Waspada Polusi Udara Dalam Ruangan yang Selalu Mengintai

Nabila Mecadinisa diperbarui 09 Agu 2022, 16:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Salah satu pelajaran yang bisa diambil selama masa pandemi adalah pentingnya udara bersih untuk melindungi masyarakat dari infeksi/penularan Covid-19, sekaligus mendukung kesehatan yang lebih baik secara umum. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengelolaan polutan udara, bahkan pada konsentrasi yang relatif rendah adalah merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi risiko kesehatan.

Lebih dari 99% populasi dunia tinggal di daerah dimana kualitas udara berada di bawah standar yang ditetapkan oleh WHO. Dengan latar belakang ini, Philips Domestic Appliances telah menyiapkan penelitian “white paper” yang memberikan informasi mengenai kualitas udara dalam ruangan, kontaminan udara, dan peran pembersih udara dalam mengurangi paparan polutan udara di dalam ruangan.

Banyak orang beranggapan bahwa mereka aman dari polusi saat berada di rumah atau di dalam ruangan. White Paper menjelaskan bahwa, faktanya, polusi udara juga terjadi di dalam ruangan dan seringkali tidak terlihat dan tidak diketahui. Polusi udara dalam ruangan dapat berasal dari berbagai barang rumah tangga, seperti karpet dan gorden, aktivitas memasak, peralatan elektronik seperi AC dan kipas angin, bulu hewan peliharaan, asap rokok, atau bahkan pembakaran sampah di lingkungan sekitar. Kualitas udara dalam ruangan menjadi penting ketika sebagian besar waktu kita habiskan di dalam ruangan. Orang yang bekerja di kantor dan anak-anak yang pergi ke sekolah menghabiskan setidaknya 80% waktu mereka di dalam ruangan.

 

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

9 dari 10 orang menghirup udara yang tercemar

Ilustrasi Pencahayaan di Ruangan | unsplash.com

Polusi diukur sebagai unit Particulate Matter atau PM untuk lebih singkatnya, yang merupakan campuran kompleks zat padat dan cair yang tersuspensi secara alami di udara. Partikel ini dapat bervariasi dari sisi ukuran, bentuk dan komposisi, tetapi jika berukuran 10 mikrometer (PM10) atau lebih kecil (PM2.5, PM1, ultrahalus), mereka dapat terhirup. Jika terhirup, partikulat dapat masuk ke sistem pernapasan yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan menyebabkan asma, stroke, dan penyakit jantung dan paru-paru.

WHO menyatakan bahwa 9 dari 10 orang menghirup udara yang tercemar. Dan di Indonesia, kita juga menghadapi masalah polusi udara. Laporan Kualitas Udara Dunia IQAir 2021 terbaru, menempatkan Indonesia pada peringkat 17 di antara negara-negara paling tercemar di dunia, dengan konsentrasi PM2.5, yang berarti 6,9 kali lebih besar dari nilai pedoman kualitas udara WHO Situs web IQAir juga menampilkan daftar sepuluh kota dengan kualitas udara paling tercemar secara real-time, diantaranya yaitu Jakarta, Bekasi, Serang, Semarang, dan Surabaya. Seiring dengan memuncaknya musim kemarau selama beberapa bulan ke depan, penggunaan AC akan meningkat, namun juga membuat orang terpapar ancaman polusi udara saat mendinginkan diri dalam ruangan.

3 dari 4 halaman

Polusi Udara dan Anak-anak

ilustrasi anak /copyright By Makistock from Shutterstock

Setiap hari, lebih dari 90% anak-anak di dunia menghirup udara tercemar yang membahayakan  kesehatan dan perkembangan mereka “Bayi baru lahir, bayi prematur, dan anak kecil sangat rentan terpapar racun dan efek jangka panjang dari pencemaran lingkungan,” ujar salah satu anggota panel ahli penelitian White Paper, Professor Wojciech Feleszko, Profesor Pneumologi dan Alergi Pediatrik di Universitas Kedokteran Warsawa. Pada tahun 2016, diperkirakan terdapat 600.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena penyakit yang disebabkan atau diperburuk oleh menghirup udara yang tercemar.

Bulan ini, setelah dua tahun pandemi, sekolah umum di Indonesia memulai kembali pembelajaran penuh tatap muka, di dalam kelas. Ini berarti anak-anak terpapar berbagai polutan udara; tidak hanya di rumah tetapi juga di sekolah, dan kemudian dalam perjalanan ke- dan dari sekolah. Meskipun tindakan pencegahan di dalam rumah dapat dilakukan dengan lebih mudah, sekolah mungkin memiliki tantangan dalam memastikan bahwa ruang kelas berventilasi baik, dan udara bersih bersirkulasi secara merata meskipun menggunakan AC.

4 dari 4 halaman

Filter HEPA untuk Meningkatkan Kualitas Udara Dalam Ruangan

Philips Domestic Appliances menerbitkan Clean Air White Paper sebagai acuan untuk kualitas udara yang bersih.

Filter High-Efficiency Particulate Air (HEPA) adalah jenis filter mekanis yang memaksa udara mengalir melalui jaring-jaring halus yang menangkap berbagai partikel berbahaya seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan asap tembakau. Menggunakan filter HEPA di rumah dapat menghilangkan sebagian besar partikel di udara yang menyebabkan alergi atau gangguan kesehatan lainnya. Manfaat menggunakan filter HEPA adalah meredakan gejala asma, menghilangkan bahan kimia berbahaya dari lingkungan dalam ruangan, dan menetralisir bau tak sedap. “Penjernih udara dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan dapat melengkapi pengobatan asma untuk membantu pasien alergi dan asma mengendalikan gejalanya,” jelas Profesor Wojciech Feleszko lebih lanjut.

Pembersih udara portabel yang menggunakan filter HEPA sebagai mekanisme utama pembersihan udara menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan metode pembersihan udara lain yang saat ini tersedia untuk penggunaan di rumah. Keuntungan ini termasuk instalasi sederhana (tidak memerlukan sistem pendingin udara sentral), fleksibilitas penempatan, dan kurangnya produk sampingan yang berbahaya.

Penelitian Clean Air White Paper juga menyajikan berbagai penelitian tentang efektivitas pembersih udara. Sebuah studi silang atas 43 anak di dekat Shanghai menunjukkan bahwa penyaringan HEPA di kamar tidur selama dua minggu mengurangi paparan perorangan rata-rata dari 40 menjadi 25 μg m-3 dan mengurangi konsentrasi rata-rata PM2.5 dalam ruangan dari 34 menjadi 10 μg m-3. Para penulis mengaitkan pengurangan paparan perorangan yang lebih sederhana dengan waktu yang dihabiskan di lokasi lain, di mana tidak ada pembersih udara. Studi semacam itu menunjukkan bahwa pembersih udara portabel berperan efektif bagi orang-orang ketika mereka berada di ruangan yang sama dengan pembersih udara aktif.

“Dalam dua tahun terakhir, Philips Domestic Appliances melihat peningkatan pemilik rumah yang menggunakan pembersih udara dengan filter HEPA sebagai tindakan pencegahan terhadap Virus Corona (SARS-CoV-2) dan polutan. Orang Indonesia semakin fokus pada apa yang paling penting bagi mereka – menjaga diri mereka sendiri dan orang yang mereka cintai agar tetap sehat dan aman. Dengan orang-orang yang sebagian besar menghabiskan waktu di dalam ruangan dan memprioritaskan kesehatan mereka, inovasi teknologi terbaru kami hadir bagi pelanggan untuk mempertahankan kondisi ruangan yang sehat. Ini juga merupakan komitmen kami untuk berbagi pengetahuan dan informasi serta menciptakan kesadaran masyarakat tentang kualitas udara dalam ruangan dan teknologi pemurnian udara,” kata Danny H Hadhyan, Presiden Direktur Philips Domestic Appliances Indonesia. 

Sebagai merek tepercaya, hanya pembersih udara Philips yang memiliki filter NanoProtect HEPA yang menghilangkan 99,97% partikel sekecil 0,003 mikron, lebih kecil dari virus terkecil yang diketahui, dan juga melindungi orang dari partikel PM2,5, bakteri, serbuk sari, debu, bulu hewan peliharaan, dan serpihan, gas dan polutan lainnya. NanoProtect HEPA menyaring 100x partikel lebih kecil dibanding filter HEPA standard.