Famestory Aviwkila, Menikmati Keterpurukan yang Berbuah Manis

Lanny Kusuma diperbarui 22 Nov 2022, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Jalan kehidupan memang tak bisa ditebak, namun saat berada di kondisi sulit sekali pun, semuanya bisa saja berubah asal ada usaha dan doa kuat yang mengiringi. Ya, itu bukan hal mustahil terlebih setelah mendengar cerita Uki dan Thana, pasangan suami-istri yang tergabung dalam duo Aviwkila ini ternyata pernah menjalani masa yang begitu sulit dalam hidupnya, dan dibagikan secara eksklusif kepada FIMELA.

Bicara tentang kehidupannya di masa lalu, sebelum menjadi musisi populer seperti saat ini, duo yang juga pernah tampil di ajang pencarian bakat itu menjalani hidup yang sangat sederhana, bahkan untuk bertahan hidup, mereka harus kuat-kuat menahan lapar. Menariknya saat berada di masa tersebut, Uki dan Thana mengaku bahwa mereka menjalaninya dengan senang hati, karena tahu, menjalani passion dan bertahan bersamanya itu bukan hal mudah untuk dijalani.

"Nyicil (bayar kos) and then hidup dari kartu kredit pernah, sering, di Jakarta. Hampir setahun ya, jadi tiap akhir bulan itu pinjem duit sama temen buat nutup kartu kredit itu terus kita ambil lagi buat balikin ke temen kita lagi, terus hidup dari situ lagi," ucap Uki mengenang kehidupannya yang gelap bersama Thana di tahun 2014-2017.

Tak sampai di situ, pasangan yang menikah setelah 12 tahun bersama itu pun menuturkan kesulitan mereka untuk makan sampai harus berpuasa. "Terus habis itu sempat juga karena kita dulu nggak ada duit di Jakarta ya, terus kita puasa Daud dong," kata Thana. "Iya, jadi orang lihatnya kita nih kaya religius banget, padahal nggak ada duit. Jadi puasa Daud itu kan sehari puasa sehari nggak, itu kita campur jadi senin kamis dicampur daud. Jadi seminggu cuman nggak puasa 2 hari," tutur Uki menjelaskan sambil tertawa mengenang.

What's On Fimela
16 tahun bersama sejak berada di bangku kuliah, Uki dan Thana tak penah sedikit pun merasa bosan dengan satu sama lain. (Foto: Daniel Kampua, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Meski jalan menjadi musisi sukses harus dijalani dengan susah payah, keduanya tak menyerah. Mengasah kemampuan, terus berusaha dan menikmati segala prosesnya, menjadi pilihan yang diambil pasangan yang kini telah memiliki dua anak itu.

Perlahan namun pasti, Aviwkila yang dulu dikenal sebagai "musisi cover", kini hadir dengan karyanya sendiri. Tak hanya sekedar karya, lagu-lagu yang dihadirkan Uki dan Thana bahkan begitu melekat dihati para pendengarnya, bahkan baru-baru ini mereka berhasil merilis sebuah mini album bertajuk Hei Kamu.

"Nggak bisa diungkapkan bahagianya. Kita gak bisa bikin lagu yang intelektual, yang keren-keren, yang bisa kita lakukan adalah kita bikin lagu dari apa yang ada di hati kita. Jadi kita menyampaikan apa yang ada di hati kita, buat didengarkan orang lain, jadi begitu mereka merespon itu rasanya benar-benar luar biasa," ucap Thana yang merasa bersyukur karya Aviwkila tak hanya bisa diterima, tetapi juga berkesan di hati banyak orang.

Aktif di media sosial, selain menunjukkan karya, Uki dan Thana pun kerap menunjukkan kehidupan mereka. Menariknya, tak hanya sekedar kehidupan sehari-hari, lewat akun Instagram Aviwkila, pasangan ini juga kerap membuat parodi menggelitik dan menghibur.

Bicara soal kehidupan mereka di media sosial, Aviwkila menyebut bahwa apa yang mereka tunjukkan bukan lah kepura-puraan, melainkan kenyataan yang mereka jalani tanpa sesuatu yang dibuat-buat.

"Kami tidak pernah berpura-pura. Kita selalu mencoba apa adanya. Karena menurutku saat kita nongol ke publik dengan menjadi orang lain itu capek, capek banget. Pasti akan ketahuan aslinya gimana," kata Uki.

Hal di atas hanya lah sebagian kecil kisah menarik dari kehidupan Uki dan Thana Aviwkila yang diungkapkan kepada FIMELA. Ingin tahu lebih banyak tentang mereka? Berikut ini adalah petikan wawancara lengkapnya.

 
2 dari 3 halaman

Perjuangan

Menikmati jatuh-bagun bersama, Uki dan Thana begitu menikmati segala proses hidup yang mereka hadapi. (Foto: Daniel Kampua, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Ada perjuangan besar yang dijalani Aviwkila sebelum sampai di titik ini. Tampil di ajang pencarian bakat, kemudian menjadi musisi cover dengan tujuan agar lebih dikenal luas dan lagu-lagu karyanya diterima, kenyatannya semua tak seindah rencana. Seperti apa jatuh bagun Aviwkila hingga akhirnya kini bisa menjadi salah satu musisi tanah air yang memiliki banyak penggemar?

Jatuh bagun seperti apa yang dialami Aviwkila sebelum sampai di titik ini, tepatnya di tahun 2014-2017 ya?

Uki: Hahaha kita sering jatuh iya, tapi kita nggak ngerasa. Kalau melihat hari ini, saat itu memang jatuh. Cuma saat kita mengalami kejatuhan itu kita gak terlalu ngerasa kita jatuh karena memang (menjalani) passion ya, berkarya memang hobi kita. Jadi kalau ada masalah, ada jatuh, ada apapun tetap nggak akan menghentikan kita, kita akan tetap berjalan.

Thana: Kalau di ingat-ingat sih pernah juga ngalamin saat kita berdua kerja, kita dulu pernah sampai ngerasain main musik tuh selama tiga jam dibayar cuman 50 ribu. Habis buat beli bensin dan beli senar, di saat itu papaku sudah gak ada, yang bantu keluarga cuma kita berdua saat itu, jadi dicukupkan seada-adanya.

Waktu di Jakarta kita sempat tergabung dalam satu management gitu tapi itu juga belum ada pemasukan sampai saat itu aku pernah 5 bulan nunggak nggak bayar kos, hampir diusir sama bapak ibu kosnya.

Uki: Tapi karena beliau baik kita tetap stay di situ, kita ngomong apa adanya belum ada pendapatan. Nyicil and then hidup dari kartu kredit pernah, sering di Jakarta. Jadi hampir setahun ya, jadi tiap akhir bulan itu pinjem duit sama temen buat nutup kartu kredit itu terus kita ambil lagi buat balikin ke temen kita lagi, terus hidup dari situ lagi.

Thana: Terus habis itu sempet juga karena kita dulu gak ada duit di Jakarta ya, terus kita puasa daud dong.

Uki: Iya, jadi orang kan lihatnya kita nih kaya religius banget, padahal gak ada duit. Jadi puasa daud itu kan sehari puasa sehari enggak, itu kita campur jadi senin kamis dicampur daud. Jadi senin puasa senin kamis, selasa kosong, rabu puasa daud, kamis puasa senin kamis, jumat puasa daud lagi. Jadi seminggu cuman gak puasa 2 hari.

Thana: Makannya apa, pop mie berdua.

Orang tua di Malang tahu?

Thana: Kita gak pernah ngasih tahu orang tua di rumah di Malang bahwa kondisi kita kaya gitu di Jakarta. Kita bener-bener kaya nggak apa-apa. Saat itu kita juga gak ngerasa “Ya ampun hidupku kok kasihan banget” gak pernah, ya udah jalanin aja.

Meski menjajaki karier di industri musik tak mudah, Uki dan Thana Aviwkila tak menyerah. Kini mereka pun mulai menikmati hasil jerih payahnya. (Foto: Daniel Kampua, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Meski dinikmati, tapi perjalanan itu nggak mudah untuk dilalui. Pernah kepikiran untuk banting setir menjalani karier lain?

Thana: Lebih ke nggak ada jalan lain, bisanya cuma bisa ini.

Uki: Iya, kalau dipikir mau nyerah ya sempat, cuma saat itu kaya “Terus mau ngapain kalau nyerah?” ngnggak bisa apa-apa, bisanya cuman musik. 

Thana: Kita bukan orang kantoran soalnya, disuruh ngantor nggak bisa

Uki: Disuruh ngantor nggak jago, disuruh bangun pagi ya nggak bisa saat itu. Akhirnya nggak ada pilihan lain, ya sudah skill yang paling kita bisa kita asah terus walaupun saat itu belum ada kejelasan arahnya gimana.

Kalian dibilang salah satu pasangan disukai banyak orang karena selalu menunjukkan sesuatu yang menyenangkan dan menghibur. Aslinya apakah seperti itu juga?

Uki: Iya memang kaya gitu. Aslinya kaya gitu, cuman memang agak dilebay-in (untuk konten).

Di media sosial, Uki pernah membagikan perjalanannya menurunkan berat badan ya. Saat itu Apa yang membuat Anda tersadar untuk menjalani hidup sehat?

Uki: Dulu beratku sudah tembus 100 kg, per hari ini sudah 76, stabil antara 75-76 dan saat itu yang bikin aku sadar kenapa harus menurunkan berat badan adalah aku sudah nggak produktif, super tidak produktif, males, energinya sedikit, per 3 jam sekali lapar, terus kalau habis lapar itu makan, habis makan ngantuk, gitu terus polanya kaya gitu aku nggak ada waktu buat anak-anakku nggak ada waktu buat istriku.

Thana: Even saat itu aku hamil 5 bulan, anakku yang pertama umur 20 bulanan hampir 2 tahun, itu yang gendong aku.

Uki: Jadi saking lemahnya aku sebagai laki-laki yang saat itu terlalu gede, aku nggak bisa gendong anakku, nggak punya tenaga untuk itu, dia yang gendong dalam kondisi hamil. Ya itu titik baliknya setelah aku kena covid, begitu sembuh indikator kesehatanku berantakan asam uratnya kacau, kolesterol kacau, gula darah juga kacau, terus ada anxiety, gerd, ada asam lambung.

Thana: Sampai sering banget dia panic attack.

Uki: Secara psikologis sudah berantakan. Waktu itu aku cuman lihat anakku, ini umurku masih segini terus anak-anakku masih kecil dua-duanya perempuan, masa aku mau kasih masa lalu yang jelek buat mereka sih.

Maksudnya saat mereka udah gede mereka ingat bapaknya saat mereka masih kecil, bapaknya sakit-sakitan gak pernah gendong, dan sebagainya, kayak nggak oke banget kan, itu titik baliknya. Aku sambil duduk terus ya aku harus berubah, aku harus jadi hero buat mereka, harus menanamkan masa lalu yang baik buat mereka.

Thana: Karena kenangan akan bapak apalagi anak kita perempuan, satu-satu akan mereka bawa sampai mereka menemukan pasangan. Itu jadi kriteria untuk pasangan mereka, jadi dia mau gak mau harus jadi sosok yang bisa dibaggain sama anak-anak.

Uki: Sejak itu akhirnya merubah pola makan mengubah pola hidup.

Anak-anak jadi salah satu motivasi terbesar dalam perubahan itu ya. Kemudian, soal mengurus anak, kalian memang memilih untuk melakukan sendiri?

Thana: Karena aku ingin disetiap detik anak-anak itu ada kita, sampai sekarang itu kaya Nura bangun tidur selalu ngomong mama itu kesayanganku, itu tuh berarti banget itu tuh mahal banget.

Uki: Sebenarnya kita ada juga baby sitter juga yang bantu-bantu.

Thana: Dia datang pagi pulang siang, jadi bantu bersih-bersih rumah atau titipin anak-anak saat kita lagi kerja.

Uki: Tapi sebisa mungkin anak-anak tetap dekat sama kita, jadi memang memilih untuk sama mereka terus.

Thana: Mumpung kita masih dikasih kesempatan, ada orang yang ngantor dan sebagainya. Kita nggak bisa bayangin sih kalau kita ngantor, terus ketemu anaknya cuma pagi dan sore kita nggak bisa bayangin aja sih, kita nggak bakal kuat.

Sempat tinggal di Jakarta, kenapa Aviwkila akhirnya memutuskan untuk menetap di Malang?

Uki: Awalnya memutuskan tinggal di Jakarta and then.. hamil anak pertama Nura itu.

Thana: Hamil anak pertama, disaat yang berbarengan dengan kondisi orang tua sudah sepuh. Terus kita mikir mau sampai kapan? Maksudnya kita mau cari duit di mana pun alhamdulillah saat itu kita bisa, cari rezeki. Tuhan gak akan pernah merem sama usaha kita, itu yang pertama. Yang kedua, umur orang tua kita gak pernah tahu.

Uki: Gak ada yang tahu loh, kita lagi cari duit lagi kaya-kayanya lagi nikmatin semua tiba-tiba orang tua dipanggil, terus in the end kita bilang “Aku nyesel gak sempet nyenengin orang tuaku," Aku gak mau kayak gitu. Karena aku melihat banyak temen-temen artisku yang lain mereka merasa seperti itu, jadi begitu mereka punya semua, mereka jarang deket sama orang tuanya, begitu orang tuanya meninggal mereka nyesel, walaupun mereka punya harta sebegitu banyaknya, itu nggak ada artinya. Semenjak hari itu kita mikir oke lah kita nemenin orang tua. Begitu aku memutuskan itu, nggak sampai setahun terus pandemi. Ya sudah jadi lebih banyak di Malang.

3 dari 3 halaman

Bahagia Bermusik dari Hati

Lewat karya yang dihadirkan, Aviwkila membawa energi positif untuk para pendengarnya. (Foto: Daniel Kampua, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Bicara soal musik, Aviwkila menghadirkan karya dengan banyak pesan mendalam, sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan kepada para pendengar?

Uki: Kita pengen menyajikan musik dari sudut pandang lain, selama ini musik-musik yang beredar kan hanya seputar sakit hati, seputar hal-hal yang menurut kami kurang positif, kita pengen coba bawain lagu-lagu dengan lirik yang lebih positif dan itu pun bukan tanpa alasan, karena bagi kita lagu itu kaya doa.

Ini bagi kita ya, belum tentu orang lain menyakini apa yang kita percaya. Jadi saat kita menyajikan lagu-lagu tentang perselingkuhan atau apa, dan kebetulan lagu itu booming dan saat dinyanyikan bersama-sama, dinyanyikan orang selapangan, menurut kita (lagu itu) seperti doa yang dinyanyikan bersama-sama, seperti sugesti yang disampaikan.

Jadi kita menghindari doa (negatif), jangan sampai yang dilantunkan itu kata-kata yang negatif yang anti akan berimbas ke diri kita sendiri, kita pengen bikin lagu yang positif.

Saat ini Aviwkila sudah berhasil tampil membawakan lagu karyanya sendiri, sudah tercapai. Bagaimana rasanya?

Thana: Waah akhirnya nggak perlu pakai contekan lirik lagi.

Uki: Tapi awalnya nggak pede, karenadi awal manggung saat itu belum ada orang yang tahu lagu kita ya.

Thana: Kalau kita manggung terus nggak ada interaksi dari penonton itu rasanya kaya garing banget gitu.

Uki: Apalagi kita terbiasa membawakan lagu-lagu orang, yang which is saat kita nyanyikan di atas panggung pasti ramai. Jadi saat bawain lagu sendiri nggak ada yang respon itu cukup terpukul.

Thana: Sekarang orang sudah ada yang mulai tahu lagunya Aviwkila, kita jadi pede sekarang.

Uki: Iya udah mulai pede, jadi kalau manggung ya mungkin ada cover paling cuma satu lagu atau dua lagu dari sepuluh lagu.

Sekarang pendengarnya sudah banyak, sampai ada yang menangis saat mendengar kalian bernyanyi. Apa yang kalian rasakan saat melihat kejadian itu?

Uki: Speechless.

Thana: Ngak bisa diungkapin bahagianya, soalnya kita bukan mau sok gimana, kita nggak bisa bikin lagu yang intelektual, kita nggak bisa bikin lagu yang keren-keren, yang bisa kita lakukan adalah kita bikin lagu dari apa yang ada di hati kita. Jadi kita nyampaikan apa yang ada di hati kita, jadi begitu mereka merespon itu rasanya benar-benar kayak....

Uki: Lah wong mereka hafal lagunya saja senangnya minta ampun loh, apalagi sampai nangis, ya logikanya gak bisa ngomong.

 
Menjadi figur publik, Uki dan Thana Aviwkila selalu tampil menjadi diri sendiri. Selain mudah, bagi mereka hal itu tak menimbulkan beban baru. (Foto: Daniel Kampua, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela)

Kalian selalu bawa bahagia dan kesan yang baik lewat lagu-lagu yang dibawakan. Soal bahagia, bahagianya kalian itu kalau digambarkan seperti apa?

Uki:kalau bahagianya versi kita itu ya bisa menjadi diri kita apa adanya tanpa perlu jadi orang lain, tanpa ada beban. Jadi diri sendiri sih karena itu kerjaan paling gak ngoyo ya itu, jadi diri sendiri, punya banyak waktu buat keluarga, terus cukup secara keuangan, dan masih bersyukur itu.

Menjadi figur publik, pernah nggak sih kalian merasa terbebani dengan tuntutan harus tampil sebagai pasangan sempurna?

Uki: Tidak, tidak ada karena, kami tidak pernah berpura-pura. Ya kita selalu mencoba apa adanya, karena menurutku saat kita nongol ke publik dengan menjadi orang lain itu capek, capek banget. Pasti akan ketahuan aslinya gimana, daripada kayak gitu, yaudah kita (tampil) apa adanya, yang suka monggo yang ga suka ya monggo. Jadi biar ke mental kita sendiri juga sehat nggak ada beban. Dia gak pake make up, pake daster, terus bikin konten ya memang itu gak aneh bagi followers kita karena memang mereka juga udah terbiasa melihat kita sesantai itu.

Hal yang paling berkesan dalam hidup setelah mengalami jatuh bangun, sempat menjalani susah yang luar biasa dan akhirnya sampai di titik ini?

Thana: Menurut aku sih secara pribadi setiap detiknya itu berharga banget, ada dia ada anak-anakku. 

Uki: Yang paling berharga itu ya bersyukur sama apa yang ada disekitar kita, apa yang paling dekat sama kita, gak usah melihat hal yang belum tentu terjadi, hal yang gak ada, jangan pengen sama hal-hal belum tentu bisa kita raih. Kalau memang udah cukup ya sudah itu aja yang disyukuri dan tetap ingat sama yang bikin hidup.