Sukses

FimelaMom

7 Trik Jitu Cara Membantu Balita Mengekspresikan Perasaannya Sejak Dini

ringkasan

  • Mengajarkan kosakata emosi sejak dini dan mendiskusikan perasaan karakter dapat membantu balita mengenali dan memahami emosi mereka sendiri serta orang lain.
  • Menjadi pendengar yang baik, memvalidasi perasaan anak, dan memberikan teladan ekspresi emosi yang sehat sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan komunikasi.
  • Membantu balita mengelola emosi negatif melalui teknik relaksasi, alternatif penyaluran, dan normalisasi perasaan akan membentuk individu yang stabil secara emosional.

Fimela.com, Jakarta - Balita seringkali menghadapi tantangan besar dalam mengungkapkan emosi mereka secara verbal karena keterbatasan kosakata dan kemampuan mengelola perasaan. Kondisi ini membuat peran orangtua sangat krusial dalam membimbing anak untuk mengenali, memahami, dan mengekspresikan emosi secara sehat sejak usia dini. Dengan stimulasi yang tepat, anak dapat mengembangkan kecerdasan emosional yang kuat.

Mengekspresikan emosi adalah bagian penting dari perkembangan anak yang sehat, memungkinkan mereka untuk tumbuh menjadi individu yang stabil secara emosional. Kemampuan ini tidak hanya tentang mengenali perasaan, tetapi juga memahami dan mengelolanya dengan baik.

Anak-anak yang mampu mengekspresikan emosinya dengan baik akan lebih mudah mengelola stres, berinteraksi dengan orang lain, dan membangun rasa percaya diri yang kuat. Kecerdasan emosional juga berperan penting dalam mendukung prestasi anak di sekolah dan membantu mereka membangun hubungan yang kuat.

Membangun Pondasi Komunikasi Emosi Sejak Dini

Sahabat Fimela, langkah pertama dalam membantu balita mengekspresikan perasaannya adalah dengan membangun pondasi komunikasi emosi yang kuat. Balita perlu diajari kata-kata untuk setiap perasaan yang mereka alami, seperti “senang”, “sedih”, “marah”, atau “takut”. Pada usia dini, anak-anak mungkin mengalami emosi tanpa tahu bagaimana mengungkapkannya, sehingga peran orang tua sangat penting untuk membantu mereka mengenali emosi tersebut dengan memberinya nama.

Gunakan ekspresi wajah dan gambar untuk membantu balita mengerti hubungan antara perasaan dan cara mengekspresikannya. Anda juga bisa menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai agar anak dapat menghubungkan kata dengan emosi yang dirasakan.

Saat membaca buku atau menonton acara TV, diskusikan perasaan tokoh dalam cerita dengan bertanya, “Menurutmu, bagaimana perasaannya saat ini?” Kemudian, diskusikan berbagai perasaan yang mungkin dialami karakter tersebut dan alasannya.

Setelah mengajarkan nama-nama emosi, Moms bisa melanjutkan dengan mengajari balita untuk mengutarakan penyebab perasaannya. Hal ini penting supaya tidak ada lagi kebingungan karena anak menangis atau tantrum tanpa alasan. Selain mengenali emosi pada dirinya sendiri, si Kecil juga perlu memahami perasaan orang lain agar tidak menjadi pribadi yang egois dan mau mengerti kondisi orang di sekitarnya.

Menjadi Teladan dan Pendengar Aktif bagi Balita

Menjadi pendengar yang baik dan memberikan empati adalah kunci penting dalam membantu balita mengekspresikan perasaannya. Ketika anak mulai bercerita, berikan perhatian penuh tanpa menghakimi atau memotong pembicaraan. Anak yang merasa didengar akan lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya.

Validasi perasaan anak dengan mengakui dan menyebutkan perasaan yang mungkin dirasakan anak. Misalnya, “Kamu kelihatan sedih ya karena mainannya rusak.” Anak-anak umumnya belum bisa memproses dan membuat hubungan tentang apa penyebab dari reaksi yang mereka rasakan, sehingga validasi ini sangat membantu. Bahkan ketika si kecil menangis setelah mendapat goresan kecil, validasi perasaannya dengan mengatakan, “Mama tahu kamu sedih, tapi tidak apa-apa, kok. Mama di sini.”

Orangtua adalah figur utama yang diamati anak, sehingga penting untuk memodelkan ekspresi emosi yang sehat. Tunjukkan bagaimana Anda merespons stres, kemarahan, atau kesedihan dengan cara yang sehat. Misalnya, ketika Moms merasa marah, Moms bisa menarik napas sejenak atau meminum segelas air, lalu menyampaikan emosi kepada anak dengan cara yang tepat.

Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di rumah dengan memberikan perhatian penuh, memeluk mereka, dan mendengarkan dengan seksama. Lingkungan yang penuh kasih sayang akan membuat anak merasa dihargai dan dicintai, yang dapat mendukung perkembangan emosional yang sehat.

Mengelola dan Menormalisasi Emosi Negatif

Mengajarkan cara mengelola dan menenangkan diri adalah keterampilan vital bagi balita. Ibu bisa membantu anak dengan mengajarkan mereka teknik relaksasi sederhana, seperti menarik napas dalam-dalam atau menghitung hingga sepuluh sebelum bertindak. Ini membantu mereka memiliki alat untuk meredakan emosi yang kuat.

Berikan alternatif untuk menyalurkan emosi yang kuat. Misalnya, daripada melempar mainan, Anda bisa menyarankan, “Daripada melempar mainan, kamu bisa meremas bantal ini saat marah.” Saat buah hati sedang mengalami suatu emosi, ajaklah ia untuk bernegosiasi tentang hal yang ia inginkan dan keputusan terbaik yang harus diambil.

Jangan takut membahas emosi negatif, Sahabat Fimela. Anak perlu tahu bahwa merasa marah, kecewa, atau takut adalah hal yang wajar dan bagian dari kehidupan. Normalisasi emosi negatif membantu anak memahami bahwa semua perasaan itu valid dan dapat dikelola.

Terakhir, berikan pujian pada si Kecil saat ia berhasil menyampaikan emosinya dengan cara yang tepat. Misalnya, Moms bisa berikan apresiasi dengan kata-kata seperti, “Mama senang sekali adik bisa bilang pada kakak kalau kamu tidak suka dengan cara yang baik.” Ini menunjukkan bahwa perasaan itu normal dan boleh diungkapkan, serta menegaskan cara yang tepat untuk melakukannya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading