Sukses

FimelaMom

Mengapa Balita Kerap Tiba-Tiba Merasa Ketakutan?

ringkasan

  • Ketakutan mendadak pada balita adalah bagian normal dari perkembangan kognitif dan neurologis mereka, sering dipicu oleh imajinasi, pengalaman menakutkan, atau proyeksi.
  • Ketakutan umum balita meliputi kegelapan, monster, suara keras, perpisahan, orang asing, dokter, hewan, dan keramaian, yang semuanya memerlukan pemahaman dan validasi dari orang tua.
  • Strategi efektif untuk menenangkan ketakutan balita melibatkan validasi perasaan, pemberian rasa aman, membantu mereka mengungkapkan emosi, menggunakan permainan peran, menghadapi ketakutan bertahap.

Fimela.com, Jakarta - Balita seringkali mengembangkan ketakutan baru secara tiba-tiba sebagai bagian normal dari perkembangan mereka. Ketakutan ini bisa muncul tanpa peringatan dan mencakup berbagai hal yang mungkin tampak sepele bagi orang dewasa. Mulai dari monster imajiner hingga suara keras atau kecemasan perpisahan, respons emosional mereka sangat nyata.

Memahami mengapa ketakutan ini muncul sangat penting bagi orang tua dan pengasuh. Hal ini membantu kita memberikan dukungan yang tepat dan membangun rasa aman pada si kecil. Ketakutan pada balita adalah bagian dari proses belajar mereka tentang dunia.

Dilansir dari berbagai sumber, kita akan membahas penyebab, jenis ketakutan umum, dan strategi komprehensif agar Sahabat Fimela dapat memberikan dukungan terbaik. Dengan pendekatan yang tepat, ketakutan ini bisa diatasi.

Mengapa Ketakutan Baru Muncul pada Balita?

Ketakutan mendadak pada balita bukanlah tanpa sebab, Sahabat Fimela. Perkembangan kognitif dan imajinasi mereka yang pesat berperan besar. Terutama sekitar usia tiga tahun, kemampuan membandingkan dan berimajinasi lebih aktif, membuat dunia terlihat lebih besar dan menakutkan bagi mereka. Mereka mungkin mengkhawatirkan hal-hal yang tidak realistis seperti monster di lemari atau di bawah tempat tidur.

Selain itu, stres atau pengalaman menakutkan juga bisa memicu ketakutan. Misalnya, cedera, kecelakaan mobil, atau bahkan menonton kartun yang menyeramkan. Balita mungkin salah menafsirkan sesuatu yang biasa sebagai hal yang menakutkan, sehingga menimbulkan respons ketakutan.

Fenomena proyeksi juga terjadi pada balita yang lebih besar. Mereka mungkin memproyeksikan dorongan primitif mereka (seperti keinginan untuk menggigit atau memukul) ke bayangan menakutkan, orang asing, atau "penjahat" imajiner. Munculnya ketakutan ini juga merupakan tanda bahwa sistem neurologis balita sedang berkembang, yang memperingatkan mereka akan bahaya.

Berbagai Ketakutan Umum yang Sering Dialami Balita

Sahabat Fimela, ketakutan balita bisa sangat beragam. Mengenali jenis-jenis ketakutan ini dapat membantu kita merespons dengan lebih baik. Beberapa ketakutan umum meliputi kegelapan, di mana balita merasa tidak terlindungi dan takut pada hal yang tidak terlihat dalam kegelapan. Imajinasi mereka juga dapat menciptakan monster dari awan, bayangan, dan sudut gelap.

Suara keras yang tiba-tiba seperti guntur, kembang api, atau anjing menggonggong seringkali mengejutkan balita. Kecemasan perpisahan juga hal yang normal, terutama bagi anak prasekolah, karena mereka takut jika orang tua atau pengasuh utama tidak kembali.

Orang asing dan karakter berkostum juga bisa menjadi pemicu. Bayi (usia 0-2) biasanya takut pada orang asing dan lingkungan yang tidak dikenal. Balita juga bisa takut pada karakter berkostum seperti Sinterklas atau badut. Kunjungan ke dokter, hewan tertentu, dan keramaian juga dapat memicu ketakutan.

  • Kegelapan: Balita merasa tidak terlindungi dan takut pada hal yang tidak terlihat.
  • Monster: Imajinasi menciptakan monster dari bayangan atau sudut gelap.
  • Suara Keras: Guntur, kembang api, atau anjing menggonggong yang tiba-tiba.
  • Perpisahan: Kecemasan saat orang tua atau pengasuh utama tidak ada.
  • Orang Asing dan Karakter Berkostum: Ketakutan pada wajah atau penampilan yang tidak dikenal.
  • Dokter: Kunjungan medis bisa menjadi pengalaman menakutkan.
  • Hewan: Anjing atau serangga tertentu.
  • Keramaian: Tempat ramai dan bising memicu ketakutan terhadap orang asing.

Panduan Komprehensif

Menghadapi ketakutan balita membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tepat. Langkah pertama adalah memvalidasi dan mengakui ketakutan mereka. Jangan pernah meremehkan atau menertawakan ketakutan anak, Sahabat Fimela, meskipun bagi Anda terlihat tidak masuk akal. Ketakutan itu sangat nyata bagi mereka. Tunjukkan bahwa Anda memahami perasaan mereka. Berikan pelukan dan kata-kata yang menenangkan untuk membantu anak merasa aman. I

Selanjutnya, berikan rasa aman dan dukungan yang kuat. Katakan kepada anak. Biarkan anak tahu bahwa Anda ada untuk melindungi mereka.  Jika anak menangis, biarkan mereka tahu itu tidak apa-apa dan Anda mendukung mereka.

Bantu mereka mengungkapkan perasaan dengan cara yang sesuai usia. Anak-anak tidak selalu memiliki kata-kata untuk menjelaskan ketakutan mereka. Ajukan pertanyaan spesifik, misalnya, "Apa yang membuat anjing menakutkan?" atau "Apakah ada anjing yang mengejutkanmu?". 

Manfaatkan permainan peran dan cerita untuk mengatasi ketakutan. Gunakan permainan pura-pura, seperti bermain dokter-dokteran jika anak takut dokter, dan biarkan anak menjadi dokter. Ini dapat memberi mereka rasa kontrol. Bacalah buku tentang mengatasi ketakutan atau ceritakan dongeng yang relevan. Biarkan boneka anak "berbicara satu sama lain" tentang hal-hal yang menakutkan mereka dan bagaimana mereka menenangkan diri.

Hadapi ketakutan secara bertahap. Jangan biarkan balita sepenuhnya menghindari ketakutan mereka sepanjang waktu. Lakukan langkah-langkah kecil. Misalnya, jika anak takut mandi, isi bak kecil dengan air dan biarkan mereka hanya memasukkan tangan. Untuk ketakutan akan kegelapan, habiskan beberapa menit bersama dalam kegelapan sambil melakukan sesuatu yang menyenangkan, lalu secara bertahap tingkatkan waktu dan kurangi kehadiran Anda.

Ciptakan rutinitas yang menenangkan, terutama untuk ketakutan di malam hari. Miliki rutinitas tidur yang menenangkan, seperti membaca cerita atau menyanyikan lagu. Nyalakan musik yang menenangkan dan redupkan lampu satu jam sebelum tidur. Pertimbangkan untuk menambahkan lampu malam di kamar anak. 

Berikan kontrol dan kepercayaan diri. Ajari anak cara menyalakan lampu di rumah.  Puji dan berikan penghargaan saat mereka mengatasi situasi yang membuat cemas. 

Batasi paparan hal yang menakutkan seperti gambar, film, atau acara yang dapat menyebabkan ketakutan. Penting juga untuk menghindari logika yang berlebihan. Menggunakan logika untuk menyangkal ketakutan anak yang panik ("Tidak ada monster!") tidak akan berhasil, karena ketakutan itu sangat nyata dalam imajinasi mereka.

Perhatikan sikap orangtua. Anak-anak cepat menangkap kecemasan orang tua, jadi tetaplah tenang dan berikan pandangan positif. Memberikan rasa nyaman akan meningkatkan ketahanan mental anak.

Ketahui kapan harus mencari bantuan profesional. Jika ketakutan anak berdampak serius pada kehidupan sehari-hari mereka, seperti menyebabkan serangan panik, kehilangan tidur signifikan, atau menghindari aktivitas, pertimbangkan bantuan dari profesional kesehatan mental. Ini juga berlaku jika ketakutan terkait peristiwa traumatis yang nyata.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading