Fimela.com, Jakarta Mata adalah salah satu indra paling berharga yang kita miliki. Melalui mata, kita bisa melihat, beraktivitas, hingga menikmati momen sehari-hari. Sayangnya, banyak orang masih sering menyepelekan kesehatan mata. Gejala seperti mata merah atau pandangan kabur, misalnya, kerap dianggap hal biasa—sekadar karena kurang tidur, kelelahan, atau terlalu lama menatap layar gadget.
Padahal, dua tanda sederhana ini bisa menjadi pengingat adanya masalah serius pada mata. Salah satunya adalah uveitis, yaitu peradangan pada lapisan tengah mata. Tak hanya itu, gangguan retina juga bisa berawal dari keluhan serupa. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen hingga kebutaan.
Gangguan retina mata bahkan tercatat sebagai salah satu penyebab utama kebutaan di dunia. Sementara uveitis, yang bisa menyerang siapa saja termasuk usia produktif, menyumbang sekitar 25% angka kebutaan di negara berkembang. Lebih mencemaskan lagi, hampir 70% kasus uveitis tidak diketahui penyebab pastinya, sehingga membuat pasien sering terlambat mendapatkan pertolongan.
Kesadaran inilah yang terus disuarakan para dokter mata dalam momentum World Retina Day 2025 di bulan September dan Inflammatory Eye Disease Awareness Week pada Oktober mendatang. Kedua peringatan ini menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mata bukan sekadar urusan kenyamanan, tapi juga menyangkut kualitas hidup jangka panjang.
Uveitis: Peradangan Mata yang Tak Bisa Disepelekan
Secara sederhana, uveitis adalah peradangan pada uvea—lapisan tengah mata yang meliputi iris, badan siliaris, dan koroid. Uveitis bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia produktif 20–60 tahun. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus dan bakteri, penyakit autoimun, hingga faktor idiopatik (tidak diketahui penyebab pastinya).
Gejala uveitis yang paling umum meliputi:
- Mata merah, dengan atau tanpa rasa nyeri
- Pandangan kabur atau berbayang
- Floaters, bayangan kecil yang tampak melayang di lapang pandang
- Photophobia atau pandangan yang sensitif terhadap cahaya
“Uveitis bukan sekadar peradangan mata biasa. Banyak pasien datang terlambat karena minim gejala dini. Padahal, tanpa penanganan tepat, uveitis bisa berkembang menjadi katarak, glaukoma, kerusakan retina, bahkan kebutaan permanen. Deteksi dini dan penanganan segera adalah solusi terefektif,” ujar Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, Dokter Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology.
Kenapa Uveitis Sering Salah Dikenali?
Gejala uveitis sering menyerupai infeksi mata ringan seperti konjungtivitis (mata merah disertai belek). Inilah yang membuat banyak orang abai dan memilih mengobati sendiri. Padahal, uveitis bisa muncul tiba-tiba, memburuk dengan cepat, bahkan menyerang kedua mata dengan waktu yang berbeda.
Itulah sebabnya setiap tanda mata merah yang tidak kunjung membaik atau disertai pandangan kabur sebaiknya segera diperiksa oleh dokter mata, bukan ditunda.
Pilihan Penanganan Medis
Penanganan uveitis dilakukan melalui pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan slit-lamp, pencitraan mata, hingga tes darah. Setelah penyebab diketahui, dokter akan memberikan terapi sesuai kebutuhan, antara lain:
- Tetes mata kortikosteroid untuk meredakan peradangan dengan cepat
- Obat pelebar pupil (cycloplegics) untuk mengurangi nyeri dan mencegah jaringan parut
- Kortikosteroid oral atau suntikan untuk kasus yang lebih berat
- Imunosupresan jika uveitis terkait autoimun dan kronis
- Antibiotik, antivirus, atau antijamur bila disebabkan infeksi
“Diagnosis yang akurat serta koordinasi antarprofesi medis sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan mencegah komplikasi. Penanganan uveitis memerlukan pendekatan menyeluruh guna mengendalikan peradangan dalam jangka panjang,” tambah Dr. Eka.
Gangguan Retina, Ancaman yang Tak Terlihat
Selain uveitis, gangguan retina juga menjadi perhatian besar karena termasuk penyebab utama kebutaan global. Data WHO mencatat, 196 juta orang mengalami degenerasi makula dan 146 juta menderita retinopati diabetik. Di Indonesia sendiri, prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1% menurut data Kementerian Kesehatan.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa gangguan retina bukan hanya masalah individu, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius.
Retina Center Siaga 24 Jam
Untuk menangani gangguan retina secara komprehensif, layanan retina kini semakin terpusat melalui Retina Center di RS Mata JEC @ Menteng. Fasilitas ini dilengkapi 15 jenis pemeriksaan diagnostik berteknologi tinggi mulai dari OCT, USG mata, hingga angiografi fluorescein dan siap melayani kedaruratan retina selama 24 jam penuh.
“Sebagai pusat rujukan retina nasional, RS Mata JEC @ Menteng berupaya mewujudkan komitmen besar dalam mengoptimalkan penglihatan dan kualitas hidup masyarakat. Semakin cepat tertangani, semakin besar peluang penglihatan terselamatkan,” ujar Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng.
Selama tiga tahun terakhir, pusat retina ini telah menangani lebih dari 12 ribu pasien gangguan retina dan infeksi mata, dengan dukungan 11 dokter subspesialis retina berpengalaman.
Pentingnya Langkah Preventif
Dengan momentum World Retina Day dan Inflammatory Eye Disease Awareness Week, masyarakat diingatkan kembali untuk tidak menyepelekan kesehatan mata. Pemeriksaan rutin, mengenali gejala sejak dini, dan segera mencari pertolongan medis adalah langkah kecil yang dapat menyelamatkan “jendela dunia” kita dari risiko kebutaan.
“Dengan semangat peringatan ini, mari bersama-sama menjaga kesehatan mata. Ingat, semakin cepat tertangani, semakin besar peluang penglihatan kita tetap terang,” tutup Dr. Referano.
Penulis: Siti Nur Arisha