Capaian Vaksinasi Booster Masih 26%, Dokter Paru Ingatkan Booster Efektif Lindungi Diri dari Keparahan Covid-19

angela marici diperbarui 22 Sep 2022, 15:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Dokter Spesialis Pulmonologi dan Pengobatan Pernafasan (Paru-Paru), Dr. dr. Erlina Burnhan, MSc., Sp.P.(K) mengungkapkan bahwa capaian vaksin booster di Indonesia saat ini masih rendah yakni hanya mencapai 26 persen. Padahal vaksinasi booster sangat efektif untuk melindungi diri dari penyakit parah hingga kematian pada lanisan dan populasi umum.

Dalam webinar yang berjudul “Pentingnya Vaksinasi Booster dalam Melindungi Masyarakat dari Akibat Serius Penyakit Covid-19 Termasuk Rawat Inap dan Kematian”, Erlina menjelaskan bahwa vaksin memiliki efektivitas sebesar 84.2 persen untuk masyarakat umum. Sedangkan untuk kelompok lansia di atas 60 tahun vaksin memiliki efektivitas sebesar 87.4 persen.

“Untuk vaksinasi primer Indonesia bagus vaksin pertama 86 persen, vaksin kedua 72 persen. Namun yang masih menjadi masalah adalah capaian untuk vaksin booster atau suntikan ketiga masih rendah sekitar 26 persen.” ujar Erlina pada Kamis (15/09/2022).

Ia juga menekankan bahwa vaksin booster efektif untuk melindungi seseorang dari keparahan penyakit dan juga kematian akibat Omicron. Oleh sebab itu, ia mengingatkan pentingnya booster dalam vaksinasi mengingat penambahan vaksin yang saat ini masih rendah.

What's On Fimela
Media webinar “Pentingnya Vaksinasi Booster dalam Melindungi Masyarakat dari Akibat Serius Penyakit Covid-19 Termasuk Rawat Inap dan Kematian” yang diselenggarakan pada Kamis (15/09/2022).
2 dari 3 halaman

Studi Real World

Data efektivitas vaksin booster untuk masyarakat umum dan lansia.

Selain itu, dalam webinar tersebut Erlina juga membahas mengenai studi real world yang dilakukan oleh 22 ahli dari Asia dan Amerika Latin menyimpulkan bahwa terdapat tiga temuan yang disimpulkan dalam jurnal dan data-data yang telah di-review oleh para ahli tersebut. Berikut temuan yang ditemukan oleh para ahli:

Temuan 1

Vaksin yang tersedia yaitu AstraZanecca dan mRNA memberikan perlindungan yang tinggi terhadap pencegahan keparahan penyakit dan juga kematian akibat Omicron. Menurut Erlina saat ini masyarakat sedang menghadapi Omicron yang sirkulasinya banyak.

Untuk menghadapi Omicron booster sangat efektif untuk melindungi seseorang meskipun mereka terpapar dan sakit, tetapi tetap terlindungi dari keparahan sehingga tidak perlu dirawat dan minim kematian. 

Dalam jurnal yang telah di-review tersebut diketahui bahwa 84.2 persen vaksinasi efektif untuk melindungi masyarakat umum sedangkan 87.4 persen vaksinasi efektif melindungi kelompok lansia.

Efektifitas vaksin untuk masyarakat umum sangat tinggi, perlindungan yang dimaksud adalah meskipun masyarakat terpapar tetapi tidak menimbulkan keparahan seperti di rawat hingga kematian.

Temuan 2

Dalam temuan kedua terdapat dua jenis platform yang di-review oleh para ahli, yakni viral vector yang dikembangkan AstraZanecca dan mRNA dari Moderna dan Pfizer, dari hasil temuan diketahui ternyata kedua jenis platform tersebut memberikan perlindungan yang setara. Sehingga masyarakat diminta untuk tidak memilih-milih vaksin karena hasilnya setara dan tetap sama dalam memberikan perlindungan bagi tubuh.

Temuan 3

Sedangkan dalam temuan yang ketiga ini diketahui bahwa jika seseorang mendapatkan dosis keempat, perlindungannya akan kembali seperti sebelumnya. Diketahui bahwa setelah melakukan booster pertama kalau tiga bulan kondisi akan kembali seperti sebelumnya dengan diberikan booster kedua atau suntikan keempa akan mengembalikan perlindungan dalam tubuh.

“Jadi itulah makanya disarankan sebetulnya bahwa kita ini mendapatkan suntikan keempat atau booster kedua.” kata Erlina. 

 

 

3 dari 3 halaman

Cakupan Booster yang Rendah

Ilustrasi orang yang sedang disuntik vaksin booster. Credits: pexels.com by FRANK MERIÑO

Berdasarkan data total vaksinasi yang dianalisis oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa terdapat 61.512.584 yang melakukan vaksinasi dosis booster atau sebesar 26.1 persen. Kondisi ini dianggap masih rendah dibandingkan dengan dosis primer yang dilakukan oleh pemerintah.

“Cakupan vaksinasi primer di Indonesia sudah oke banget, tapi yang bermasalah adalah booster-nya tadi saya sampaikan hanya 26 persen. Ini rendah banget padahal dari awal kita udah berbicara booster ini bisa melindungi dari infeksi yang berat dan juga kematian.” ujar Erlina dalam media webinar “Pentingnya Vaksinasi Booster dalam Melindungi Masyarakat dari Akibat Serius Penyakit Covid-19 Termasuk Rawat Inap dan Kematian” (15/09/2022).

Adapun alasan cakupan vaksin dosis booster saat ini masih rendah, yaitu:

  • Masyarakat sudah merasa cukup terlindungi dari vaksin dosis pertama dan kedua yang dilakukan.
  • Masalah distribusi vaksin.
  • Masalah sentra vaksinasi yang saat ini mulai berkurang.

 

Penulis: Angela Marici

#Women for Women