Cara Bijak Ayah dan Ibu Menyelesaikan Konflik Tanpa Melibatkan Anak

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 12 Februari 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar, tetapi cara orang tua mengelola perbedaan pendapat akan sangat memengaruhi anak. Ketika ayah dan ibu mampu menyelesaikan masalah secara positif, anak akan belajar bahwa konflik bisa dihadapi dengan tenang dan penuh hormat. Sikap ini bukan hanya melindungi anak dari dampak buruk pertengkaran, tapi juga menjadi teladan berharga yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Melansir laman raisingchildren.net.au mengelola masalah bersama pasangan secara sehat akan memperkuat hubungan keluarga secara keseluruhan. Dengan menghadirkan komunikasi yang terbuka, kerja sama, dan kesediaan untuk mencari solusi, suasana rumah akan menjadi lebih harmonis. Anak pun akan tumbuh di lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan terhindar dari tekanan emosional akibat konflik orang tua.

Sebelum mulai menyelesaikan masalah, penting bagi pasangan untuk membuat aturan dasar atau ground rules. Misalnya, sepakat hanya membicarakan masalah ketika suasana tenang, tidak membahas persoalan di depan anak, atau memberi ruang sejenak jika suasana mulai memanas. Aturan ini membantu menjaga diskusi tetap sehat, saling menghormati, dan fokus pada solusi, bukan saling menyalahkan.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Langkah awal mendefinisikan masalah dengan jelas dan memahami kebutuhan pasangan

Problem solving dan brainstorming sangat diperlukan untuk mengatasi konflik dengan pasangan. (foto: jcomp/freepik)

Langkah pertama dalam problem solving adalah mendefinisikan masalah dengan jelas. Orang tua perlu menyampaikan apa yang terjadi tanpa menyudutkan pasangan. Gunakan kalimat dengan sudut pandang “saya” atau “kita” agar lebih netral, seperti, “Akhir-akhir ini kita jarang punya waktu bersama, bisa kita cari solusinya?” Dengan begitu, komunikasi tetap berjalan tanpa menimbulkan rasa terserang.

Setelah itu, masing-masing pihak perlu memperjelas apa yang diinginkan. Tanyakan kebutuhan, kekhawatiran, atau alasan di balik pandangan pasangan. Mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian akan membantu ayah dan ibu memahami perspektif satu sama lain. Proses ini juga mengajarkan anak secara tidak langsung tentang pentingnya empati dan kemampuan mendengar.

Tahap selanjutnya adalah brainstorming. Buat daftar ide sebanyak mungkin, tanpa terburu-buru menolak usulan. Tujuannya adalah membuka kemungkinan solusi yang bervariasi, bahkan dari ide sederhana. Setelah terkumpul, pasangan bisa menilai kelebihan dan kekurangan masing-masing opsi, lalu memilih jalan keluar yang paling realistis dan bisa dijalankan bersama.

3 dari 3 halaman

Pentingnya dukungan emosional dalam proses penyelesaian masalah

Saling mendukung pasangan adalah salah satu bentuk penyelesaian masalah. (foto: pch.vector/freepik)

Setelah memilih solusi, komitmen untuk menjalankannya menjadi kunci. Tentukan siapa melakukan apa, kapan, dan bagaimana cara menilai keberhasilannya. Jika masalah melibatkan anak secara tidak langsung, orang tua juga bisa mengajak anak terlibat dengan cara yang tepat. Dengan begitu, solusi tidak hanya menjadi kesepakatan di atas kertas, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk memastikan solusi berjalan efektif. Jika cara yang dipilih belum berhasil, pasangan bisa mencoba ide lain atau melakukan penyesuaian. Yang terpenting adalah menjaga komunikasi tetap terbuka, saling mendukung, dan berfokus pada tujuan bersama. Menghargai usaha pasangan dengan kalimat sederhana seperti “Aku senang kita mencoba menyelesaikan ini bersama” dapat memperkuat ikatan emosional.

Jika konflik terasa sulit diatasi, tak ada salahnya mencari bantuan profesional. Konselor pernikahan atau psikolog keluarga dapat membantu menemukan akar masalah dan menawarkan strategi praktis. Dengan bimbingan yang tepat, pasangan bisa membangun pola komunikasi yang lebih sehat. Pada akhirnya, menyelesaikan masalah secara bijak bukan hanya tentang menjaga hubungan ayah dan ibu, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang anak.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa