikiran itu, terus biasanya nulis juga membantu ya,iItu untuk mengeluarkan segala macam kekacauan yang ada dipikiran dan hati kita gitu, dan biasanya ya aku tungguin aja mungkin bisa sehari, bisa tiga hari, bisa seminggu merasa nggak enak. Tapi lama-lama juga ya ilang sendiri gitu. Satu lagi yang saya lakukan biasanya saya suka bersih-bersih.

Apakah Anda menyimpan mimpi atau target masa depan?

Nggak ada, sungguh, saya nggak ada nggak pernah punya mimpi-mimpi yang besar, mungkin karena saya takut ya, mungkin karena lebih takut kalau misalnya saya mimpi terlalu tinggi ketika itu tidak terjadi jatuhnya sakit sekali. Bisa jadi karena rasa takut itu sih, tapi toh ternyata dari rasa takut itu saya merasa cukup nyaman, saya nggak punya 'oh lima tahun lagi saya harus ada disini diposisi ini punya ini dalam hidup', so far im ok, so saya rasa saya cukup damai dengan apa yang saya punya sekarang.

3 dari 3 halaman

Trauma dan Kedamaian Hidup Tanpa Media Sosial

Famestory Marissa Anita (Fotografer: Daniel Kampua/Fimela.com)

Dalam sesi wawancara eksklusif dengan FIMELA, Marissa Anita juga bercerita mengenai alasan dirinya tak lagi menggunakan media sosial selama beberapa tahun ke belakangan. Pernah mengalami trauma yang cukup mendalam membuatnya tak lagi melakukan hal tersebut. Satu-satunya akun media sosial yang dimilikinya adalah Twitter, yang digunakan untuk keperluan tertentu.

Trauma apa yang membuat Anda benar-benar tidak mau lagi menggunakan media sosial?

Satu, pikiran saya jadi nggak fokus, benar-benar nggak fokus. Saya jadi nggak tahu apa yang saya mau, memang itulah sosial media didesain seperti itu, membuat kita jadi tergantung. Sama seperti narkoba memiliki dampak ketergantungan. Kalau ada waktu kosong atau waktu bosan biasanya kita langsung buka hp, buka social media, scrolling tanpa mikir. Terus saya pikir 'Ini ngapain ya? Saya buang-buang waktu lho kayak gini' di saat mungkin saya bisa melakukan hal lain yang lebih produktif.

Produktif itu bukan selalu tentang kerjaan ya, bisa juga menghabiskan waktu dengan orang-orang yang disayangi atau siapapun itu, bisa orang tua, bisa anak, bisa teman, siapapun yang kita sayangi.

Saya tuh ingat banget pernah satu fase dalam hidup saya, punya teman yang kalau diajak ngomong tuh pegang handphone terus gitu. Padahal 'hey Anda lagi sama saya terus Anda begini?' Ada satu istilah namanya phubbing, terus saya mikir, 'Saya ngapain di sini? Ngapain Anda di depan saya kalau misalkan Anda ngobrol sama orang di luar sana atau ngeklik-ngeklik like orang lain yang sebetulnya nggak penting-penting banget dalam kehidupanmu gitu'.

Banyak lah hal-hal yang tidak mengenakan dengan media sosial berbasis visual itu. Pikiran saya nggak fokus, kalau pikiran kita nggak fokus ya kita pasti cemas bawaannya, karena istilahnya kaki kita tuh nggak jejeg di lantai karena pikiran kita tuh ke mana-mana nih.

Jadi saya mau jejeg kembali lagi memfokuskan pikiran karena ketika pikiran saya fokus tuh saya bahagia. Memang itu sih sepersonal itu saya ingin bahagia, ingin damai dan ternyata social media berbasis visual itu tidak membawa bahagia buat saya, makanya kuat sampai sekarang tanpa social media.

 

Famestory Marissa Anita (Fotografer: Daniel Kampua/Fimela.com)

Jadi saat ini Anda sudah benar-benar mengambil pilihan tepat dan merasa nyaman tanpa media sosial ya?

Yes, sangat nyaman. Saya sangat nyaman tanpa social media. Sebetulnya saya ada satu akun social media yaitu Twitter, tapi itu pun juga saya tidak follow siapa-siapa, cara penggunaanya juga hanya betul-betul hanya untuk keperluan pekerjaan atau saya suka berbagi informasi film yang saya suka gitu, dokumenter kah, film panjang kah, film pendek kah gitu. Sama ya lebih mengumumkan ini 'hey ini lho yang lagi saya kerjain' misalnya mau nonton silahkan, kalau mau baca silahkan, kalau nggak juga gapapa gitu.

Jika suatu hari Anda kembali menggunakan media sosial, kira-kira apa alasannya?

Saya rasa nggak akan ya, saya bisa cukup yakin sih. Bisa dikatakan saya tidak mau punya lagi. Dulu saya pernah punya, tapi setelah saya belajar S-2 lagi di bidang digital media dan society, saya belajar dan mengulik sisi gelap dan sisi negatif dari sosial media dan saya betul merasakan itu ya, saya merasakan dampak negatifnya yang luar biasa dari sosial media ya akhirnya saya tutup sampai sekarang. Orang selalu suka tanya 'kuat ya nggak punya IG gitu'. Terus aku bilang 'ya kuat', mungkin saya dulu trauma kali ya sama Instagram, karena trauma itu yang bisa menguatkan seseorang untuk tidak melakukan sesuatu atau tidak ingin mengalami perasaan itu lagi gitu, jadi ya no, thank you.