Hari Anak Nasional: Anak Paling Rentan Terinfeksi Dengue, Orangtua Wajib Tahu Tanda Bahayanya

Novi Nadya diperbarui 21 Jul 2022, 10:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Demam berdarah Dengue atau DBD adalah ancaman nyata yang bersifat dinamis. Bukan hanya berpatokan pada masalah trombosit yang rendah, saking dinamisnya, dengue diklasifikasikan menjadi tiga; tanpa ada tanda bahaya, ada tanda bahaya, dan menjadi berat.

Dan dengue adalah penyakit yang selalu ada di Indonesia dan anak-anak adalah golongan paling rentan terinfeksi dan paling rentan untuk menjadi fatal atau berat. Orangtua wajib mengetahui tanda bahaya dan mencegah agar anak-anak tidak terinfeksi.

Hal itu dipaparkan Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, IDAI dalam rangka dalam rangka diskusi media bertema “Perlindungan Keluarga dari Bahaya Demam Berdarah Dengue” yang digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional bersama perusahaan biofarmasi, PT Takeda Indonesia, Rabu (20/7/2022).

Ia menjelaskan gejala dengue secara umum yang bisa dipakai sebagai panduan, terutama para orangtua. Di antaranya sakit kepala, demam tinggi yang mendadak, nyeri saat menggerakkan bola mata, break bone fever, mimisan, BAB berdarah, dan bintik merah pada kulit.

 

 

2 dari 3 halaman

3 Fase Dengue

Dengue adalah penyakit yang selalu ada di Indonesia, mengancam semua usia dan paling rentang terinfeksi dan rentan menjadi fatal adalah anak-anak (Foto: Fimela.com/Novi Nadya_

Dengue ditantai oleh tiga fase, yaitu fase demam, di mana gejala seperti yang disebutkan sebelumnya muncul. Kedua adalah fase kritis atau dimulai di sekitar waktu demam reda, dan ketiga adalah fase pemulihan yang dimulai saat perembesan plasma selesai.

"Transisi dari fase demam ke fase kritis biasanya terjadi pada hari ke-2 sampai ke-7. Waspada saat demam mulai turun yang rata-rata ada di hari ke-3. Lalu cari adanya warning sign untuk indikasi rawat inap, tatalaksana cairan, atau deteksi dengue berat," jelas Dr. Anggrain.

Warning sign yang dimaksud adalah; tidak ada perbaikan klinis, asupan minum sulit, muntah terus, nyeri perut, perubahan perilaku, pucat, tangan dan kaki dingin dan lembap, pembesaran hati, pendarahan, sampai diuresis menurun (peningkatan Hct dan penurunan trombosit yang cepat).

"Orangtua harus mengetahui gejala dengue di tiap fase, terutama transisi fase demam ke kritis. Demam pada dengue khasnya mendadak tinggi, pada anak dan usia muda, muka mereka juga menjadi merah," sambungnya lagi.

3 dari 3 halaman

Vaksin Dengue

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Jika anak terpapar dengue, hal yang paling ditakuti adalah perembesan plasma. Dr. Anggraini menggambarkan jika kondisi perembesan plasma adalah pembuluh darah dalam keadaan seperti selang bocor, yang jika intens dan berlebihan menyebabkan fatality rate tinggi. 

"Maka itu selalu diminta untuk minum sebanyak-banyaknya, atau kalau dirawat di rumah sakit diberi cairan infus. Cairan yang terbaik adalah bukan air biasa, karena pasien butuh elektrolit yang memungkinan mereka bisa buang air kecil empat jam sekali," lanjut Dr Anggraini.

Untuk itu, ia kembali mengingatkan untuk menerapkan 3M plus karena lebih baik mencegah daripada mengobati. Yaitu dengan menguras tempat-tempat penampungan air, menurut rapat tempat penampungan air, memanfaatkan dengan mendaur ulang barang bekas.

Plus mencegah perkembangbiakan nyamuk seperti memelihara ikat pemakan jentik nyamuk, menghindari gigitan dengan mengunakan obat anti-nyamuk, tidak menggantung pakaian. Dan cara inovatif lainnya yang sudah bisa didapatkan yaitu vaksin dengue untuk anak usia 9-16 tahun.

"Vaksin di Indonesia baru ada 1 produk untuk anak usia 9-16 tahun yang sudah terinveksi dengue dengan 3 kali pemberian. Diharapkan dengan berjalannya waktu banyak inovasi vaksin yang tersedia, sehingga banyak pilihan dan mencakup rentang usia lebih luas, mudah-mudahan juga tidak terlalu mahal," tutupnya.