Fimela Ask the Expert: Fakta Penting Penyakit Hepatitis dari Pencegah untuk Ibu Hamil hingga Mitos Penularan

Anisha Saktian Putri diperbarui 31 Jul 2023, 21:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Tentu hepatitis merupakan penyakit yang tidak asing lagi didengar. Meski begitu, masyarakat masih terkadang tidak mengetahui informasi yang benar mengenai penyakit ini, apalagi hepatitis memiliki beberapa jenis. 

Agar tidak percaya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai hepatitis. Fimela ask the expert bersama Rumah Sakit EMC Pulomas pun akan “membedah” mengenai heptitis bersama dr. Chyntia Olivia Maurine Jasirwan, PhD, SpPD, KGEH, MARS FINASIM (Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastro Entero Hepatologi RS EMC Pulomas).

Dokter yang akrab disapa Chyntia ini mengatakan hepatitis berasal dari kata hepa dan titis. Apapun penyakit yang belakangnya itis merupakan peradangan. Jadi, hepatitis ini berarti peradangan di hati, organnya organ hati. “Jadi itu yang disebut hepatitis. Artinya segala macam penyakit yang bisa menimbulkan peradangan di hati itu disebut hepatitis,” ujar dr. Chyntia dalam Fimela Ask The Expert. 

Hepatitis sendiri memiliki berbagai jenis, seperti hepatitis A, B, C, D dan E. Lalu apa yang membedakannya? dr. Chyntia mengatakan jika berbicara dari penyebabnya virus, ada virus A, B, C, D dan E. Dan jika bicara yang non virus ada berbagai macam penyebab lagi, misalnya penyebabnya adalah obat. Maka, yang membedakan A,B, C, D, E ini ialah penyebabnya.

“Tapi dari 5 jenis ini, yang terbanyak di Indonesia, itu B dan C. bedanya kalau A tidak akan pernah menyebabkan kronik. Tidak akan pernah peradangan yang memanjang, seumur hidup akan mengalami peradangan terus. Sedangkan B dan C bisa menyebabkan peradangan yang kronik,”papar dr. Chyntia. 

Sayangnya, hepatitis B dan C ini sering tidak disadari sehingga seperti fenomena gunung es yang bisa mengancam nyawa. dr. Chyntia mengatakan tanda-tanda hepatitis ini sulit diketahui jika sudah kronik, seseorang akan merasa sehat padahal sudah difase  akhir dari suatu hepatitis kronik itu kan kita sebut sebagai sirosis hati, itu sebenarnya sudah termasuk End Stage Liver Disease (ESLD) atau penyakit hati stadium akhir artinya hatinya sudah tidak bisa kembali lagi secara normal. 

“Makanya B dan C ini sering tidak disadari karena dia ada di dalam tubuh orang tersebut tapi dia tidak merasakan apa-apa. Nanti pada saat fase dia sudah endstage (stadium akhir) atau sedang mengalami fase akutnya orang tersebut sadar bahwa dia sudah punya penyakit hepatitis tersebut,” tambahnya 

Meski begitu, dr. Chyntia mengatakan terdapat beberapa gejala awal hepatitis seperti yang paling umum, flu, mual, terkadang demam terkadang tidak. “Itu kalau dia yang fase awal seperti itu. Tapi bisa juga nggak ada gejala apa-apa. Tapi kalau misalnya dia kebanyakan sudah kronik itu bisa timbul kuning, bisa juga penurunan kesadaran. Bisa juga penurunan kesadarannya tidak dalam ya bisa juga lupa seperti linglung. Kemudian bisa juga perut membesar karena ada cairan, kemudian bisa juga gejala lainnya kakinya bengkak. Jadi gejala seperti itu udah mutlak harus diwaspadai,” katanya. 

Gejala hepatitis pada anak pun seperti itu, demam, mual, kuning. Namun, kuningnya harus dibedakan apakah itu  bilirubin karena kurang dijemur, dsb. Kita harus mengetahui data dari ibu, apakah ibunya menderita hepatitis B atau tidak. 

“Tapi pada prinsipnya juga sama, kadang2 tidak diketahui kalau anak itu hepatitis B ditularkan dari ibunya dan ibunya juga tertangkap tidak terdeteksi hepatitis B. anaknya juga waktu lahir tidak diberikan vaksin tidak dipersiapkan diberikan immunoglobulin, dsb. Kemudian dia ternyata dia ada HBSAG yang positif di darahnya, itu juga bisa saja dia tidak mengalami gejala apa-apa sampai dia besar nanti,” kata dr. Chyntia. 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Pencegahan karena bisa terjadi pada siapapun

Ilustrasi Hepatitis A/copyright shutterstock
Ilustrasi Ibu hamil hepatitis/copyright shutterstock.com

Melihat hal tersebut, dr. Chyntia mengatakan ada baiknya untuk mencegah dibanding mengobati. Untuk pencegahannya hepatitis B bisa dengan vaksin yang sangat protektif bisa sampai 90 persen ke atas artinya kalau sudah divaksin dan sudah membentuk antibody, dia terprotektif. Misal terpapar dengan orang yang terkena hepatitis B dari pasangan yang hepatitis B, sudah terlindungi. 

“Makanya kita harus program. Kalau bisa semua anak Indonesia sudah tervaksin hepatitis B. karena kalau dari B dan C yang lebih berat, yang pengobatannya belum sampai tuntas itu yang B. kalau yang C sudah ada obat yang bisa sampai tuntas,” ungkapnya. 

Lalu selain vaksin, dianjurkan screening. Sayangnya, screening ini tidak bisa diterapkan kepada semua orang. Sebab tidak mungkin screening pada seluruh penduduk Indonesia dengan kurang lebih 200 juta jiwa. Biasanya akan screening jika ada medical checkup, atau mau oprasi. Kabar baiknya, kini ini sudah diterapkan pemerintah melalui permenkesnya pada ibu hamil. 

“Sekarang pada semua ibu hamil harus discreening apakah dia ada hepatitis atau tidak. Sehingga kalau dia ada hepatitis B, dia ada threat khusus agar tidak menurun ke janinnya, mungkin cutnya dari situ,” katanya. 

Mengapa ibu hamil? Hepatits B kalau transfusinya vertical, dari ibu ke janin. Jadi diturunkan atau ditularkan dari ibu ke anak, kemungkinan besar itu mengalami hepatitis B yang kronik. “Kita bisa lihat tuh anak, pasien hepatitis B yang usianya produktif di usia 17 tahun, 20 tahunan begitu dias udah mengalami siriosis, kanker hati, kemungkinan besar dia diturunkan dari ibunya,” katanya. 

Oleh sebab itu program yang sudah diterapkan pemerintah saat ini menangkap kasus dari ibu-ibu hamil tersebut. Supaya dapat melakukan-melakukan pencegahan. Sebab saat terkena masih kecil kemungkinannya 95 persen dia menjadi kronik. 

“Walaupun tidak bisa 100% juga pencegahan yang kita lakukan mencegah transmisi dari ibu ke janinnya tersebut. Tapi setidaknya sudah bisa deteksi saat ibu hamil yang positif hbsag, kemudian misalkan virusnya cukup tinggi, pada saat kehamilan trismester akhir bisa pemberian antivirus pada ibu hamil tersebut,” katanya. 

Kemudian untuk janin pada saat kelahiran diberikan vaksin dan imunoglobin. Itu adalah upaya untuk menurunkan tingkat transmisi bisa sampai 90% ke atas. Selanjutnya untuk janinnya sendiri akan dipantau, lalu vaksin hepatitis harus lengkap 3 kali dalam enam bulan selesai, kemudian akan dipantau mungkin diperiksa apakah bisa dicegah hepatitisnya saat dia usia 1 tahun. Jika setelah 1 tahun HBSAGnya negatif, berarti usaha preventif cukup berhasil.

Selain itu, bisa juga penularan horizontal misalnya melalui suntikan, tertusuk jarum, atau dari tattoo, tindik, dsb, ini terjadi jika terkenanya saat dewasa, kemungkinan kroniknya jauh lebih kecil dibandingkan kalau terinfeksinya saat masih kecil. Hepatitis B maupun C penularannya melalui kontak dengan darah, kontak dengan jaringan yang terbuka. 

“Misal ada orang terluka, dia kan jaringannya terbuka terus ada darah, kontak dengan orang lain. Orang lain jika tidak terluka, ya darahnya tidak akan kontak langsung dengan dia. Dianya sendiri harus ada bagian jaringan yang terbuka sehingga virus dari si penderita bisa masuk ke orang lain tersebut. Jadi kontaknya seperti itu. Jadi kalau salaman, keringat, makanan, itu tidak ya. selama orang tersebut tidak ada luka. Tapi ya sebaiknya kalau makan ya tidak usah barengan ya alat makannya. Kita kan gatau ada luka atau tidak,” paparnya. 

Adapulan pencegahan yang umum, seperti menjaga higienis, menjaga kesehatan, kemudian menjaga kebersihan dari segala macem hal, sterilisasi alat, dll.

3 dari 3 halaman

Langkah awal jika terdiagnosis hepatitis dan pengobatan

Ilustrasi langkah awal jika terdiagnosis hepatitis dan pengobatan/copyright shutterstock.com

Lalu bagaimana langkah awal jika terdiagnosis hepatitis, terutama pada anak-anak. dr. Chyntia mengatakan, jika mendapatkan data HBSAG positif, baik melalui MCU dari kantor atau sekedar screening saja, sarannya langsung segera ke dokter.

“Boleh ke dokter umum dulu atau langsung ke spesialis penyakit dalam. Minimal itu, karena jujur saja untuk treatment untuk masuk ke pengobatan, Cuma dokter yang bisa memutuskan. Karena ada teori tersendiri. Jadi jika HBSAG positif, bisa jadi tidak langsung diobati. Karena hepatitis B ini agak unik. Kita mengobati pada fase tertentu, timing yang tepat, dan sesuai dengan derajat penyakitnya pasien,” paparnya. 

Lalu adakah pengobatan hepatitis? Untuk hepatitis A yang sifatnya akut, tidak ada pengobatan khusus. Hanya berdasarkan gejala saja karena nanti dia sifatnya self limiting. Artinya dia akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuhnya. Umumnya dengan obat demam, istirahat, kemudian mungkin diawasi ada kerusakan hatinya cukup hebat, mungkin ada upaya khusus yang dilakukan dokter untuk mengobati kerusakan yang lebih lanjut.

Untuk hepatitis B, sebenarnya ada antivirus. Sekarang ini antivirus yang bisa dipakai, yang dikatakan tingkat resistansinya hampir belum ada itu hanya dua macam obat, tenofovir dan entecavir. Nah dua macam obat ini, itu pun belum bisa menghilangkan 100 % virus. Bahkan ada orang yang terpapar seumur hidup dia minum terus. Karena hepatitis B kronik ini hanya 1 % yang benar-benaar bisa sembuh, HBSAGnya bisa ilang. 

“Makanya kita tidak memberikan terapi dari awal kalau dia masih baik-baik saja. Karena konsekuensinya kalau dia sudah terapi nggak boleh stop sama sekali kemungkinan kita akan edukasinya seumur hidup. Jadi kita nggak tau nih bisa kita mengatakan sampai berapa tahun pengobatan, itu tidak bisa,” katanya.

Untuk C sejak 2010 obat yang sangat paten, sudah bisa mengeardukasi virus sampai 99 – 100%, benar-benar hilang selama hepatitisnya belum jatuh ke liver siriosis atau sirosis hati. “Karena kalau sudah sirosis hati kalau virusnya sudah hilang 100%, tetap sirosisnya akan berjalan. Virusnya ngga ada, tapi sirosisnya masih tetap jalan. Resiko jadi kanker hatinya tetap ada,” ungkapnya.