Nasib Unta Qatar Dipaksa Ladeni Para Turis yang Nonton Piala Dunia 2022

Fimela Reporter diperbarui 07 Des 2022, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Pertandingan sepak bola Piala Dunia yang digelar di Qatar pada tahun ini membuat negara tersebut ramai dikunjungi oleh para turis dari berbagai belahan dunia. Para turis tersebut merupakan penggemar sepak bola ingin menyaksikan dan mendukung secara langsung pertandingan tim favoritnya. Selain merupakan sebuah keuntungan, kedatangan para turis ini juga memberikan dampak yang tidak baik bagi unta di Qatar.

Melansir dari foxnews.com, sejauh ini Qatar telah kedatangan lebih dari 1 juta turis untuk event olahraga Piala Dunia 2022 yang akan berlangsung selama satu bulan. Dengan ini, para turis tentunya tidak hanya akan menyaksikan pertandingan sepak bola saja, tetapi juga mencoba kegiatan lokal termasuk menunggang unta yang telah mengalami lonjakan permintaan sejak Piala Dunia 2022 dimulai pada 20 November lalu.

Oleh karena itu, unta Qatar saat ini telah mulai mengambil beban lonjakan permintaan menunggang unta di tengah hiruk pikuk Piala Dunia 2022. Melihat lonjakan permintaan untuk menunggang unta dari para turis yang datang ke Qatar, para penyedia layanan menunggang unta pun memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan bisnisnya. Satu perusahaan tertentu mengatakan pada Associated Press bahwa mereka telah melihat peningkatan jumlah kegiatan menunggang unta setiap harinya.

2 dari 3 halaman

Dimanfaatkan sebagai Peluang Bisnis

Unta Qatar diharuskan mengangkat beban berat untuk meladeni turis Piala Dunia 2022. (unsplash.com/Annie Spratt)

Peningkatan pelayanan menunggang unta di Qatar mengalami peningkatan yang sangat dratstis, dari yang biasanya hanya 20 pada hari kerja dan 50 pada hari libur, menjadi 500 di pagi hari dan 500 lainnya di malam hari selama Piala Dunia. Hal ini tentunya menimbulkan dampak yang buruk bagi unta yang diharuskan meladeni para turis tersebut.

"Ada banyak uang yang masuk. Saya sangat bersyukur pada Tuhan, tetapi ini banyak tekanan," kata Ali Jaber al Ali, seoang pengembala unta Bedouin dari Sudan, mengutip dari foxnews.com.

Al Ali juga mengatakan bahwa total unta yang dimiliki perusahaannya pun mengalami peningkatan. Dari yang awalnya hanya memiliki 15 unta kini menjadi 60 unta. Ia mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan menunggang unta dari para turis telah berdampak pada fisik unta. Hal ini dikarenakan mereka memiliki waktu yang lebih sedikit untuk beristirahat disela-sela waktu menunggang.

3 dari 3 halaman

Melakukan Perjalanan tanpa Istirahat

Unta Qatar diharuskan mengangkat beban berat untuk meladeni turis Piala Dunia 2022. (unsplash.com/Konstantinos Kaskanis)

Melansir dari foxnews.com, Al Ali mengatakan bahwa unta biasanya istirahat setelah melakukan lima kali perjalanan atau penunggangan. Durasi perjalanan tersebut juga tergolong pendek hanya sekitar 10 menit dan paling lama 20 hingga 30 menit.

Namun seiring dengan peningkatan jumlah turis di Qatar yang ingin melakukan penunggangan unta, hewan tersebut kini harus melayani para turis sebanyak 15 hingga 20 perjalanan tanpa istirahat, bahkan ada beberapa yang memaksimalkan hingga 40 perjalanan. Al Ali mengungkapkan banyak turis yang berkata bahwa mereka tidak bisa menunggu karena memiliki rencana lain yang harus mereka tuju di tengah gurun.

"Organinsasi PETA (People for the Ethical Treatment for Animals) mengingatkan pengungjung Piala Dunia dan seluruh dunia bahwa tidak ada panti jompo untuk para hewan-hewan ini, yang dikirim untuk disembelih ketika mereka sudah tidak berguna lagi. Jadi cara terbaik untuk membantu mereka adalah dengan menolak menunggangi mereka," kata Cryar yang dikutip dari foxnews.com.

Industri pariwisata Qatar telah mengalami ledakan kunjungan sejak dijadikan rumah untuk Piala Dunia tahun ini oleh FIFA, dan negara ini akan terus mengalami lonjakan turis dengan acara olahraga mendatang seperti empat balapan F1 di tahun 2023. Para ahli berpendapat bahwa peningkatkan pengeluaran suatu negara untuk acara olahraga adalah sebuah cara untuk meningkatkan citra dan reputasinya di panggung dunia.

 

Penulis: Frida Anggi Pratasya

#Women for Women