Kampanye Lawan Stigma, Prisa Sadarkan Perempuan akan Pentingnya Jadi Diri Sendiri

Nabila Mecadinisa diperbarui 11 Apr 2022, 15:57 WIB

Fimela.com, Jakarta Kekerasan seksual terhadap perempuan yang terjadi karena alasan cara berpakaian yang dicap terlalu terbuka sepertinya tidak lagi asing di telinga kita. Seringkali perempuan, yang sejatinya merupakan korban, disudutkan dan dicap salah karena pilihan busana mereka. 

Padahal pilihan berpakaian tak dapat dijadikan alasan munculnya pelecehan seksual. Karena fakta membuktikan, pelecehan secara verbal juga dapat menyerang perempuan dengan pakaian terbuka atau tertutup sekali pun. Bagi Prisa, jenama lokal yang memproduksi serum kesehatan payudara, perempuan berhak atas apa saja yang ingin mereka kenakan. Lagian di Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan menghargai keberagaman, ekspresi perempuan dalam berbusana semestinya dapat dihargai.

“Bahwa perempuan bebas untuk berekspresi atau berkarya tanpa terganggu stigma masyarakat atas apa yang dia lakukan dan kenakan. Masyarakat tidak berhak untuk men-judge atau menilai seseorang dari penampilan luarnya saja,” kata Syefriandhi, Owner & Founder Prisa, dalam rilis yang diterima.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Kampanye Lawan Stigma

ilustrasi perempuan percaya diri/Dean Drobot/Shutterstock

Atas berbegai keresehan itu, Prisa menggelar campaign dengan tema #LawanStigma. Menurut Syefriandhi, stigma pada perempuan tidak hanya soal pilihan berbusana. Lebih daripada itu, ada juga stigma-stigma lain yang menyangkut fisik seorang perempuan hingga perlu untuk dilawan.

“Mengapa harus olahraga padalah sudah kurus, mengapa harus diet padahal sudah langsing, mengapa harus belajar tinggi padahal akan ngurus dapur? Cewek kok kerjanya kayak laki-laki? Stigma-stigma itu juga nyata adanya,” ujar Syefriandhi.

Stigma, kata Syefriandhi, dapat menimbulkan stress, depresi, perasaan malu, marah, atau berbagai macam reaksi lainnya bair secara fisik, mental, maupun perilaku.

“Stigma membuat orang terkucil atau bahkan diabaikan, yang pada akhirnya menghambat perempuan untuk berporses, berkarya, berekspresi, dan berdikari,” tuturnya.

3 dari 3 halaman

Perempuan tak perlu pedulikan pendapat orang lain terhadap dirinya

ilustrasi perempuan bahagia/mimagephotography/Shutterstock

Dengan campaign #LawanStigma, Prisa berharap perempuan untuk berani tampil, bekarya, bekerja, dan berekspresi tanpa takut. Tak cuma itu, ia pun berharap campaign dapat menyadarkan perempuan untuk tidak perlu lagi mempedulikan pendapat orang lain terhadap dirinya. 

Syefriandhi mengatakan bahwa campaign ini dibuat agar perempuan dapat mengeluarkan potensi yang lebih dari dirinya, karena tubuh perempuan adalah otoritas mereka sendiri.

“Do what you want to do. Post whatever you want in social media. Reclaim our bodies, love it and respect it the way it deserves,” ujarnya..

 

#Women for Women